Inflasi Juni 2026 Lampung 0,55 Persen, Bensin Pemicu Terbesar

- Inflasi bulanan Lampung Juni 2026 tercatat 0,55 persen, dengan bensin sebagai penyumbang terbesar sebesar 0,21 persen dan kelompok transportasi mencatat inflasi tertinggi 2,30 persen.
- Secara tahunan, inflasi Lampung mencapai 2,46 persen; kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberi andil terbesar 1,75 persen, sementara Pendidikan alami deflasi terdalam hingga 17,93 persen.
- Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Mesuji sebesar 3,25 persen dan terendah di Kota Bandar Lampung sebesar 2,08 persen; secara bulanan tertinggi di Lampung Timur.
Bandar Lampung, IDN Times - Bensin menjadi pemicu terbesar andil inflasi bulanan Provinsi Lampung periode Juni 2026. Andil bahan bakar terhadap inflasi sebesar 0,21 persen dari total keseluruah inflasi Juni 2026 diangka 0,55 persen.
Kelompok pengeluaran lain yang turut menyumbang andil inflasi bulanan cukup signifikan adalah kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sebesar 0,89 persen dengan besaran andil 0,05 persen. Selain itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan inflasi 0,61 persen dan andil 0,04 persen.
1. Ini penyumbang utama inflasi Juni 2026 Lampung

Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M Sabiel Adi Prakasa menjelaskan, bila dirinci menurut kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi secara bulanan terjadi pada kelompok Transportasi sebesar 2,30 persen, yang sekaligus memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 0,24 persen.
Lima komoditas utama pemicu andil inflasi secara bulanan pada Juni 2026 adalah bensin dengan andil 0,21 persen, diikuti oleh bawang merah (0,07 persen), tomat (0,05 persen), bawang putih (0,04 persen), dan minyak goreng (0,02 persen).
Sebaliknya, lima komoditas yang berperan sebagai buffer laju inflasi adalah cabai merah dengan andil deflasi hingga -0,03 persen, disusul telur ayam ras (-0,02 persen), cabai rawit (-0,02 persen), daging ayam ras (-0,02 persen), dan nugget (-0,02 persen).
2. Berapa presentase inflasi tahunan?

Sabiel mengatakan, jika dilihat secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), Provinsi Lampung mencatatkan inflasi sebesar 2,46 persen pada Juni 2026 dibandingkan Juni 2025. Capaian inflasi tahunan ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya (Juni 2025) yang mencapai 2,27 persen.
Jika dirinci berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 9,91 persen dengan andil 0,63 persen. Namun demikian, kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mencatatkan inflasi sebesar 5,19 persen dengan andil mencapai 1,75 persen.
Di sisi lain, kelompok Pendidikan menjadi kelompok dengan deflasi terdalam secara tahunan, yaitu sebesar 17,93 persen dengan andil deflasi mencapai 1,18 persen.
Secara komoditas, lima penyumbang andil inflasi tahunan terbesar pada Juni 2026 adalah emas perhiasan dengan andil 0,43 persen, disusul bensin (0,23 persen), minyak goreng (0,19 persen), daging ayam ras (0,19 persen), dan bawang merah (0,16 persen). Adapun lima komoditas yang menahan laju inflasi tahunan adalah tarif Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan andil deflasi -0,84 persen, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar -0,39 persen, makanan hewan peliharaan (-0,05 persen), telur ayam ras (-0,03 persen), dan celana panjang jeans pria (-0,02 persen).
3. Inflasi tertinggi Mesuji, terendah Bandar Lampung

BPS Provinsi Lampung juga memantau perkembangan inflasi di empat kabupaten/kota cakupan IHK. Pada Juni 2026, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Mesuji sebesar 3,25 persen (IHK 117,23), disusul Kota Metro sebesar 3,07 persen (IHK 110,73), dan Kabupaten Lampung Timur sebesar 2,93 persen (IHK 115,58).
Sementara itu, inflasi tahunan terendah tercatat di Kota Bandar Lampung, yakni sebesar 2,08 persen dengan nilai IHK 110,71. Jika dilihat secara bulanan, inflasi tertinggi dialami oleh Kabupaten Lampung Timur sebesar 0,90 persen, sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi di Kota Metro yang mencatatkan angka 0,29 persen.



















