Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Mayor Purn Subardi, Suarakan Kesejahteraan Veteran Lampung

Bandar Lampung
Cerita Mayor Purn Subardi, Suarakan Kesejahteraan Veteran Lampung
Mayor (Purn) Subardi (75) Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Lampung. (IDN Times/Istimewa).
  • Mayor (Purn) Subardi meniti karier TNI sejak 1974, bertugas di Timor Timur dan Irian Jaya, serta meraih prestasi menembak hingga menjadi perwira berpangkat Mayor sebelum pensiun 2006.
  • Sejak 2017, Subardi memimpin DPD LVRI Lampung. Anggota veteran terdaftar kini 218 orang, turun dari sekitar 500 orang akibat mayoritas veteran telah berusia sangat lanjut.
  • Subardi menilai tunjangan veteran sekitar Rp1,7 juta per bulan belum mencukupi kebutuhan, terutama pengobatan. Ia meminta perhatian tambahan dan mengajak generasi muda menjaga persatuan serta berprestasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Perjalanan hidup Mayor (Purn) Subardi tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pengabdian kepada negara. Hampir tiga dekade lebih mengenakan seragam TNI, ia pernah menjalani penugasan di Timor Timur, Irian Jaya hingga sejumlah wilayah di Sumatra.

Kini di usia sekitar 75 tahun, Subardi tak lagi memegang senjata. Ia justru melanjutkan pengabdiannya melalui organisasi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Subardi dipercaya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LVRI Provinsi Lampung sejak 2017. Momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, ia kembali mengingat perjalanan panjangnya sebagai prajurit, sekaligus menyuarakan harapan terhadap kesejahteraan para veteran.

  1. 1. Masuk TNI sebagai Tamtama

    IMG-20260812-WA0104.jpg
    Mayor (Purn) Subardi (75) Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Lampung. (IDN Times/Istimewa).

    Subardi mengawali karier militernya pada 1974 melalui jalur Tamtama. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia langsung mendapat penugasan pertamanya ke Timor Timur pada 1976.

    Saat itu, Timor Timur tengah dilanda konflik. Subardi bersama sejumlah prajurit lainnya ditugaskan untuk memperkuat pertahanan di wilayah setempat. "Jadi kami di sana untuk mengamankan saudara-saudara kita yang ada di sana," kenangnya dengan suara tertatih saat dihubungi IDN Times, Selasa (12/8/2026).

    Dalam penugasan tersebut, ia ditempatkan di Timor Timur sekitar satu tahun sebelum kembali ke Sumatra pada 1977. Atas penugasan tersebut, Subardi kemudian memperoleh Tanda Kehormatan Veteran Pembela Seroja. Sejak saat itu, perjalanan karier militernya terus berkembang.

    Dari Tamtama, ia mendapat kesempatan mengikuti Sekolah Bintara dan lulus dengan pangkat Sersan Dua (Serda). Subardi kemudian ditempatkan di Batalyon 141 di Muara Enim, Sumatra Selatan. Di tempat tersebut, kemampuannya dalam menembak mulai terlihat.

    "Waktu mengikuti latihan pemantapan batalyon, saya dianggap memiliki bakat dalam menembak. Selanjutnya saya mendapat pelatihan khusus di Puslatpur (Pusat Latihan Tempur) Baturaja," lanjut pria kini berdomisili di Kota Gajah, Lampung Tengah tersebut.

  2. 2. Prestasi menembak mengantarnya menjadi perwira

    ilustrasi menembak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
    ilustrasi menembak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Kemampuan menembak Subardi terus diasah. Pada 1980, ia dikirim mengikuti lomba tembak tingkat nasional di Bandung. Dalam kejuaraan tersebut, ia belum berhasil meraih prestasi. Namun, pelatihnya tetap mengirim Subardi agar memiliki pengalaman dan mental bertanding.

    "Komandan saya tahu kalau di Bandung itu banyak penembak-penembak mahir. Saya sudah dikasih tahu, 'Kamu kalah, cuma kamu tetap saya kirim supaya kamu punya mental bertanding'," katanya mengenang ucapan atasannya.

    Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Pada perlombaan berikutnya, Subardi berhasil menempati peringkat ketiga secara perorangan dalam kejuaraan tembak yang diikuti kontingen dari berbagai Kodam di Indonesia.

