Bandar Lampung, IDN Times – Keterbatasan sumber energi listrik masih menjadi tantangan di sejumlah kawasan wisata berbasis alam. Kondisi itu juga dihadapi Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi di Kabupaten Pesawaran yang selama ini mengandalkan pasokan listrik dari PLTA dan panel surya.
Melalui proyek skripsi, dua mahasiswa Program Studi Sistem Komputer/IoT Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya menghadirkan inovasi teknologi untuk membantu pengelolaan energi di kawasan tersebut. Keduanya merancang sistem pemantauan energi dan kontrol pencahayaan yang ditujukan untuk mengoptimalkan penggunaan listrik secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Dua Mahasiswa Darmajaya Bikin Sistem Pintar Wisata Mangrove

Intinya sih...
Lampung menjadi contoh nasional transformasi digital
Skor ETPD Lampung tembus tahap digital dengan skor 97,5 persen
Target inklusi keuangan 97,2 persen di 2045 untuk mendorong inklusi keuangan di Lampung
1. Sistem menampilkan berbagai parameter kelistrikan secara real time
Dua mahasiswa tersebut adalah Sohibul Akbar dan Muhammad Rifki Hidayat. Sohibul berfokus pada pengembangan sistem kontrol penerangan, sedangkan Rifki menangani sistem monitoring penggunaan energi listrik.
Sohibul menjelaskan, inovasi yang dikembangkan terdiri dari dua bagian utama. Pertama, sistem monitoring penggunaan energi listrik pada PLTA Mangrove Cuku Nyinyi.
Sistem ini mampu menampilkan berbagai parameter kelistrikan secara real-time. Mulai dari tegangan output, arus listrik, daya aktual, kWh, frekuensi jaringan, faktor daya, hingga arus yang dihasilkan panel surya.
2. Sistem kontrol pencahayaan berbasis website
Bagian kedua, lanjutnya, berupa sistem kontrol pencahayaan berbasis website yang diterapkan di kawasan Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi. Dalam penerapannya, area penerangan dibagi menjadi tiga jalur utama, yakni area loket, area edukasi, dan area dermaga.
Melalui website tersebut, pengelola dapat mengontrol lampu dengan lebih mudah dan praktis. Menurutnya, sistem kontrol pencahayaan ini juga dilengkapi dua fitur utama, yaitu mode otomatis berbasis penjadwalan dan mode kontrol manual.
Pada mode otomatis, lampu akan menyala sesuai jadwal mulai pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB. Sementara pada mode manual, pengelola dapat menyalakan jalur lampu tertentu di luar jadwal sesuai kebutuhan melalui website.
3. Membantu efisiensi penggunaan energi
Sohibul menambahkan, sistem tersebut dirancang untuk membantu efisiensi penggunaan energi di kawasan wisata mangrove yang memiliki sumber listrik terbatas. Karena sumber listrik di sana terbatas dan hanya mengandalkan PLTA serta panel surya.
Untuk itu, mereka membuat sistem monitoring energi dan kontrol pencahayaan agar penggunaan listrik bisa lebih optimal dan efisien. Melalui inovasi tersebut, menghadirkan solusi berbasis teknologi yang mendukung pengembangan ekowisata berbasis energi terbarukan di Kabupaten Pesawaran.
"Sistem itu diharapkan dapat membantu pengelolaan kawasan wisata yang lebih modern, hemat energi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan," harapnya.