Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PAD Bandar Lampung Baru 45 Persen, Pajak Hotel dan Restoran Terbesar
ilustrasi restoran mewah (pexels.com/Jep Gambardella)
  • Realisasi PAD Kota Bandar Lampung mencapai sekitar 45 persen dari target Rp2,9 triliun, dengan dominasi penerimaan dari sektor pajak daerah.
  • Pajak hotel dan restoran menjadi penyumbang terbesar PAD berkat tingkat okupansi usaha yang tinggi, menunjukkan aktivitas ekonomi kota masih stabil.
  • Sektor retribusi masih menghadapi kendala karena tersebar di berbagai OPD, sementara Pemkot mendorong sistem pembayaran digital seperti QRIS dan E-Report untuk meningkatkan efisiensi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandar Lampung hingga pertengahan 2026 telah mencapai sekitar 45 persen dari target pendapatan daerah yang dipatok hampir Rp2,9 triliun.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bandar Lampung, Yusnadi Ferianto, mengatakan capaian tersebut masih didominasi penerimaan dari sektor pajak daerah. Bahkan sejumlah jenis pajak telah mencatatkan realisasi mendekati 50 persen.

"Target pendapatan daerah tahun ini hampir 2,9 triliun. Sampai saat ini realisasinya sudah sekitar 45 persen dan kami optimistis sebelum perubahan anggaran nanti bisa tetap terjaga di atas 50 persen," katanya, Rabu (3/6/2026).

1. Pajak hotel dan restoran penyumbang terbesar

ilustrasi pajak (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Yusnadi menjelaskan, sektor hotel dan restoran menjadi kontributor utama terhadap capaian PAD tahun ini. Tingkat okupansi yang cukup baik di sejumlah sektor usaha juga ikut mendongkrak penerimaan pajak daerah.

Menurut dia, rata-rata realisasi berbagai jenis pajak daerah saat ini sudah berada di atas 47 persen. Bahkan beberapa di antaranya hampir menyentuh angka 49 persen.

"Kalau dari sektor pajak memang sangat bagus. Rata-rata capaiannya sudah di atas 47 persen, bahkan ada yang hampir 49 persen," ujarnya.

Ia menambahkan, tren positif tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Bandar Lampung masih cukup baik sepanjang semester pertama 2026.

2. Retribusi masih menghadapi tantangan

Kepala Bapenda Bandar Lampung, Yusnadi Ferianto. (IDN Times/Muhaimin)

Di sisi lain, Yusnadi mengakui realisasi dari sektor retribusi daerah masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu penyebabnya karena pengelolaan retribusi tersebar di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD).

Sumber retribusi tersebut antara lain berasal dari layanan persampahan dan kebersihan yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH), parkir dan pasar yang dikelola Dinas Perhubungan serta Dinas Perdagangan, hingga penyewaan alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum (PU).

"Retribusi ini memang agak berbeda karena tersebar di OPD masing-masing. Jadi datanya juga masih kami cek lagi OPD mana yang sejauh ini paling besar menyumbang PAD," jelasnya.

3. Pemkot dorong pembayaran digital

ilustrasi seorang pelanggan melakukan pembayaran digital (pexels.com/Mikhail Nilov)

Untuk mengoptimalkan penerimaan daerah, Pemkot Bandar Lampung mulai memperluas penggunaan sistem pembayaran elektronik.

Bapenda mendorong pemanfaatan QRIS dan sistem E-Report dalam proses penyetoran retribusi maupun pelaporan pendapatan.

"Tahun ini kami dorong pembayaran elektronik melalui QRIS dan sistem E-Report supaya penyetoran dari OPD lebih efektif dan transparan," tuturnya.

Editorial Team

Related Article