    Prestasinya semakin terlihat di tingkat Sumatra Selatan. Dari 1980 hingga 1984, ia mengaku tidak terkalahkan dalam berbagai lomba tembak digelar di Palembang dan diikuti peserta dari Jambi, Bengkulu, Palembang hingga Lampung. "Jadi saya termasuk punya prestasi menembak," sambung dia.

    Prestasi tersebut turut mengantarnya naik pangkat dari Serda menjadi Sertu. Pada 1984, Subardi resmi mengikuti seleksi Sekolah Perwira. Ia sempat kembali ditugaskan ke Timor Timur sebelum mengikuti tahap akhir seleksi atau Pantukhir di Bandung. Dari Dili, ia terbang ke Jakarta dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandung. "Alhamdulillah saya lulus," ujarnya.

    Pada 1985, Subardi masuk pendidikan perwira dan lulus pada 1986. Ia kemudian ditugaskan ke Batalyon 144 di Bengkulu. Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjadi komandan peleton hingga komandan kompi. Pada 1988, ia kembali mendapat penugasan ke Timor Timur.

  3. 3. Dari Timor Timur hingga Irian Jaya

    ilustrasi perang (unsplash.com/Bimo Luki)
    ilustrasi perang (unsplash.com/Bimo Luki)

    Pada 1990, Subardi kembali ditugaskan ke Lampung. Ia menjadi Komandan Kompi A di Gedong Tataan, kemudian dipercaya menjabat Kepala Seksi Logistik di Batalyon 143. Tak lama berselang, ia kembali menjalani penugasan ke Irian Jaya.

    Di wilayah tersebut, pasukan disebar ke sejumlah pos. Subardi harus mengunjungi pos-pos tersebut untuk melakukan koordinasi dengan pasukan yang berada di lapangan.

    "Kalau ke pos-pos menggunakan helikopter. Kita koordinasi dengan pilot-pilot yang ada di sana," ingatnya.

    Di Irian Jaya pula pangkatnya naik dari Letnan Satu menjadi Kapten. Sepulang dari penugasan tersebut, Subardi memilih jalur teritorial. Ia kemudian bertugas di Kodim 0411/Metro sebagai Kepala Seksi Operasi dan sempat menjadi Danramil Kota Metro.

    Pada sekitar 2000, ia dipindahkan menjadi Danramil Labuhan Maringgai. Setelah itu, Subardi ditarik kembali ke Kodim dan mendapat tugas sebagai anggota DPRD Lampung Timur melalui Fraksi TNI/Polri. Saat itu, anggota legislatif dari unsur TNI/Polri masih ditunjuk. Penugasan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan karier Subardi hingga pangkatnya naik dari Kapten menjadi Mayor.

    Tatkala unsur TNI/Polri tak lagi memiliki kursi di DPR pada 2004, Subardi ditarik kembali ke Kodam. Setahun kemudian, ia mengajukan pensiun dini. Namun prosesnya baru selesai pada 2006. "Saya resmi pensiun tahun 2006," sambung dia.

  4. 4. Dari prajurit menjadi Ketua LVRI Lampung

    IMG-20260812-WA0101.jpg
    Mayor (Purn) Subardi (75) Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Lampung. (IDN Times/Istimewa).

    Pascamenjalani masa pensiun, pengabdian Subardi tidak berhenti. Pada 2011, ia dipercaya menjadi Ketua LVRI Kabupaten Lampung Timur hingga 2017.  Setelah Ketua LVRI Lampung saat itu meninggal dunia, digelar Musyawarah Daerah. Subardi kemudian terpilih sebagai Ketua DPD LVRI Provinsi Lampung dan masih menjabat hingga sekarang.

    Menurutnya, LVRI Lampung saat ini memiliki satu DPD dan 11 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) yang tersebar di kabupaten/kota. Jumlah anggota veteran masih terdata juga terus menyusut seiring bertambahnya usia para veteran, yang mayoritas kini telah berusia lebih dari 100 tahun.

    "Untuk anggota veteran di Lampung secara keseluruhan yang terdaftar itu ada 218 orang. Tadinya cukup banyak, awal saya jadi ketua itu masih 500-an," ucap dia.

  5. 5. Tunjangan Rp1,7 juta per bulan, harap perhatian lebih

    ilustrasi Tunjangan Hari Raya (THR) (pexels.com/Robert Lens)
    ilustrasi Tunjangan Hari Raya (THR) (pexels.com/Robert Lens)

    Di balik status sebagai pejuang pernah mengabdikan hidup untuk negara, persoalan kesejahteraan masih menjadi perhatian LVRI Lampung. Subardi mengatakan, veteran saat ini mendapatkan dana kehormatan dan tunjangan veteran sekitar Rp1,7 juta setiap bulan.

