Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Takut Ketinggalan Tren Bikin Boros? Ini Cara Mengatasinya
ilustrasi FOMO belaja produk fashion (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
  • FOMO yang diperkuat media sosial dapat mendorong belanja impulsif demi tren, sehingga pengeluaran membengkak dan dana kebutuhan penting berisiko terpakai.
  • Pengendalian belanja dilakukan dengan membedakan kebutuhan dan keinginan, menunda pembelian 24–72 jam, serta tidak terpancing promo, edisi terbatas, atau tren viral.
  • Tetapkan anggaran hiburan setelah kewajiban terpenuhi, kurangi konten pemicu konsumsi, dan prioritaskan tujuan keuangan seperti dana darurat, pendidikan, atau kebutuhan kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa harus membeli barang yang sedang viral agar gak dianggap ketinggalan zaman? Mulai dari outfit terbaru, skincare yang ramai dibicarakan, gadget keluaran terkini, sampai mencoba tempat nongkrong yang sedang hits.

Awalnya mungkin hanya ingin mengikuti tren, tetapi tanpa disadari, kebiasaan ini bisa membuat pengeluaran semakin membengkak. Fenomena ini berkaitan dengan fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau tren yang sedang dinikmati orang lain.

Media sosial bisa memperkuat perasaan tersebut karena kita terus melihat pencapaian, gaya hidup, dan barang-barang yang dimiliki orang lain. Masalahnya, gak semua tren sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keuangan kita.

Kalau terus mengikuti apa yang sedang populer, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting justru habis demi memenuhi keinginan sesaat. Lantas, bagaimana cara mengatasi kebiasaan boros karena takut ketinggalan tren? Berikut lima cara yang bisa kamu coba!

1. Bedakan kebutuhan dan keinginan

ilustrasi FOMO (magnific.com/ benzoix)

Saat melihat barang viral di media sosial, wajar jika kamu merasa tertarik untuk memilikinya. Apalagi kalau banyak teman atau kreator favoritmu menggunakan barang tersebut. Namun, sebelum membeli, coba tanyakan kepada diri sendiri apakah barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya ingin dimiliki karena sedang populer.

Misalnya, kamu sudah mempunyai sepatu yang masih bagus, tetapi tergoda membeli model terbaru karena sering muncul di linimasa. Dalam situasi ini, kamu perlu mempertimbangkan apakah sepatu tersebut memang diperlukan atau sekadar memenuhi keinginan mengikuti tren.

Membiasakan diri membedakan kebutuhan dan keinginan dapat membantu kamu mengambil keputusan belanja dengan lebih bijak. Kamu tetap boleh membeli barang yang disukai, tetapi pastikan keputusan tersebut gak mengganggu kebutuhan utama.

2. Terapkan jeda sebelum membeli

Ilustrasi FOMO dan konsumtif (pexels.com/Negative Space)

Pernah membeli barang karena takut kehabisan promo, tetapi setelah sampai di rumah justru menyesal? Situasi seperti ini sering terjadi ketika keputusan belanja dibuat secara impulsif.

Untuk mengatasinya, cobalah menerapkan aturan menunda pembelian. Misalnya, tunggu selama 24–72 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak.

Jika harganya cukup mahal, kamu bisa memberikan waktu pertimbangan yang lebih panjang. Selama menunggu, tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut masih diinginkan, sesuai dengan anggaran, dan benar-benar akan digunakan.

Jangan mudah tergoda oleh tulisan limited edition, hitung mundur promo, atau klaim bahwa barang sedang menjadi tren. Ingat, diskon bukan berarti kamu menghemat uang jika barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan.

3. Buat anggaran khusus untuk mengikuti tren

ilustrasi uang (magnific.com/8photo)

Mengikuti tren gak selalu menjadi kebiasaan buruk. Kamu tetap bisa menikmati hobi, membeli pakaian, mencoba makanan viral, atau mengunjungi tempat nongkrong baru selama pengeluaran masih terkendali.

