5 Calon Rektor Itera 2026-2030 Saling Adu Gagasan, Menuju Tiga Besar

- Lima calon rektor Itera periode 2026–2030 memaparkan visi, misi, dan program kerja dalam forum terbuka Senat Itera sebagai bagian dari tahap krusial pemilihan pimpinan kampus.
- Setiap kandidat menonjolkan gagasan berbeda, mulai dari penguatan riset lokal, transformasi pendidikan adaptif, budaya unggul berbasis teknologi, tata kelola profesional, hingga pengembangan green dan smart campus.
- Senat Itera akan menyeleksi lima calon menjadi tiga besar pada 21 April 2026 sebelum diajukan ke kementerian untuk penetapan rektor definitif.
Lampung Selatan, IDN Times – Pemilihan Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera) periode 2026-2030 memasuki tahap krusial. Lima bakal calon rektor memaparkan visi, misi, dan program kerja dalam forum terbuka digelar Senat Itera, Senin (20/4/2026).
Kelima bakal calon rektor Itera tersebut masing-masing ialah Prof Aswan, Prof Elfahmi, Prof Fahmi, Prof Ismunandar, dan Prof Muhammad Faiz Syuaib.
Ketua Senat Itera, Sunarsih mengatakan, pemilihan rektor bukan sekadar proses administratif, melainkan ruang pertarungan ide dan integritas. Maka forum ini menjadi panggung adu gagasan para kandidat, dalam menentukan arah masa depan kampus berbasis sains dan teknologi tersebut.
“Tantangan perguruan tinggi semakin kompleks, dari disrupsi teknologi hingga kompetisi global. Itera butuh pemimpin yang mampu melahirkan terobosan nyata,” ujarnya dalam forum tersebut.
1. Usung jangkauan global hingga transformasi pendidikan

Dalam penyampaiannya, kelima bakal calon rektor ini menyuguhkan visi, misi, dan program kerja di hadapan jajaran pimpinan kampus, perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), hingga sivitas akademika Itera.
Aswan mengusung visi “Menjangkau Global, Membangun Lokal” dengan fokus penguatan riset berbasis potensi Sumatera, seperti energi, pariwisata, hingga mitigasi bencana. Ia juga menggagas pembentukan Sumatera Center of Excellence.
Sementara Elfahmi menekankan transformasi pendidikan adaptif melalui penerapan Outcome-Based Education (OBE) dan Student-Centered Learning (SCL). Ia juga mendorong hilirisasi riset melalui program “satu prodi satu inovasi”.
2. Soroti budaya unggul hingga tata kelola

Berbeda pendekatan dua kandidat tersebut, Fahmi menitikberatkan pada transformasi budaya unggul di lingkungan kampus. Termasuk integrasi kecerdasan buatan dalam pembelajaran dan penguatan riset berbasis kebutuhan industri.
Sedangkan Ismunandar mengusung target menjadikan Itera sebagai perguruan tinggi negeri badan layanan umum (PTN BLU) pada 2030, dengan fokus pada tata kelola profesional berbasis data dan penguatan kapasitas institusi.
Lalu Muhammad Faiz Syuaib membawa visi “Itera Bijak Berkhidmat”. Ia menekankan pentingnya peran kampus sebagai solusi nyata bagi masyarakat melalui riset berbasis potensi daerah, penguatan green campus, dan transformasi menuju smart campus.
3. Tiga kandidat akan disaring

Pascapemaparan tersebut, Sunarsih melanjutkan, Senat Itera dijadwalkan melakukan penyaringan menjadi tiga kandidat, Selasa (21/4/2026). Ketiga nama akan diajukan ke kementerian untuk proses penetapan.
Oleh karenanya, ia berharap seluruh tahapan berjalan objektif dan menjunjung tinggi integritas, mengingat hasil pemilihan ini akan menentukan arah Itera dalam beberapa tahun ke depan.
“Siapa pun yang terpilih, akan memikul tanggung jawab besar membawa Itera menjadi kampus unggul dan berdampak luas,” imbuhnya.


















