Istilah Gentengisasi beberapa pekan ini ramai diperbincangkan setelah disampaikan oleh Presiden Prabowo. Terlepas dari siapa yang menggagasnya, gagasan ini seharusnya tidak dimaknai secara sempit sebagai program kosmetik perumahan.
Di Lampung, dari kawasan pesisir Bandar Lampung yang padat hingga rumah-rumah sederhana di Lampung Utara dan Tulang Bawang, gentengisasi justru membuka ruang diskusi yang lebih mendasar: bagaimana rumah-rumah kita bisa kembali “bernapas” di tengah tekanan iklim yang semakin terasa.
Selama ini, perbaikan rumah sering berhenti pada tampilan luar. Genteng diganti, warna diperbarui, rumah terlihat lebih rapi. Namun bagi banyak warga Lampung, persoalan utama hunian bukan soal tampilan, melainkan kenyamanan dan ketahanan.
Siang hari terasa semakin panas meski matahari tidak selalu terik, sementara hujan lebat kini sering datang singkat namun ekstrem. Genangan air muncul cepat di kawasan permukiman, bukan hanya di bantaran sungai, tetapi juga di lingkungan padat yang kehilangan ruang resapan. Dalam kondisi seperti ini, rumah seharusnya menjadi tempat berlindung, bukan justru ruang yang menambah beban hidup.
