Tradisi Sekura Meriahkan Perayaan 2 Syawal di Lampung Barat

- Tradisi Sekura kembali digelar meriah di Lampung Barat pada 2 Syawal 1447 H, diikuti ribuan warga dari berbagai kecamatan dan perantau yang pulang kampung.
- Perayaan ini menampilkan dua karakter utama, Sekura Kamak dengan kostum nyeleneh dan Sekura Betik yang tampil rapi memakai kain miwang khas Lampung Barat.
- Bagi masyarakat, Sekura menjadi simbol identitas budaya sekaligus ajang mempererat silaturahmi serta wujud pelestarian tradisi turun-temurun.
Lampung Barat, IDN Times – Tradisi Sekura kembali memeriahkan perayaan 2 Syawal 1447 Hijriah di Kabupaten Lampung Barat, Minggu (22/3/2026).
Ribuan masyarakat dari berbagai pekon dan kecamatan memadati sejumlah titik pelaksanaan pesta budaya yang sudah menjadi tradisi turun-temurun tersebut.
Kemeriahan terlihat dari berbagai kostum unik yang dikenakan para peserta. Suasana semakin semarak karena tradisi ini tidak hanya diikuti warga setempat, tetapi juga menarik perhatian para perantau yang tengah mudik ke kampung halaman.
1. Digelar setiap 2 Syawal

Pesta Budaya Sekura merupakan tradisi digelar setiap 2 Syawal sebagai bentuk rasa syukur sekaligus ajang mempererat silaturahmi setelah masyarakat menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
Tahun ini, perayaan Sekura digelar di sejumlah lokasi, di antaranya Padang Dalom dan Way Mengaku di Kecamatan Balik Bukit, Sinar Jaya Muara Jaya II di Kecamatan Kebun Tebu, Pekon Kenali di Kecamatan Belalau, serta Sukabumi dan Sukaraja di Kecamatan Batu Brak.
2. Memiliki dua karakter utama

Dalam tradisi Sekura terdapat dua karakter yang dikenal masyarakat, yakni Sekura Kamak dan Sekura Betik.
Sekura Kamak biasanya tampil dengan kostum bebas dan cenderung nyeleneh, memadukan berbagai atribut seperti topeng, pakaian lusuh, hingga aksesoris unik.
Sementara Sekura Betik tampil lebih rapi dan elegan dengan mengenakan kain miwang khas Lampung Barat lengkap dengan aksesori tradisional yang mencerminkan identitas budaya Sekala Bekhak.
3. Jadi simbol identitas budaya masyarakat Lampung Barat

Bagi masyarakat setempat, Sekura bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang harus dijaga.
Salah satu peserta Sekura dari Kecamatan Batu Brak, Khoi mengatakan dirinya selalu antusias mengikuti tradisi tersebut setiap tahun.
“Setiap tahun kami pasti ambil bagian dalam memeriahkan pesta budaya Sekura ini, karena kalau bukan kita yang menjaga tradisi dan budaya siapa lagi,” ujarnya.
Peserta lainnya, Rama dari Kecamatan Balik Bukit, juga mengaku sudah mengikuti Sekura sejak masih kecil.
"Saya harap generasi muda terus berperan aktif dalam melestarikan budaya tersebut agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya," ujarnya.


