    Menurut dia, tunjangan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah yang digagas pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mulai direalisasikan masa Joko 'Jokowi' Widodo. Namun dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan hidup terus meningkat, jumlah itu dinilai belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan para veteran, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan membutuhkan biaya pengobatan.

    "Kalau mau dibilang kurang, ya jelas kurang dengan kondisi dan kebutuhan yang terus meningkat saat ini," katanya.

    Subardi menyebut, para veteran sejak dulu memang terbiasa hidup sederhana. Mereka tidak berjuang dengan mengharapkan imbalan. "Dulu berjuang semata-mata untuk mendapatkan satu kemerdekaan dengan harapan anak cucu kita nanti bisa menikmati hasil daripada kemerdekaan," lanjut dia.

    Oleh karena itu, para veteran tetap menjalani kehidupan dengan prinsip nrimo ing pandum, menerima keadaan dengan lapang dada. Namun, ia berharap pemerintah maupun dunia usaha yang memiliki kemampuan lebih dapat memberikan perhatian tambahan dalam bentuk tali asih secara langsung kepada veteran.

    "Apalagi yang dalam kondisi sakit-sakit ini juga butuh biaya untuk berobat. Kalau memang pemerintah ada kelebihan dana, mau memberi tali asih, ya mungkin sangat diharapkan oleh anggota-anggota," ucapnya.

  6. 6. Tunjangan hanya sampai janda veteran

    ilustrasi tunjangan hari raya(pexels.com/bangunstockproduction)
    ilustrasi tunjangan hari raya(pexels.com/bangunstockproduction)

    Subardi mengatakan, LVRI Lampung memang mendapat dukungan pemerintah untuk menjalankan kegiatan organisasi. Pada 2026, LVRI Lampung mendapatkan bantuan Rp50 juta untuk kegiatan organisasi.

    Namun, bantuan tersebut digunakan untuk keperluan organisasi dan harus dipertanggungjawabkan dalam pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, dukungan langsung kepada veteran secara personal akan memiliki arti berbeda bagi para pejuang yang kini sebagian besar telah lanjut usia.

    "Kalau mungkin pemerintah punya anggaran lebih, terus mau menghormati para pejuangnya, memberikan (bantuan), saya selaku pengurus siap menyampaikan," kata dia.

    Bagi Subardi, bentuk perhatian tersebut bukan semata-mata soal nominal. Bantuan dapat membantu veteran memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun biaya pengobatan.

    Ia juga menjelaskan, tunjangan kehormatan bagi veteran yang masih hidup disalurkan melalui bank atau kantor pos. Untuk penerima yang menggunakan layanan kantor pos, veteran harus melakukan verifikasi dengan foto wajah sebagai bukti bahwa penerima masih hidup. "Untuk veteran yang meninggal dunia, tunjangan hanya dapat diteruskan kepada janda veteran, bukan kepada anak," jelas Subardi.

  7. 7. Titip pesan lanjutkan perjuangan

    Ilustrasi nasionalisme (Pexels.com/Rosyid Arifin)
    Ilustrasi nasionalisme (Pexels.com/Rosyid Arifin)

    Memasuki momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Subardi tidak ingin masyarakat hanya mengenang perjuangan para veteran melalui seremoni. Ia menitipkan pesan kepada generasi penerus agar menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

    Selain persatuan, Subardi juga mengajak masyarakat menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial. Menurutnya, masyarakat yang sudah hidup berkecukupan tidak boleh melupakan mereka yang masih kekurangan.

    Ia juga meminta generasi muda memperkuat nasionalisme di tengah keberagaman Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki kondisi geografis berupa ribuan pulau, masyarakat dengan beragam suku, bahasa, agama dan profesi. Keberagaman tersebut seharusnya menjadi kekayaan bangsa, bukan sumber perpecahan.

    "Kita harus bangga jadi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk generasi penerus, mari kita berprestasi untuk membanggakan Indonesia," ujarnya.

    Bagi Subardi, perjuangan memang telah berubah bentuk. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan senjata dan pengabdian di medan tugas, kini perjuangan generasi penerus adalah menjaga persatuan, berprestasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia. "Lanjutkan perjuangan," imbuh Subardi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More