Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Itera Olah Rambut Jagung jadi Teh Herbal untuk Produk UMKM
Itera dan mahasiswa KKN kenalkan inovasi produk herbal pada pelaku UMKM Program Keluarga Harapan (PKH) Lampung Selatan (dok. Itera)
  • Tim dosen Itera dan mahasiswa KKN melatih UMKM PKH Desa Branti Raya mengolah bahan lokal, termasuk rambut jagung, kelor, jahe, sereh, dan lerak, menjadi produk bernilai tambah.
  • Peserta mendapat edukasi kesehatan serta demonstrasi dan praktik pembuatan sabun vegan lerak, teh herbal kelor-rambut jagung, dan minuman serbuk jahe.
  • Rambut jagung yang sebelumnya belum dimanfaatkan dinilai paling menarik sebagai teh herbal; program PMLK Itera 2026 ditujukan mendukung pengembangan produk dan pemasaran UMKM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Rambut jagung biasanya hanya berakhir sebagai limbah setelah jagung dipanen. Tapi di tangan warga Desa Branti Raya, Lampung Selatan, bagian tanaman yang kerap dibuang itu justru dikenalkan sebagai bahan teh herbal yang punya peluang jadi produk usaha.

Tak hanya rambut jagung, daun kelor, jahe, hingga buah lerak juga diperkenalkan sebagai bahan yang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah. Inovasi ini dikenalkan tim dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama mahasiswa KKN kepada pelaku UMKM Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Branti Raya, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Lewat kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), peserta tak hanya mendapat penjelasan soal potensi bahan lokal, tetapi juga diajak melihat langsung proses pengolahannya. Mulai dari sabun vegan, teh herbal, hingga minuman serbuk instan.

1. Kenalkan potensi bahan di sekitar jadi produk ekonomis

Mahasiswa Itera Mengajarkan Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Daun Kelor Kepada Kader Posyandu Desa Banjar Agung untuk Mencegah Stunting (Dok. Itera)

Ketua Tim Pk Refsya Azanti Putri mengatakan, banyak bahan di lingkungan masyarakat yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Seperti daun kelor, rambut jagung, dan jahe. Menurutnya, bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk seperti teh herbal dan minuman serbuk instan.

Disampaikan Refsya, kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan manfaat bahan alam, tetapi juga memberikan pengetahuan mengenai proses pengolahannya agar dapat dikembangkan menjadi produk yang berpotensi dipasarkan.

2. Daun kelor dan jahe punya peluang jadi produk minuman

Itera dan mahasiswa KKN kenalkan inovasi produk herbal pada pelaku UMKM Program Keluarga Harapan (PKH) Lampung Selatan (dok. Itera)

Refsya mengatakan, kegiatan diawali dengan edukasi mengenai kesehatan dan pengenalan sabun vegan berbahan lerak. Peserta kemudian mendapat penjelasan mengenai potensi daun kelor, jahe, sereh, dan rambut jagung sebagai bahan minuman herbal.

Tim PkM dan mahasiswa KKN juga mendemonstrasikan tahapan pembuatan produk. Peserta terlebih dahulu menyaksikan video proses pembuatan sabun lerak, teh herbal daun kelor dan rambut jagung, serta minuman serbuk jahe, kemudian mengikuti praktik pengolahan bahan.

"Kami berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada kemampuan mengolah bahan, tetapi dapat dilanjutkan dengan pengembangan produk dan pemasaran sehingga memberikan nilai ekonomi bagi UMKM PKH Desa Branti Raya," ujarnya.

3. Rambut jagung jadi bahan paling menarik

Mahasiswa Itera Mengajarkan Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Daun Kelor Kepada Kader Posyandu Desa Banjar Agung untuk Mencegah Stunting (Dok. Itera)

Ketua Pendamping PKH Desa Branti Raya, Eka Susi Wahyuni menilai inovasi tersebut sesuai dengan potensi bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat. Salah satunya rambut jagung yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.

“Teh herbal dari rambut jagung menarik karena selama ini rambut jagung dari hasil perkebunan warga belum dimanfaatkan. Pengolahannya menjadi produk dapat membuka peluang baru bagi masyarakat,” ujar Eka.

Program yang didanai Itera melalui skema Program Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Kepakaran (PMLK) Tahun Anggaran 2026 tersebut melibatkan dosen dari Program Studi Farmasi dan Kimia serta tujuh mahasiswa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article