Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemarau Sebentar Lagi, Masyarakat Lampung Diimbau Waspada Pancaroba
ilustrasi musim pancaroba (freepik.com/photoangel)
  • BMKG mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem selama masa pancaroba Maret-Mei 2025
  • Perubahan cuaca ekstrem dapat ganggu kehidupan sehari-hari, termasuk hujan lebat, petir, angin kencang, puting beliung, dan bahkan hujan es
  • Pancaroba juga meningkatkan risiko banjir bandang, tanah longsor, dan munculnya hama tanaman serta penyakit pada hewan ternak
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Selatan, IDN Times - BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II mengimbau masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem selama masa pancaroba atau peralihan musim hujan ke kemarau pada Maret-Mei 2025.

Berdasarkan peta prediksi awal musim kemarau 2025, wilayah Lampung akan memasuki musim kemarau mulai dasarian III April hingga II Juni. Artinya, fase pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau akan terjadi sekitar Maret hingga Mei 2025.

Pada periode tersebut, perubahan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, angin kencang, puting beliung, dan bahkan hujan es sering terjadi dan dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari.

"Musim kemarau sebentar lagi, waspada cuaca ekstrem saat pancaroba! Fase peralihan musim hujan ke kemarau pada Maret-Mei 2025, sering kali diiringi cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai," ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Meteorologi Lampung, Rudi Harianto, Senin (7/4/2025).

1. Potensi hujan lebat mendadak

ilustrasi hujan (pexels.com/Pixabay)

Selama fase pancaroba, Rudi menjelaskan, perubahan pola angin dan suhu udara memicu aktivitas konveksi yang intens hingga memicu terjadinya hujan lebat secara mendadak. Kondisi ini sering kali disertai dengan angin kencang, petir, es dan bahkan puting beliung.

Fenomena ini dapat menyebabkan pohon tumbang, atap rumah beterbangan, serta gangguan pada aktivitas penerbangan dan pelayaran. "Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap perubahan cuaca mendadak dan menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan petir," katanya.

2. Rawan banjir dan longsor

Penampakan banjir di Bandar Lampung 22-23 Februari 2025. (Dok. Walhi Lampung).

Meskipun musim hujan di Provinsi Lampung akan segera berakhir, Rudi melanjutkan, cuaca hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat masih bisa terjadi selama fase pancaroba.

Alhasil, kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor, terutama di daerah dengan kemiringan tinggi atau wilayah dengan sistem drainase yang buruk seperti Kota Bandar Lampung.

"Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir maupun longsor, penting untuk tetap waspada dan memastikan saluran air tidak tersumbat guna mengurangi risiko genangan air," imbuhnya.

3. Bisa gangguan kondisi kesehatan dan serangan hama petani

Seorang petani memakai mesin modern saat panen gabah (IDN Times/Fariz Fardianto)

Rudi menambahkan, fase pancaroba juga ditandai dengan perubahan suhu yang drastis, dari udara panas terik di siang hari ke suhu lebih dingin di malam hari. Perubahan ini dapat memicu flu, batuk, gangguan pernapasan, hingga dehidrasi.

Sehingga disarankan untuk tetap menjaga daya tahan tubuh dengan cukup minum air, mengonsumsi makanan bergizi, dan tidak terlalu sering terpapar perubahan suhu ekstrem.

"Bagi para petani juga perlu mewaspadai kemunculan hama tanaman seperti wereng dan ulat yang cenderung meningkat saat musim pancaroba. Selain itu, penyakit yang menyerang hewan ternak seperti flu burung atau penyakit kulit pada sapi juga bisa muncul," kata dia.

Editorial Team

Related Article