Jejak Leluhur Abad ke-14, Keramat Cangkuang Diusulkan jadi Aset Lamsel

- Situs Keramat Cangkuang di Penengahan diyakini sebagai makam Puyang Singa Langkung, tokoh abad ke-14 yang berperan membentuk tatanan masyarakat adat Marga Dantaran di kawasan Gunung Rajabasa.
- Masyarakat adat Marga Dantaran berharap pemerintah daerah mengelola dan melestarikan situs Keramat Cangkuang agar warisan sejarah serta budaya leluhur tetap terjaga secara berkelanjutan.
- Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menegaskan komitmennya menjaga dan memperkenalkan warisan sejarah leluhur kepada generasi muda sebagai bagian dari pelestarian budaya daerah.
Lampung Selatan, IDN Times - Jejak sejarah Lampung Selatan diyakini masih tersimpan di kawasan Keramat Cangkuang, Kecamatan Penengahan. Di lokasi ini terdapat Makam Keramat Leluhur Puyang Singa Langkung, tokoh yang dipercaya masyarakat adat Marga Dantaran memiliki peran penting dalam pembentukan tatanan masyarakat di kawasan Gunung Rajabasa sejak sekitar abad ke-14.
Nilai sejarah situs tersebut kembali menjadi perhatian saat Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama saat berziarah ke makam leluhur tersebut. Dalam kunjungan itu, muncul harapan agar Keramat Cangkuang dapat dikelola pemerintah daerah sehingga warisan sejarah dan budaya tersebut tetap terjaga untuk generasi mendatang.
1. Situs bersejarah diyakini terkait leluhur abad ke-14

Tokoh adat dan keluarga besar Marga Dantaran memaparkan sejarah singkat Puyang Singa Langkung yang memiliki gelar adat Ratu Gusti Sakti. Tokoh tersebut diyakini sebagai salah satu leluhur yang berperan dalam pembentukan tatanan masyarakat di kawasan Gunung Rajabasa, khususnya wilayah adat Marga Dantaran.
Masyarakat setempat meyakini Puyang Singa Langkung tiba di wilayah tersebut sekitar abad ke-14 dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Lampung Selatan. Situs makam yang diziarahi juga berada di kawasan pemakaman kuno yang dahulu dikenal sebagai Keramat Cangkuang, merujuk pada keberadaan Pohon Cangkuang berukuran besar yang pernah tumbuh di lokasi tersebut.
2. Masyarakat adat berharap Keramat Cangkuang dikelola pemerintah

Kehadiran Bupati Lampung Selatan disambut melalui prosesi adat oleh Pangeran Naga Beringsang, Dalom Singa Langkung, Silom Singa Langkung, serta jajaran kakhya dan punggawa adat Marga Dantaran. Dalam sambutan adat, perwakilan masyarakat adat, Dalom Kusuma Ratu, mengaku kunjungan tersebut menjadi momen bersejarah bagi masyarakat setempat.
“Suatu kehormatan bagi kami. Baru kali ini kami disambangi seorang bupati. Terima kasih kepada bapak bupati yang dengan kerendahan hati berkenan hadir langsung ke tempat yang sangat bersejarah bagi kami,” ujar Dalom Kusuma Ratu.
Tokoh adat dan keluarga besar Marga Dantaran menyampaikan harapan agar Makam Keramat Puyang Singa Langkung atau yang dikenal sebagai Keramat Cangkuang dapat dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Langkah tersebut dinilai penting agar situs bersejarah tersebut mendapatkan perlindungan, perawatan, dan pelestarian yang lebih optimal secara berkelanjutan.
3. Bupati Egi komitmen menjaga warisan sejarah

Menanggapi aspirasi masyarakat adat, Bupati Egi menyatakan pelestarian budaya dan sejarah daerah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga lintas generasi. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenal lebih dekat sejarah para leluhur Lampung Selatan setelah menerima adok dari Marga Dantaran.
“Saya selama di Lampung Selatan mungkin belum banyak mengetahui tentang para leluhur di sini. Namun melalui momentum 1 Muharam kemarin, hal itu mulai terbuka. Dan secara qadarullah saya telah dianugerahi adok dari Marga Dantaran. Maka sudah menjadi keharusan bagi saya untuk datang berziarah ke sini,” kata Bupati Egi.
Terkait permohonan pengelolaan Makam Keramat Leluhur Puyang Singa Langkung oleh pemerintah daerah, Egi berkomitmen untuk merealisasikan harapan tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah. Ia juga mengingatkan pentingnya memperkenalkan sejarah dan identitas leluhur kepada generasi muda.
“Harapan saya, seluruh masyarakat dapat terus merawat budaya dan menjaga kerukunan antarmarga. Generasi muda harus memahami sejarah dan mengenal siapa leluhurnya. Dengan begitu mereka memiliki pegangan yang kuat dalam menggapai cita-cita. Lampung Selatan sangat kaya akan budaya dan adat istiadat yang bernilai tinggi, dan menjadi tugas kita bersama untuk mewariskannya kepada anak cucu,” harapnya.


















