Imlek 2026 Bandar Lampung, Wali Kota Ajak Warga Perkuat Toleransi

- Jaga toleransi: Wali Kota Bandar Lampung ajak warga perkuat toleransi dan semangat kebersamaan sebagai fondasi utama dalam membangun kota.
- Tahun Kuda Api: Imlek 2026 menandai Tahun Kuda Api, melambangkan kebebasan, kemandirian, dan energi positif yang membara untuk kebangkitan usaha dan karier.
- Imlek melampaui sekat: Perayaan Imlek dirasakan semua lapisan masyarakat, bukan hanya keturunan Tionghoa. Ritual pembersihan altar dan sembahyang leluhur menjadi simbol penting dalam menghubungkan generasi sekarang dengan para pendahulu.
Bandar Lampung, IDN Times – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung mengajak seluruh warga untuk memperkuat toleransi memperingati hari raya Imlek 2557 Kongzili, Selasa (17/2/2026).
Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana mengatakan perayaan kali ini tak sekadar seremoni, melainkan menjadi momentum memperkuat kerukunan antarwarga.
“Semoga Gong Xi Fa Cai tahun ini menjadi momentum yang lebih baik dari sebelumnya. Kita harus selalu rukun, saling menjaga, dan mendukung pembangunan demi masa depan Bandar Lampung yang terbaik,” ujarnya saat menyambangi Vihara Amurwa Bhumi Graha.
1. Jaga toleransi

Eva juga menegaskan pentingnya menjaga toleransi di tengah keberagaman masyarakat Kota Tapis Berseri.
"Semangat kebersamaan menjadi fondasi utama dalam membangun kota. Mari kita bersama-sama melakukan hal-hal baik. Toleransi adalah fondasi kita,” jelasnya.
2. Tahun Kuda Api, momentum kebangkitan

Rohaniwan vihara, Virya Parama atau yang akrab disapa Romo Cien Wie, menjelaskan Imlek 2026 menandai Tahun Kuda Api. Menurutnya, kuda melambangkan kebebasan dan kemandirian, sementara elemen api merepresentasikan energi positif yang membara.
“Kuda melambangkan kebebasan dan kemandirian, sedangkan elemen api mewakili energi positif yang membara. Ini momentum emas untuk kebangkitan usaha dan karier,” ungkapnya optimis.
Romo Cien Wie berharap, semangat Kuda Api tak hanya dimaknai sebagai keberuntungan pribadi, tetapi juga diarahkan untuk kebaikan bangsa dan daerah.
3. Imlek melampaui sekat

Di depan vihara para pedagang pasar hingga petugas kebersihan turut merasakan kebahagiaan Imlek. Bagi Romo Cien Wie, inilah esensi perayaan sesungguhnya. “Suhu ingin kebahagiaan Imlek dirasakan semua lapisan masyarakat, bukan hanya keturunan Tionghoa saja,” tuturnya.
Sejak 4 Februari, umat telah melakukan ritual pembersihan altar dan pratima sebagai simbol membersihkan batin dari hal-hal negatif di masa lalu. Selain itu, sembahyang leluhur menjadi salah satu rangkaian paling sakral.
Romo Cien Wie menyebut ritual ini sebagai “jembatan waktu” yang menghubungkan generasi sekarang dengan para pendahulu.
“Kami ingin generasi muda tidak lupa akan perjuangan para leluhurnya. Dengan akar yang kuat, masa depan akan lebih kokoh,” jelasnya.
















