Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi overthinking (magnific.com/magnific)
  • Overthinking perlu diperhatikan saat mengganggu rutinitas, produktivitas, fokus, atau kualitas tidur akibat pikiran yang terus berulang dan sulit dihentikan.
  • Kecemasan terkait overthinking dapat memicu keluhan fisik seperti jantung berdebar, tegang, sakit kepala, dan gangguan pencernaan; nyeri dada atau sesak napas perlu diperiksa medis.
  • Bantuan psikolog atau psikiater dapat dicari ketika seseorang menarik diri, kewalahan mengendalikan pikiran, atau mengalami tekanan emosional; pikiran menyakiti diri memerlukan pertolongan segera.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa pikiran tidak berhenti bekerja, bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah ingin beristirahat? Hal-hal kecil yang belum tentu terjadi bisa terus dipikirkan. Percakapan sederhana dengan orang lain diulang-ulang dalam kepala, sementara keputusan yang seharusnya mudah justru terasa begitu sulit diambil.

Kondisi ini sering disebut overthinking atau berpikir berlebihan. Sesekali memikirkan sesuatu secara mendalam sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kebiasaan tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga kualitas tidur, ada baiknya seseorang mulai memperhatikan kondisi mentalnya.

Overthinking bukan diagnosis gangguan kesehatan mental. Akan tetapi, pola pikir yang terus berulang dan sulit dikendalikan terkadang berkaitan dengan kecemasan atau masalah psikologis lainnya.

Kapan overthinking perlu mendapatkan bantuan profesional? Berikut lima tanda perlu diperhatikan.

1. Pikiran berlebihan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari

Ilustrasi overthinking (magnific.com/magnific)

Salah satu tanda perlu diperhatikan adalah ketika overthinking membuat seseorang kesulitan menjalankan rutinitas. Misalnya, terlalu lama memikirkan keputusan sederhana sampai pekerjaan terbengkalai atau kehilangan fokus ketika sedang beraktivitas.

Seseorang mungkin terus membayangkan berbagai kemungkinan buruk, meskipun belum ada bukti bahwa hal tersebut akan terjadi. Akibatnya, energi mental lebih banyak terkuras untuk memikirkan sesuatu daripada menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.

Jika kondisi ini berlangsung berulang kali dan mulai memengaruhi produktivitas, bantuan psikolog atau psikiater dapat dipertimbangkan.

2. Mengalami gangguan tidur karena sulit menghentikan pikiran

Ilustrasi seseorang yang sudah tidur namun tetap merasa cape (pexels.com/cottonbro studio)

Malam hari seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat. Namun, bagi orang yang mengalami overthinking, suasana tenang justru bisa membuat pikiran semakin ramai.

Berbagai kejadian pada siang hari mungkin kembali diputar dalam kepala. Ada yang terus memikirkan kesalahan masa lalu, mengkhawatirkan pekerjaan esok hari, atau membayangkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Jika pikiran tersebut membuat seseorang sulit tidur, sering terbangun, atau merasa tidak segar ketika bangun pagi, kondisi ini perlu diperhatikan.

Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus juga dapat memperburuk suasana hati dan kemampuan seseorang dalam mengelola stres.

3. Kecemasan mulai memunculkan keluhan fisik

ilustrasi lelah meski sudah tidur cukup (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Overthinking yang berkaitan dengan kecemasan tidak selalu hanya dirasakan melalui pikiran. Dalam beberapa kondisi, tubuh juga dapat menunjukkan respons fisik.

Beberapa keluhan yang mungkin muncul antara lain jantung berdebar, otot terasa tegang, berkeringat, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan. Respons tersebut dapat berkaitan dengan aktivasi sistem stres tubuh ketika seseorang merasa terancam atau khawatir secara berlebihan.

Namun, keluhan fisik tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat overthinking. Jika mengalami gejala mengganggu, terutama nyeri dada atau sesak napas, sebaiknya lakukan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya.

4. Mulai menarik diri dari lingkungan sosial

ilustrasi rendah diri (pexels.com/Andrew Neel)

Terlalu banyak memikirkan penilaian orang lain dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika berinteraksi. Bahkan, percakapan biasa bisa memunculkan kekhawatiran berlebihan tentang apakah dirinya mengatakan sesuatu yang salah.

Lama-kelamaan, seseorang mungkin memilih menghindari pertemuan, membatasi komunikasi, atau menolak kesempatan baru karena takut melakukan kesalahan dan mendapat penilaian negatif.

Jika kebiasaan menarik diri mulai mengganggu hubungan dengan keluarga, teman, maupun pasangan, kondisi tersebut layak mendapatkan perhatian.

Psikolog dapat membantu seseorang mengenali pola pikir yang mendasari kekhawatiran tersebut sekaligus melatih cara menghadapi situasi sosial dengan lebih sehat.

5. Merasa tidak mampu mengendalikan pikiran sendiri

Ilustrasi rendah diri (pexels.com/shvetsa)

Tanda lainnya adalah ketika seseorang sudah berusaha mengalihkan perhatian, tetapi pikirannya tetap kembali pada persoalan yang sama.

Berbagai cara mungkin sudah dicoba, seperti menonton film, bermain media sosial, melakukan aktivitas fisik, atau berbicara dengan teman. Namun, rasa khawatir tetap muncul dan sulit dikendalikan.

Jika kondisi tersebut berlangsung cukup lama, menimbulkan tekanan emosional, atau membuat seseorang merasa kewalahan, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang tepat.

Psikolog dapat membantu melalui konseling dan pendekatan terapi, seperti cognitive behavioral therapy (CBT), untuk mengenali pola pikir negatif serta membangun respons yang lebih adaptif.

Sementara itu, psikiater merupakan dokter spesialis yang dapat melakukan evaluasi medis, memberikan diagnosis, dan mempertimbangkan pengobatan jika memang diperlukan.

Meminta bantuan profesional bukan berarti seseorang lemah atau tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Justru, mengenali batas kemampuan diri merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan mental.

Tidak ada aturan seseorang harus mengalami gangguan berat terlebih dahulu sebelum berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Jika pikiran berlebihan sudah menimbulkan tekanan dan mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan dapat dicari kapan saja.

Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, jangan menghadapinya sendirian. Segera cari pertolongan dari tenaga kesehatan, layanan gawat darurat, atau orang tepercaya yang bisa mendampingi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article