Angka Stunting Balam Turun, Dinkes Sebut Posyandu Berperan Penting

- Pemerintah Kota Bandarlampung memperkuat pencegahan stunting lewat layanan kesehatan dasar dan optimalisasi 706 posyandu yang rutin memantau tumbuh kembang balita di seluruh kelurahan.
- Intervensi gizi dilakukan sejak masa kehamilan melalui pemberian makanan tambahan lokal dan tablet tambah darah agar ibu hamil terhindar dari kekurangan gizi yang berdampak pada bayi.
- Dinas Kesehatan mencatat penurunan angka stunting dari 22,7 persen pada 2024 menjadi sekitar 15 persen pada 2025, didukung program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat.
Bandar Lampung, IDN Times – Pemerintah Kota Bandar Lampung terus memperkuat upaya pencegahan stunting melalui layanan kesehatan dasar hingga tingkat kelurahan.
Salah satu langkah yang dinilai efektif ialah optimalisasi peran posyandu dalam mendeteksi dini masalah gizi pada balita dan ibu hamil.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan, deteksi dini kini dilakukan secara rutin melalui puskesmas dan posyandu yang tersebar di seluruh wilayah kota.
“Deteksi dini dilakukan di seluruh puskesmas, baik rawat jalan maupun puskesmas pembantu, dengan memeriksa status gizi masyarakat,” katanya, Selasa (30/6/2026).
1. Sebanyak 706 posyandu aktif pantau tumbuh kembang balita

Muhtadi menyampaikan, saat ini, Kota Bandar Lampung memiliki 706 posyandu tersebar di 126 kelurahan. Setiap bulan, balita menjalani pemeriksaan rutin seperti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga pemeriksaan indikator status gizi lainnya.
"Dari hasil pemeriksaan tersebut, petugas kesehatan bisa mengetahui balita mengalami kekurangan gizi atau berisiko stunting sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat," jelasnya.
Muhtadi menyebut, pihaknya tidak hanya menjalankan pemeriksaan, kader posyandu tapi juga memberikan edukasi kepada orang tua terkait pola makan sehat dan penyusunan menu bergizi seimbang.
"Kita juga tersedia program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai contoh asupan bergizi bagi anak," ujarnya.
2. Intervensi dimulai sejak masa kehamilan

Muhtadi menjelaskan, pencegahan stunting tidak bisa dilakukan hanya saat anak lahir, tetapi harus dimulai sejak masa kehamilan. Karena itu, intervensi gizi juga diberikan kepada ibu hamil melalui PMT lokal dan tablet tambah darah.
Menurutnya, kondisi gizi ibu hamil sangat memengaruhi kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Jika ibu mengalami kekurangan gizi selama kehamilan, risiko bayi mengalami gangguan pertumbuhan juga meningkat.
“Penanganannya harus dilakukan berdasarkan siklus kehidupan, dimulai sejak ibu hamil,” jelasnya.
3. Angka stunting turun dibanding tahun sebelumnya

Dinas Kesehatan mencatat angka stunting di Bandar Lampung menunjukkan tren penurunan. Pada 2024 terdapat 47 balita stunting dari 207 balita yang diperiksa atau sekitar 22,7 persen.
"Pada tahun 2025, jumlah balita stunting turun menjadi sekitar 40 kasus dengan prevalensi sekitar 15 persen," bebernya.
Muhtadi berharap, tren positif tersebut terus berlanjut pada 2026. Apalagi dengan dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat yang ditargetkan membantu pemenuhan gizi bayi, balita, dan ibu hamil.


















