Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Pedagang Buah di Metro, Nyaris Rugi Akibat Pesanan MBG Batal
Penampakan buah pisang Cavendish diduga batal dipesan oleh dapur MBG. (Dok. Imam Mustofa).
  • Pedagang buah Metro, Imam Mustofa, nyaris rugi Rp2,1 juta setelah pesanan 14 peti pisang Cavendish untuk dapur MBG di Bandar Lampung mendadak dibatalkan.
  • Imam terlanjur memesan stok karena pisang memerlukan proses pematangan; pemesan menyebut dapur disuspend dan menjanjikan pengalihan pesanan, tetapi tidak ada kepastian.
  • Setelah kisahnya di Threads viral, pisang akhirnya habis dibeli dan disalurkan. Imam mengaku tidak meminta DP maupun memverifikasi identitas pemesan besar tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Metro, IDN Times - Seorang pedagang buah asal Kota Metro, Imam Mustofa (35) nyaris rugi jutaan rupiah setelah pesanan 14 peti pisang Cavendish untuk salah satu dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandar Lampung mendadak dibatalkan.

Imam mengatakan, peristiwa tersebut bermula saat dirinya dihubungi seseorang bernama Effendi pada 29 Juli 2026. Saat itu, Effendi menanyakan ketersediaan pisang Cavendish.

Sehari kemudian, Effendi memastikan memesan 14 peti pisang dengan nilai sekitar Rp2,1 juta. "Awalnya dia tanya ada stok pisang Cavendish atau tidak. Besoknya dia memastikan pesan 14 peti dengan nilai sekitar Rp2,1 juta," ujarnya dikonfirmasi, Sabtu (8/8/2026).

1. Pemesan sebut dapur alami suspend

Penampakan buah pisang Cavendish diduga batal dipesan oleh dapur MBG. (Dok. Imam Mustofa).

Pascapesanan tersebut, Imam akhirnya memesan stok dari pemasok lantaran pisang Cavendish membutuhkan waktu beberapa hari untuk proses pematangan. Menurutnya, pesanan tersebut tidak bisa dibatalkan setelah barang dipesan dari pemasok.

"Kalau pisang Cavendish itu tidak bisa mendadak. Harus dipesan beberapa hari sebelumnya karena ada proses pematangan. Begitu barang datang, saya juga tidak bisa membatalkannya lagi," ucap dia.

Namun saat seluruh pisang sudah siap dikirim, Effendi mengirim pesan menyatakan pesanan dibatalkan karena dapur MBG tujuan disebut sedang disuspend. Kemudian ia dijanjikan pesanan itu akan dialihkan ke dapur MBG lainnya.

"Dia bilang akan mencarikan lemparan ke dapur lain. Tapi sampai batas waktu yang dijanjikan tidak ada kepastian," lanjutnya.

2. Akhirnya ludes diborong netizen

ilustrasi medsos. (vecteezy.com/wichan yodsawai)

Di tengah desakan waktu tersebut, Imam juga sempat berupaya memastikan dan menyambangi langsung dapur MBG berlokasi di kawasan belakang Mall Kartini, Bandar Lampung disebut tujuan pesanan oleh Effendi.

Saat itu, ia mengaku masih melihat aktivitas di lokasi tersebut. Namun, Imam tidak dapat memastikan apakah orang yang memesan pisang kepadanya merupakan bagian dari pengelola dapur MBG atau hanya perantara.

"Saya datang langsung ke lokasi. Masih banyak aktivitas dan ompreng di sana. Dari situ saya menduga yang berhubungan dengan saya bukan pihak dapurnya, tapi hanya perantara atau calo," ucap Imam.

Selain itu, ia juga mengaku tidak memiliki bukti untuk memastikan dugaan tersebut. Alhasil, Imam akhirnya menceritakan kejadian itu melalui media sosial Threads hingga akhirnya menuai respons dari netizen.

"Alhamdulillah setelah saya posting di Threads banyak yang membantu. Ada yang beli, ada juga yang minta disumbangkan ke panti asuhan. Sisanya saya antar sendiri ke kantor-kantor sampai akhirnya habis," lanjut dia.

3. Duga pelaku kerap lakukan modus pemesanan serupa

Penampakan buah pisang Cavendish diduga batal dipesan oleh dapur MBG. (Dok. Imam Mustofa).

Atas kejadian ini, Imam mengaku mendapatkan pelajaran lantaran terlalu percaya dengan seseorang, sehingga mengabaikan tak meminta uang muka atau down payment (DP) dan tidak memeriksa identitas pemesan sebelum menerima pesanan dalam jumlah besar.

"Saya akui ini juga kelalaian saya, selama ini saya sudah sering memasok ke dapur-dapur dan aman. Baru kali ini mengalami kejadian seperti ini," ucap dia.

Selain itu, Imam juga mengaku mendapat informasi dari warganet mengenai seseorang dengan nama yang sama disebut pernah melakukan pembatalan pesanan dalam jumlah besar terhadap pedagang lain. Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

"Saya berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi pelaku usaha untuk lebih berhati-hati menerima pesanan dalam jumlah besar, terutama dari pembeli yang belum dikenal," imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article