Potret udara penetapan delay system di rest area ruas Bakter. (Dok. PT BTB).
Alkautsar menambahkan, selama tiga tahun terakhir Tol Bakter telah bertransformasi tidak hanya sebagai operator jalan tol, tetapi juga mitra strategis pembangunan daerah.
"Kami meyakini keberhasilan sebuah infrastruktur tidak hanya diukur dari panjang jalan yang dibangun atau volume lalu lintas yang dilayani, tetapi juga dari seberapa besar manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat dirasakan masyarakat," ujarnya.
Menurut dia, pengelola tol berupaya memastikan keberadaan jalan tol mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar melalui berbagai program pemberdayaan, pembangunan infrastruktur desa, kolaborasi dengan perguruan tinggi, hingga dukungan terhadap pengendalian banjir. Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur modern harus mampu menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan.
"Tol tidak hanya menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Tol harus mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik industri, menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat, serta menghubungkan pembangunan fisik dengan pembangunan sumber daya manusia," katanya.
Ke depan, pengelola Tol Bakter berkomitmen memperkuat implementasi ESG, memperluas program pemberdayaan masyarakat, meningkatkan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi, serta menghadirkan berbagai inovasi untuk mendukung pengelolaan infrastruktur yang berkelanjutan dan berdaya saing.