Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gentengisasi dan Masa Depan Rumah Tropis di Lampung
ilustrasi genteng (unplash.com/Muhammed Zafer Yahsi)
  • Istilah Gentengisasi di Lampung memicu diskusi tentang pentingnya rumah tropis yang nyaman dan tangguh menghadapi perubahan iklim, bukan sekadar perbaikan tampilan luar bangunan.
  • Penelitian menunjukkan banyak rumah di Lampung terasa panas seperti “oven”, sehingga diperlukan desain dengan plafon tinggi, ventilasi silang, serta kanopi untuk menurunkan suhu ruang dalam.
  • Konsep Gentengisasi sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, mendorong hunian yang sejuk, tahan banjir, dan ramah lingkungan sebagai langkah adaptasi iklim dari tingkat rumah tangga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Istilah Gentengisasi beberapa pekan ini ramai diperbincangkan setelah disampaikan oleh Presiden Prabowo. Terlepas dari siapa yang menggagasnya, gagasan ini seharusnya tidak dimaknai secara sempit sebagai program kosmetik perumahan.

Di Lampung, dari kawasan pesisir Bandar Lampung yang padat hingga rumah-rumah sederhana di Lampung Utara dan Tulang Bawang, gentengisasi justru membuka ruang diskusi yang lebih mendasar: bagaimana rumah-rumah kita bisa kembali “bernapas” di tengah tekanan iklim yang semakin terasa.

Selama ini, perbaikan rumah sering berhenti pada tampilan luar. Genteng diganti, warna diperbarui, rumah terlihat lebih rapi. Namun bagi banyak warga Lampung, persoalan utama hunian bukan soal tampilan, melainkan kenyamanan dan ketahanan.

Siang hari terasa semakin panas meski matahari tidak selalu terik, sementara hujan lebat kini sering datang singkat namun ekstrem. Genangan air muncul cepat di kawasan permukiman, bukan hanya di bantaran sungai, tetapi juga di lingkungan padat yang kehilangan ruang resapan. Dalam kondisi seperti ini, rumah seharusnya menjadi tempat berlindung, bukan justru ruang yang menambah beban hidup.

Rumah yang tak lagi sejuk

Ilustrasi rumah subsidi (IDN Times/Dhana Kencana)

Sebagai arsitek, penulis melihat rumah bukan sekadar tumpukan bata dan atap. Rumah adalah ruang hidup. Namun dari riset yang penulis beserta tim lakukan di Kelurahan Pesawahan, Bandar Lampung, menunjukkan kenyataan yang perlu disikapi bersama.

Banyak rumah warga justru bekerja seperti “oven”. Tingkat kenyamanan termalnya bahkan ada yang hanya berada di kisaran 43 persen. Artinya, lebih dari separuh waktu yang dihabiskan di rumah berlangsung dalam kondisi panas yang melelahkan, mendorong penggunaan kipas dan pendingin udara secara terus-menerus, serta berdampak pada biaya listrik rumah tangga.

Genteng bukan jawaban tunggal

Deretan genteng produksi perajin asal Mayong Jepara tengah ditata oleh seorang penjual d toko Genteng Anugerah Genteng Medoho Gayamsari Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Di titik inilah gentengisasi seharusnya dimaknai ulang. Jangan berhenti pada mengganti genteng. Perhatikan sistem ruang di bawahnya. Hasil simulasi yang kami lakukan menunjukkan menaikkan ketinggian plafon hingga sekitar empat meter dapat meningkatkan kenyamanan secara signifikan.

Ruang vertikal memberi tempat bagi udara panas untuk naik dan menjauh dari area aktivitas manusia. Namun solusi ini tidak bisa diterapkan secara seragam.

Pada rumah-rumah kecil, terutama tipe 36 ke bawah yang banyak dijumpai di kawasan padat Lampung, plafon tinggi tanpa ventilasi yang memadai justru berisiko memerangkap panas. Karena itu, lubang angin di bagian atas dan aliran udara silang menjadi elemen kunci yang tidak boleh diabaikan.

Perlindungan bukaan juga sering luput dari perhatian. Penambahan kanopi atau shading sepanjang minimal 50 sentimeter di atas jendela terbukti mampu menurunkan suhu ruang dalam. Bagi rumah-rumah di Lampung yang memanjang ke arah Timur–Barat, perlindungan ini bukan sekadar tambahan, melainkan kebutuhan.

Matahari pagi dan sore datang dengan sudut rendah dan panas yang menyengat. Kanopi bekerja layaknya topi—sederhana, terjangkau, tetapi efektif melindungi ruang dalam.

Isu hunian di Lampung hampir selalu bersinggungan dengan banjir. Karena itu, rumah ramah lingkungan tidak cukup hanya sejuk, tetapi juga tangguh terhadap air.

Meninggikan sedikit elevasi lantai utama, terutama di area perabot berharga, dapat mengurangi kerugian saat hujan ekstrem datang. Sistem barrier portabel di pintu, dari papan atau plat logam sederhana, bisa menjadi solusi praktis yang dapat dipasang cepat ketika air mulai mengalir deras dari jalan ke dalam rumah.

Halaman rumah pun memegang peran penting. Menutup seluruh permukaan tanah dengan semen mungkin terlihat rapi, tetapi mempercepat genangan.

Menyisakan area tanah terbuka atau membuat lubang biopori sederhana memberi air hujan jalan pulang ke dalam tanah, bukan ke ruang tamu. Di kawasan permukiman Lampung yang padat, keputusan kecil seperti ini bisa berdampak besar.

Dari rumah Lampung ke agenda global

Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, upaya memperbaiki kualitas hunian seperti Gentengisasi sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya tujuan tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan (SDG 11), serta penanganan perubahan iklim (SDG 13). Rumah yang lebih sejuk, memiliki sirkulasi udara yang baik, dan mampu merespons banjir bukan hanya meningkatkan kualitas hidup penghuninya, tetapi juga menjadi bentuk adaptasi iklim di tingkat paling dasar: rumah tangga.

Di daerah seperti Lampung, di mana tekanan panas dan hujan ekstrem semakin nyata, pencapaian tujuan global tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi bisa berangkat dari keputusan desain sederhana di rumah-rumah warga. Rumah ramah lingkungan di Lampung tidak harus tampil futuristik seperti di media sosial.

Ia bisa hadir dalam bentuk rumah sederhana dengan plafon yang lega, kanopi jendela yang fungsional, dan halaman yang masih mampu “bernapas”. Gentengisasi adalah momentum penting. Jika dimaknai dengan tepat, dapat menjadi pintu masuk menuju hunian yang lebih sehat, lebih sejuk, dan lebih tangguh menghadapi realitas iklim Lampung hari ini.

Sebagai arsitek yang bekerja dan tinggal di Lampung, penulis percaya perubahan besar sering kali berawal dari keputusan kecil di rumah kita sendiri. Rumah tidak hanya perlu melindungi kita dari hujan, tetapi juga memberi ruang istirahat yang layak. Tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pendingin udara yang mahal dan boros energi.

Akademisi UBL dan Arsitek Lampung, Fritz Akhmad Nuzir. (Dok. UBL).

Ar. Dr.Eng. Fritz Akhmad Nuzir. S.T., M.A., IAI.

  • Direktur Center for Sustainable Development Goals Studies (SDGs Center) Universitas Bandar Lampung

  • Anggota Profesional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Lampung

Editorial Team