Ekonomi Lampung Triwulan II 2026 Tumbuh 5,29 Persen, Ini Analisis BI

- Ekonomi Lampung triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, melambat dari 5,58 persen pada triwulan sebelumnya, namun melampaui rata-rata Sumatra dan setara nasional.
- Pertumbuhan ditopang industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi; konsumsi rumah tangga tumbuh 4,86 persen, ekspor 4,12 persen, serta konsumsi pemerintah 12,80 persen.
- BI memprakirakan ekonomi Lampung 2026 tumbuh 5,0–5,6 persen, dengan risiko ketidakpastian global, gangguan cuaca, serta volatilitas harga pangan dan komoditas.
Bandar Lampung, IDN Times - Perekonomian Lampung Triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen year on year (yoy). Tapi, pertumbuhan tersebut sedikit melambat jika dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,58 persen (yoy).
Sedangkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp147,91 triliun. Apabila mengacu dasar harga konstan tahun 2010 mencapai Rp80,07 triliun.
Kinerja tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatra yang tercatat sebesar 5,06 persen (yoy), dan sama dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang juga sebesar 5,29 persen (yoy).
1. Ini penopang pertumbuhan ekonomi

Merujuk pertumbuhan ekonomi Lampung Triwulan II 2026, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto angkat bicara. Ia mengatakan, kinerja perekonomian Lampung yang tetap tinggi pada Triwulan II 2026 tercermin dari pertumbuhan sejumlah Lapangan Usaha (LU) utama.
Lapangan usaha yang dimaksud terutama LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta LU Konstruksi. Kontribusi tiga LU itu masing-masing tumbuh sebesar 6,99 persen (yoy), 7,98 persen (yoy), dan 6,57 persen (yoy).
"Akselerasi LU Industri Pengolahan didorong oleh penguatan industri makanan, di antaranya pengolahan gula, jagung, dan tapioka. Kinerja industri gula meningkat sejalan dengan dimulainya musim tebang dan giling tebu 2026 yang diawali pada April 2026, sehingga mendorong peningkatan output industri makanan di Lampung," jelasnya, Kamis (6/8/2026).
LU Industri Pengolahan imbuh Bimo, juga ditopang oleh panen raya jagung serentak di Lampung yang diawali pada Mei 2026, serta ekspansi pengolahan singkong di Lampung yang berkontribusi 70 persen dari total produksi nasional. Sementara itu, LU Perdagangan menguat sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri dan tetap kuatnya permintaan rumah tangga.
2. Lapangan usaha konstruksi juga moncer

Bagaimana dengan LU Konstruksi? Bimo menyatakan ditopang berlanjutnya proyek pemerintah dan swasta, termasuk percepatan pencapaian target Jalan Mantap dan telah selesainya pembangunan 631 unit KDKMP.
Begitu juga LU Transportasi dan Pergudangan serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga tumbuh masing-masing 5,16 persen (yoy) dan 5,96 persen (yoy), didukung peningkatan mobilitas dan aktivitas masyarakat selama HBKN Iduladha.
Di sisi lain, LU Pertanian mengalami perlambatan seiring normalisasi produksi tanaman padi pascaberakhirnya panen raya pada triwulan sebelumnya. Meskipun demikian, perlambatan tersebut tertahan oleh dimulainya musim tebang dan giling tebu pada triwulan berjalan.
3. Bagaimana kinerja konsumsi rumah tangga?

Dari sisi permintaan, Bimo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Lampung yang tetap tinggi pada Triwulan II 2026 terutama ditopang kinerja Konsumsi Rumah Tangga. Konsumsi Rumah Tangga tumbuh sebesar 4,86 persen (yoy).
Kondisi Itu didorong peningkatan konsumsi pada kelompok makanan dan minuman, perumahan, rekreasi, serta barang pribadi. Perkembangan tersebut juga didukung oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha pada Triwulan II 2026.
Selain itu, kinerja ekspor turut menopang pertumbuhan ekonomi dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,12 persen (yoy). Hal ini sejalan dengan peningkatan ekspor komoditas hasil penggilingan serta bahan bakar mineral dari Provinsi Lampung.
Sementara itu, Konsumsi Pemerintah tumbuh tinggi 12,80 persen (yoy) sejalan dengan meningkatnya realisasi program pemerintah, termasuk belanja pemerintah dalam biaya operasional dan inventaris KDKMP. Investasi tetap kuat meskipun melambat, terutama akibat penurunan investasi nonbangunan (seperti pembelian kendaraan untuk perdagangan), sementara investasi bangunan tetap meningkat didukung pembangunan jalan, 631 unit KDKMP, dan berbagai proyek swasta.
4. Pertumbuhan ekonomi Lampung 2026 diprakirakan 5,0–5,6 persen

Bank Indonesia memandang kinerja perekonomian Provinsi Lampung pada 2026 tetap solid, meskipun sejumlah risiko perlu terus dicermati. Pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 diprakirakan berada pada kisaran 5,0–5,6 persen.
Prakiraan itu ditopang tetap kuatnya permintaan domestik serta terjaganya permintaan eksternal. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan diprakirakan didukung oleh kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan seiring berlanjutnya program peningkatan produktivitas pangan, serta LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan Besar dan Eceran.
Kinerja berbagai LU itu ditopang oleh penguatan hilirisasi, permintaan domestik, dan aktivitas perdagangan. Kinerja LU Konstruksi juga diprakirakan tetap positif sejalan dengan berlanjutnya pembangunan proyek pemerintah dan swasta.
5. Ada tiga risiko perlu dicermati

Ke depan, risiko yang perlu dicermati terutama bersumber dari ketidakpastian global, gangguan cuaca, serta volatilitas harga pangan dan komoditas. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah dan seluruh pemangku kepentingan melalui tiga strategi utama.
Pertama, penguatan sektor primer dan stabilisasi harga melalui peningkatan produktivitas pertanian, penguatan rantai pasok hulu hingga hilir komoditas strategis, serta optimalisasi sinergi TPID dan GPIPS.
Kedua, peningkatan nilai tambah dan investasi sektor berdaya ungkit tinggi melalui penguatan hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan UMKM berorientasi ekspor, serta promosi proyek investasi potensial melalui IPRO.
Ketiga, percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah melalui penguatan ETPD dan perluasan transaksi nontunai guna meningkatkan efisiensi serta mendukung optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).


















