Dear Calon Rektor Itera Baru, Ini Aspirasi Dosen hingga Mahasiswa

- Dosen Itera berharap rektor baru mampu meningkatkan kesejahteraan tenaga pengajar, memperkuat mutu akademik, serta memastikan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi berjalan optimal dan berkelanjutan.
- Mahasiswa menyoroti fasilitas kampus yang belum memadai serta birokrasi pencairan dana organisasi yang dinilai rumit dan menghambat kegiatan kemahasiswaan di lingkungan Itera.
- Isu keamanan kampus, terutama terkait pelecehan seksual dan keterbatasan fasilitas laboratorium, menjadi perhatian utama mahasiswa yang menuntut transparansi serta perbaikan nyata dari calon rektor.
Lampung Selatan, IDN Times - Aspirasi dosen hingga mahasiswa mengemuka dalam momentum Pemilihan Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera) periode 2026–2030. Sejumlah harapan disampaikan mulai dari peningkatan kesejahteraan dosen, mutu akademik, hingga pembenahan fasilitas dan birokrasi kampus.
Dosen Biologi Fakultas Sains Itera, Dr Winati Nurhayu menilai paparan visi-misi para calon rektor secara umum sudah sejalan dengan kebutuhan kampus. Namun, ia menekankan pentingnya komitmen nyata dalam merealisasikan janji-janji tersebut.
“Visi-misi yang disampaikan sudah sesuai. Tinggal bagaimana nantinya siapa pun yang terpilih bisa memenuhi janji-janjinya,” ujarnya dimintai keterangan, Selasa (21/4/2026).
1. Harapkan sosok rektor ideal

Dari perspektif dosen, Winati menyampaikan, sosok rektor ideal ialah yang mampu mendorong kesejahteraan tenaga pengajar, sekaligus memastikan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi berjalan optimal.
“Kami berharap kesejahteraan dosen bisa lebih diperhatikan, sehingga dosen bisa menjalankan pengajaran, penelitian, dan pengabdian dengan maksimal,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam mendukung kualitas pengajaran dan publikasi ilmiah. “Pengajaran harus berkualitas, penelitian harus maju, dan publikasi juga harus baik. Itu yang paling saya ingat dari visi-misi para calon,” tambahnya.
2. Mahasiswa soroti fasilitas hingga birokrasi

Dari sisi mahasiswa, Angelica Margareth juga menyoroti sejumlah persoalan mendasar masih dirasakan di lingkungan kampus. Ia menilai, fasilitas dasar masih belum cukup memadai, bahkan untuk hal sederhana seperti tempat penyimpanan helm di tiap gedung.
“Mahasiswa diwajibkan pakai helm, tapi fasilitas penyimpanan belum tersedia. Akhirnya penataannya berantakan di gedung-gedung,” ucapnya.
Selain itu, ia juga mengkritisi birokrasi pencairan dana organisasi mahasiswa (Ormawa) yang dinilai berbelit dan menghambat kegiatan kemahasiswaan. “Kami butuh dana untuk keberlangsungan kegiatan, tapi proses administratifnya masih terlalu rumit,” jelas perwakilan UKM Lembaga Pers tersebut.
3. Isu keamanan kampus jadi perhatian

Tak hanya fasilitas dan birokrasi, Angel juga menyoal isu keamanan kampus, khususnya terkait kasus pelecehan seksual. Mahasiswi semester 6 Program Studi Rekayasa Kosmetik ini menyebut, meski Itera telah memiliki satuan tugas (satgas) penanganan kasus, kendati mahasiswa belum merasakan dampak signifikan dari kinerjanya.
“Lingkungan kampus yang aman itu penting, tapi kami belum melihat transparansi penanganan kasus yang jelas,” pinta dia.
Ia menilai, sebagian calon rektor memang telah menyinggung isu tersebut, namun belum memberikan solusi konkret. “Sudah ada yang menyinggung soal satgas, tapi belum menjawab optimalisasinya secara jelas,” sambungnya.
4. Fasilitas akademik dan akses laboratorium

Di bidang akademik, para mahasiswa juga mengeluhkan keterbatasan fasilitas penunjang seperti laboratorium. Kondisi ini disebut terutama dialami oleh program studi baru seperti Rekayasa Kosmetik.
“Alat-alat penunjang lab masih kurang, dan untuk peminjaman lab saja birokrasinya cukup sulit,” ucapnya.
Selain itu, pembatasan jam operasional kampus dinilai menghambat aktivitas akademik, khususnya penelitian. “Banyak mahasiswa butuh waktu lebih untuk penelitian atau formulasi, tapi jamnya terbatas sehingga tidak optimal,” imbuh Angel.


















