ilustrasi komoditas (freepik.com/jcomp)
Elfahmi mengatakan, tim PUI Nutraceutical ITB yang dipimpinnya beberapa tahun terakhir mengembangkan teknologi pengolahan bahan alam untuk meningkatkan nilai ekonomi keanekaragaman hayati Indonesia. Selama ini, sebagian komoditas masih dijual sebagai bahan mentah dengan harga rendah, meski berpotensi diolah menjadi produk bernilai tinggi.
“Melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing dan nilai jual jauh lebih tinggi,” ujar Elfahmi dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Ia mencontohkan, daun tanaman kering yang diekspor seharga 4 dolar AS per kilogram dapat diolah menjadi senyawa murni senilai 2.500 dolar AS per kilogram. Menurut Elfahmi, teknologi pengolahan dan pemurnian bahkan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi bahan alam hingga 500–1.000 kali lipat, bergantung pada jenis produk.
Elfahmi menjelaskan, riset tersebut juga menghasilkan senyawa biomarker yang sebelumnya banyak diimpor untuk kebutuhan penelitian dan industri. Produk itu kini dapat diproduksi di dalam negeri melalui perusahaan rintisan berbasis teknologi hasil riset ITB, dengan Prof. Elfahmi sebagai peneliti utama.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi tidak hanya dapat menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga produk yang memiliki nilai komersial, memperkuat kemandirian teknologi, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ujar Elfahmi.