Caranya, buat anggaran khusus untuk hiburan dan keinginan pribadi. Tentukan nominal yang realistis setelah kebutuhan pokok, tagihan, tabungan, dan kewajiban lainnya terpenuhi.

Sebagai contoh, jika kamu memiliki anggaran hiburan Rp300 ribu per bulan, gunakan uang tersebut untuk memilih kegiatan yang paling kamu inginkan. Ketika anggarannya habis, hindari mengambil uang dari pos kebutuhan lain hanya demi mengikuti tren tambahan.

Dengan cara ini, kamu tetap bisa bersenang-senang tanpa harus mengorbankan kondisi keuangan. Kamu juga belajar menentukan prioritas, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan.

4. Kurangi paparan konten memicu FOMO

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Gustavo Fring)

Media sosial bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi terlalu sering melihat konten konsumtif juga dapat membuat kamu merasa harus memiliki barang yang sama dengan orang lain.

Ketika terus-menerus melihat orang membeli gadget baru, mengenakan pakaian mahal, atau berlibur ke tempat populer, kamu mungkin mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan mereka.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang secara keseluruhan. Kamu gak tahu apakah barang tersebut dibeli menggunakan uang tabungan, penghasilan sendiri, atau bahkan cicilan.

Cobalah mengatur waktu penggunaan media sosial dan berhenti mengikuti akun yang terus memicu keinginan belanja. Sebagai gantinya, ikuti akun yang memberikan edukasi keuangan, inspirasi gaya hidup hemat, atau rekomendasi produk berdasarkan kebutuhan.

Kamu gak harus mengetahui setiap tren yang muncul. Sesekali mengambil jarak dari media sosial bisa membantu kamu lebih fokus pada kebutuhan dan tujuan pribadi.

5. Tentukan tujuan keuangan yang lebih penting

Ilustrasi budget.(pexels.com/Pixabay)

Mengendalikan pengeluaran akan terasa lebih mudah jika kamu memiliki tujuan keuangan yang jelas. Misalnya, mengumpulkan dana darurat, membeli laptop untuk bekerja, melanjutkan pendidikan, atau menabung untuk liburan yang sudah direncanakan.

Tuliskan tujuan tersebut beserta nominal dan target waktunya. Setelah itu, bandingkan setiap rencana pembelian dengan tujuan yang ingin kamu capai.

Sebagai contoh, uang Rp500 ribu yang akan digunakan untuk membeli barang viral bisa dialihkan ke tabungan jika barang tersebut sebenarnya tidak diperlukan. Mungkin nominalnya terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten, hasilnya bisa cukup berarti.

Kamu juga perlu memahami setiap orang memiliki kondisi keuangan, prioritas, dan perjalanan hidup yang berbeda. Jadi, gak perlu memaksakan diri mengikuti standar gaya hidup orang lain hanya demi mendapatkan pengakuan.

Ketika memiliki tujuan yang jelas, kamu bisa lebih mudah menentukan tren mana yang layak diikuti dan mana yang sebaiknya dilewatkan.

Takut ketinggalan tren bisa membuat pengeluaran membengkak jika kamu terus membeli barang atau mengikuti kegiatan hanya karena ingin sama dengan orang lain. Kebiasaan ini dapat dikendalikan dengan membedakan kebutuhan dan keinginan, menunda pembelian, membuat anggaran, mengurangi paparan konten pemicu FOMO, serta menetapkan tujuan keuangan.

Ingat, mengikuti tren bukan kewajiban. Kamu tetap bisa menikmati kehidupan, mencoba hal baru, dan tampil menarik tanpa harus mengeluarkan uang untuk setiap sesuatu yang sedang viral. Gak masalah jika kamu melewatkan sebuah tren. Lebih penting, jangan sampai kamu mengorbankan kesehatan keuangan hanya demi terlihat gak ketinggalan zaman.

Curated For You

Editorial Team

Related Article