Abu Vulkanik GAK Ganggu Aktivitas, Warga Pulau Sebesi Tetap Melaut

- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak malam hingga 6 September 2026 memasuki Pulau Sebesi, Lampung Selatan, sementara cahaya semburan lava merah terlihat dari pulau tersebut.
- Warga tetap berkebun dan melaut, tetapi abu di sekitar permukiman mulai mengganggu aktivitas; masyarakat membutuhkan masker dan PMI disebut akan membagikannya.
- Dentuman sejak 4 September sempat memicu kepanikan warga, terutama malam hari; abu cepat menumpuk di rumah, mengganggu mata serta rambut, dan mengubah warna pasir pantai menjadi cokelat.
Lampung Selatan, IDN Times - Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai masuk ke wilayah Pulau Sebesi, Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Kondisi ini mulai dirasakan warga sejak semalam hingga Minggu pagi (6/9/2026).
Dari Pulau Sebesi, cahaya semburan lava merah Gunung Anak Krakatau juga terlihat jelas. Meski abu vulkanik mulai mengganggu aktivitas, warga Pulau Sebesi masih bekerja seperti biasa, termasuk pergi ke kebun dan melaut.
Namun, warga mulai membutuhkan masker karena abu sudah berada di sekitar permukiman dan mengganggu aktivitas warga.
1. Warga masih membutuhkan masker

ilustrasi abu vulkanik (unsplash.com/Yosh Ginsu) Sekretaris Desa Tejang, Pulau Sebesi, Riko Iswanto mengatakan, aktivitas masyarakat saat ini masih berjalan seperti biasa. Namun, warga mulai terganggu setelah abu vulkanik masuk ke wilayah tersebut sejak tadi malam.
"Kalau kemarin-kemarin kan belum masuk karena abu ikut arah mata angin, tapi mulai tadi malam sampai sekarang abunya sudah masuk. Tapi warga belum pada pakai masker, mungkin nanti sore dari PMI katanya mau bagikan masker," kata Riko kepada IDN Times, Minggu (6/9/2026).2. Dentuman terdengar sejak jumat malam, warga sempat panik

Gunung Anak Krakatau (instagram.com/gnfi) Selain abu vulkanik yang mulai masuk ke permukiman, warga Pulau Sebesi juga mendengar suara dentuman dari Gunung Anak Krakatau. Riko mengatakan, dentuman mulai terdengar sejak Jumat, 4 September 2026. Menurutnya, suara dentuman terdengar seperti petir dan cukup besar hingga membuat warga sempat panik, terutama ketika suara tersebut terdengar tengah malam.
"Malam Sabtu itu dentumannya cukup besar, jadi warga mulai panik karena kan itu tengah malam. Warga paling ujung itu kebangun dan laporan ngasih tahu videonya. Wah, ini saya lumayan takut juga lihatnya," kata Riko.
3. Debu abu vulkanik mengganggu mata dan rambut

Kondisi rumah warga Pulau Sebesi yang terdampak abu vulkanik GAK (IDN Times/Istimewa) Senada dengan Riko, Chandra, warga Tejang, Pulau Sebesi juga mulai terdampak abu vulkanik yang mulai menyebar di lantai rumahnya hingga membentuk garis-garis panjang saat disapu. Menurutnya ia baru menyapu lantai sekitar pukul 06.00 WIB, tapi abu sudah kembali menumpuk pukul 9.00 WIB. Tak hanya lantai, pasir pantai di Pulau tersebut juga kini warnanya berubah menjadi coklat.
"Kalau dentuman saya terakhir dengar jam 12 malam tadi. Pagi ini gak kedengeran, tapi debu banyak di depan rumah mengganggu di mata dan rambut," ujarnya.







![[BREAKING] Erupsi GAK, Bandara Radin Inten Hentikan Operasional 3 Jam](https://image.idntimes.com/post/20260905/img_20260905_224154_1a713ecf-8ae0-4c77-9122-8cee321bb7aa.jpg)










