Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Stagnasi Ekonomi Lampung Disorot Wadirut MIND ID, Bak Lari di Treadmill

Bandar Lampung
3 min read
Stagnasi Ekonomi Lampung Disorot Wadirut MIND ID, Bak Lari di Treadmill
ilustrasi pria sedang melakukan treadmill di gym (pexels.com/William Choquette)
  • Dany Amrul Ichdan menilai ekonomi Lampung stagnan: PDRB naik 3,5 kali dalam 15 tahun, sementara kontribusi manufaktur tetap 17–20 persen dan sebagian besar hasil pertanian dijual mentah.

  • Ia mendorong kerangka DAI serta pengembangan tiga kawasan industri; program Bed Dryer di Pringsewu disebut memperkuat posisi tawar petani dengan mempercepat pengeringan gabah.

  • Guru Besar Unila Suharso menekankan universitas harus mengejar dampak akademik, mengubah riset menjadi solusi melalui kolaborasi kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Wakil Direktur Utama MIND ID yang juga putra daerah Lampung Dany Amrul Ichdan menyoroti stagnasi ekonomi Lampung. Ia menyebut, ekonomi Lampung terjebak dalam fenomena middle income trap atau seperti lari di atas treadmill.

Dani memaparkan, dalam 15 tahun PDRB Lampung hanya naik 3,5 kali, dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi Rp523 triliun pada 2025. Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Lampung 5,25 persen tertinggi di Sumatra, tapi kontribusi manufaktur stagnan di 17-20 persen.

"Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany saat orasi ilmiah Rapat Luar Biasa Senat dalam rangka Dies Natalis ke-61 Universitas Lampung (Unila), Rabu (23/9/2026) di Gedung Serbaguna Unila.

  1. 1. Ini akar masalah ekonomi Lampung

    ilustrasi akar masalah (pixabay.com/qimono)
    ilustrasi akar masalah (pixabay.com/qimono)

    Menurut Dany, akar masalah ekonomi Lampung stagnan adalah rantai nilai yang berhenti terlalu awal. Dari total produksi pertanian Lampung Rp190 triliun, baru Rp20 triliun-Rp30 triliun yang masuk industri. Sisanya Rp130 triliun masih dijual mentah.

    Padahal Lampung adalah juara nasional ubi kayu 7,9 ton (Rp10,6 triliun) peringkat 1; pisang Rp25,3 triliun peringkat 1; jagung peringkat 3, kopi robusta peringkat 2, dan lada hitam sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

  2. 2. Tawarkan solusi DAI

    ilustrasi solusi (pexels.com/Andrea Piacquadio)
    ilustrasi solusi (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Merujuk hal itu, Dany menawarkan solusi dengan kerangka DAI: Distinctive, Adaptive, Includive. Dari sisi Adaptive, ia mengapresiasi Pemprov Lampung yang membangun tiga kawasan industri strategis.

    Tiga kawasan itu yakni, Katibung sebagai kawasan energi terintegrasi dengan kilang 300 ribu bpd dan bioetanol jagung yang akan groundbreaking 2027,l. Serta KAIL II dan Rejosari sebagai fondasi agroindustri berbasis sorgum dan singkong.

    Dari sisi Includive, Dany menyoroti lemahnya posisi tawar petani. Ia memuji program Bed Dryer Pemprov Lampung, alat yang sudah terwujud di Pringsewu itu memangkas waktu pengeringan gabah dari 15 hari menjadi 10-12 jam, sehingga petani bisa menyimpan dan menunggu harga terbaik.

  3. 3. Universitas masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi

    wisuda bareng
    ilustrasi wisuda bareng (pexels.com/Tubagus Alief Leo)

    Selain Dany, orasi ilmiah disampaikan Guru Besar Unila, Suharso. Menurutnya, universitas masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi.

    “Masyarakat sekarang tidak hanya bertanya berapa banyak penelitian yang kita hasilkan, tetapi masalah apa yang berhasil kita selesaikan. Ukuran keberhasilan harus bergerak dari academic output menuju academic impact,” tegasnya.

    Suharso kemudian menegaskan posisi strategis Lampung sebagai Living Loboratory. Pada triwulan III 2025, sektor pertanian, kehutanan, perikanan menyumbang 28,38 persen ekonomi Lampung.

  4. 4. Banyak riset terhenti di publikasi

    Perbedaan jurnal sinta dan scopus
    ilustrasi publikasi jurnal ilmiah (unsplash/DocuSign)

    Masih terkait living laboratory, Suharso menyatakan, Lampung bukan hanya lokasi Unila. "Lampung adalah laboratorium Universitas Lampung. Setiap persoalan daerah adalah research question,” ujarnya.

    Ia mengingatkan banyak riset terhenti di publikasi. Padahal hilirisasi bukan sekadar komersialisasi, melainkan proses membawa ilmu dari laboratorium menuju kehidupan. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat.

    “Universitas kelas dunia bukan hanya yang dikenal dunia, tapi kontribusinya dibutuhkan dunia. Kita membangun pengetahuan dari Lampung, Inovasi untuk Indonesia, dan solusi bagi dunia,” jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More