Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Udara Bandar Lampung Normal, Aktivitas Gempa Anak Krakatau Masih Terjadi
Pemandangan Gunung Anak Krakatau dari Pulau Sebesi. (Dok. Masyarakat Pulau Sebesi)
  • Kabut menutupi Gunung Anak Krakatau pada 11 September 2026 sehingga asap kawah tak teramati, meski sejumlah gempa vulkanik masih tercatat dan debu vulkanik tidak terdeteksi citra satelit.
  • BPBD Lampung menyatakan kualitas udara Bandar Lampung dan sekitarnya aman dengan SO2 berangsur normal; debu vulkanik di Lampung Selatan yang sempat meningkat juga mulai membaik.
  • Status Gunung Anak Krakatau tetap Level III Siaga dengan 13 erupsi Strombolian hingga 10 September; Pemprov Lampung menyiapkan evakuasi dan peringatan dini jika status naik Level IV.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Kabut masih menutupi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Jumat pagi, 11 September 2026. Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, kondisi tersebut membuat asap kawah tidak teramati dalam pemantauan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Cuaca di sekitar gunung berawan hingga mendung, dengan angin lemah bergerak ke arah utara dan barat laut.

Meski aktivitas visual tertutup kabut, sejumlah kegempaan masih tercatat dalam periode pemantauan tersebut. Tercatat tujuh kali gempa low frequency, empat kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali gempa vulkanik dangkal, dan empat kali gempa vulkanik dalam. Sementara itu, berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada Kamis (10/9/2026) pukul 19.00 WIB, sebaran debu vulkanik GAK tidak terdeteksi.

1. Kondisi udara Bandar Lampung dan sekitarnya aman

Ilustrasi udara yang bersih (pexels/Markus Spiske)

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, menginformasikan status aktivitas GAK saat ini masih pada Level III (Siaga). Data pantauan kualitas udara menunjukkan kondisi di Bandar Lampung dan sekitarnya dinyatakan aman dengan kadar SO2 berangsur normal.

Sementara debu vulkanik di Lampung Selatan sempat meningkat kini mulai membaik. Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi Pemerintah dan meningkatkan kewaspadaan.

2. Pemprov Lampung siapkan skenario jika status naik level IV

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

Aswarodi mengatakan, dalam rangka mitigasi jangka panjang, Pemprov Lampung juga telah mengumpulkan seluruh Kepala BPBD Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung untuk menyiagakan skenario terburuk jika status bencana meningkat menjadi Level IV (Awas).

"Skema ini mencakup persiapan matang terkait jalur evakuasi, rambu evakuasi, penyediaan tempat pengungsian, hingga pengaktifan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)," ujarnya.

3. Aktivitas strombolian GAK masih terjadi

Ilustrasi erupsi gunung (Pexels.com/Diego Giron)

Sementara itu, Badan Geologi mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung setelah erupsi menerus pada 4–6 September 2026. Erupsi tersebut berlangsung sekitar 25 jam, kemudian aktivitas gunung api kembali menunjukkan karakter erupsi Strombolian.

Hingga 10 September 2026, tercatat 13 erupsi Strombolian. Dinamika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi. Saat ini status gunung masih berada pada Level III (Siaga), sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas serta mengikuti informasi resmi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article