BMKG: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tak akan Terjadi di Lampung

- BMKG memastikan fenomena gelombang panas ekstrem seperti di Eropa tidak akan terjadi di Indonesia karena perbedaan karakteristik geografis dan dinamika atmosfer wilayah tropis.
- Indonesia sebagai negara kepulauan dikelilingi lautan luas yang berperan sebagai pendingin alami, sehingga suhu udara tidak melonjak ekstrem melebihi 40 derajat Celsius secara konstan.
- BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada selama musim kemarau karena cuaca cerah dan penyinaran matahari tinggi dapat membuat suhu terasa lebih terik meski masih dalam batas normal.
Lampung Selatan, IDN Times - Fenomena gelombang panas ekstrem (heatwave) melanda sejumlah negara di Eropa dipastikan tidak akan terjadi di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Kondisi ini disebabkan karakteristik geografis dan dinamika atmosfer Indonesia berbeda dengan wilayah subtropis.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto mengatakan, secara ilmiah Indonesia memiliki struktur atmosfer yang mampu melindungi wilayah dari fenomena heatwave seperti terjadi di Eropa.
"Gelombang panas umumnya terbentuk di atas daratan yang sangat luas, seperti di Eropa, Amerika, atau Australia. Di wilayah tersebut, kubah tekanan tinggi bisa bertahan dalam waktu lama sehingga suhu udara meningkat secara ekstrem," ujarnya dikonfirmasi, Selasa (30/6/2026).
1. Kondisi berbeda di Indonesia

Rudi menyampaikan, kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia merupakan negara kepulauan dan dikelilingi lautan luas. Sebab, perairan di sekitar Indonesia terus mengalami proses penguapan yang berfungsi sebagai pendingin alami sehingga mampu menahan kenaikan suhu udara secara ekstrem.
"Keberadaan lautan luas membuat suhu udara di Indonesia tidak dapat melonjak hingga di atas 40 derajat Celsius secara konstan, seperti yang terjadi di negara-negara empat musim," katanya.
2. Cuaca panas bukan fenomena heatwave

Rudi melanjutkan, dinamika atmosfer di wilayah tropis juga cenderung lebih stabil dibandingkan kawasan lintang menengah dan tinggi. Karena itu, Indonesia tidak mengalami fluktuasi suhu antarmusim yang ekstrem sebagaimana negara-negara subtropis.
Kondisi cuaca panas yang dirasakan masyarakat saat ini bukanlah fenomena heatwave, melainkan suhu terik pada siang hari yang dipengaruhi gerak semu matahari serta berkurangnya tutupan awan selama musim kemarau.
"Jadi terjadi di Indonesia bukan heatwave. Suhu siang hari memang bisa terasa sangat menyengat, tetapi masih berada dalam batas variasi iklim tropis yang normal, bukan lonjakan suhu anomali yang membahayakan seperti di Eropa," jelasnya.
3. Tetap waspada selama musim kemarau

BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pasalnya, cuaca cerah dengan intensitas penyinaran matahari tinggi berpotensi menimbulkan suhu udara yang terasa lebih terik, terutama pada siang hingga sore hari.
Untuk kondisi di Provinsi Lampung, ia memastikan suhu udara masih berada dalam kisaran normal. "Lampung masih dalam batas normal. Hasil pemantauan kami menunjukkan suhu udara masih berada di kisaran 19 hingga 35 derajat Celsius," imbuh Rudi.


















