Mahasiswa Unila Bikin Insinerator, Atasi Bakar Sampah Minim Asap

- Mahasiswa KKN Universitas Lampung membangun insinerator untuk membantu warga Dusun 2, Desa Margo Lestari, mengurangi asap dari kebiasaan membakar sampah secara terbuka.
- Insinerator dirancang tertutup dengan tiga lapisan dan ventilasi udara, membuat pembakaran lebih cepat, suhu tinggi, serta asap dan abu lebih terkendali.
- Sampah kaca dan karet tidak disarankan dibakar karena berpotensi menimbulkan asap hitam; warga menilai alat ini efektif mengurangi polusi dan menata pengelolaan sampah dusun.
Lampung Selatan, IDN Times - Kebiasaan membakar sampah secara terbuka masih menjadi cara utama warga Dusun 2, Desa Margo Lestari, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, dalam mengelola limbah rumah tangga dan ladang. Minimnya fasilitas tempat pembuangan membuat asap pekat kerap muncul saat proses pembakaran dilakukan.
Merujuk dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode I 2026 dari Universitas Lampung membangun insinerator, yakni alat pembakaran sampah sistem tertutup yang dirancang untuk meminimalkan asap.
1. Warga terbiasa membakar sampah

Ketua tim KKN, Fahmi Daris, mengatakan solusi yang dipilih bukan menghapus kebiasaan warga, melainkan memperbaiki metodenya agar lebih aman dan terkontrol.
"Kami melihat masyarakat memang sudah terbiasa membakar sampah karena tidak ada fasilitas lain. Kalau dibiarkan, asapnya bisa mengganggu dan sampah juga bisa menumpuk. Jadi kami mencoba membuat sistem yang lebih tertutup dan minim asap,” ujarnya.
Menurut Fahmi, konsep insinerator tersebut dirancang setelah melalui diskusi internal tim serta komunikasi dengan aparatur desa, dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat setempat.
2. Sampah cepat habis dan asapnya terkendali

Fahmi menjelaskan, insinerator dibuat menyerupai tungku pembakaran tertutup yang dilengkapi ventilasi udara dan cerobong asap. Alat ini terdiri dari tiga lapisan, yakni ruang ventilasi sekaligus penampung abu di bagian bawah, ruang bahan bakar di bagian tengah, dan ruang pembakaran sampah di bagian atas.
“Sistem tertutup ini membuat suhu pembakaran lebih tinggi sehingga sampah lebih cepat habis dan asapnya lebih terkendali. Abu juga langsung tertampung di bagian bawah,” jelasnya.
Dalam proses pembuatannya, tim menggunakan material tahan panas seperti hebel dan besi berdiameter 8 milimeter. Pengerjaan dilakukan bersama aparatur desa dan warga yang memiliki pengalaman di bidang konstruksi. Kapasitas insinerator dirancang cukup besar agar dapat digunakan beberapa rumah tangga sekaligus.
3. Sampah berbahan kaca dan karet tidak dianjurkan

Fahmi menambahkan, tidak semua jenis sampah dapat dibakar menggunakan alat tersebut. Sampah berbahan kaca dan karet tidak dianjurkan karena berpotensi menimbulkan asap hitam, terutama pada tahap awal pembakaran.
Setelah uji coba, tim KKN melakukan demonstrasi penggunaan kepada warga. Salah satu warga Dusun 2, Sustian, menilai alat tersebut membantu mengurangi kepulan asap dibandingkan pembakaran terbuka.
“Kalau pakai ini asapnya tidak sebanyak biasanya dan sampah tidak lama menumpuk. Lebih rapi,” katanya.
Melalui insinerator tersebut, mahasiswa KKN berharap pengelolaan sampah di tingkat dusun dapat berjalan lebih tertata dan mengurangi dampak polusi dari pembakaran terbuka yang selama ini dilakukan warga.


















