Comscore Tracker

Kisah Petani Desa Jayasakti Bikin Pupuk Organik, Buka Lapangan Kerja

Satu rumah produksi bisa menghasilkan 100 ton pupuk/bulan

Bandar Lampung, IDN Times - Kesulitan memenuhi kebutuhan pupuk tak membuat petani di Desa Jayasakti, Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah patah arang. Para petani berinisiatif membuat pupuk organik dari kotoran ternak sapi, kambing, ayam, dan bahan organik lainnya. Produksi itu dilabeli nama Pupuk Organis Subur

Pembuatan pupuk organik itu diinisiasi Kelompok Tani Pemuda Mandiri Maju Jaya Bersama (PMMJB). Ketua Kelompok Tani PMMJB, Liwaul Hamdi, menerangkan inisiatif membuat pupuk kompos karena bahan baku banyak dari limbah perusahaan peternakan yang ada di sekitar desa. Ada 200 kilogram (kg) kotoran sapi yang dihasilkan perusahaan peternakan.

Selain itu, kelompok tani juga mendapatkan kotoran kambing dan ayam dari masyarakat desa. Warga juga bisa jual kotoran sapi ke kelompok tani diharga Rp15 ribu sekarung.

1. Buka lapangan kerja bagi masyarakat desa

Kisah Petani Desa Jayasakti Bikin Pupuk Organik, Buka Lapangan KerjaKelompok Tani Pemuda Mandiri Maju Jaya Bersama di Desa Jayasakti, Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah memproduksi pupuk organik dari kotoran ternak. (IDN Times/Istimewa).

Inisiasi pembuatan pupuk organik ternyata mendapat apresiasiasi masyarakat desa bermata pencaharian sebagai petani. Bahkan, kegiatan digagas Kelompok Tani Pemuda Mandiri Maju Jaya Bersama (PMMJB) ini bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat di desa.

Ketua Kelompok Tani PMMJB, Liwaul Hamdi, mengatakan kelompok tani ia pimpin didirikan 2018. Saat ini sudah ada 25 orang anggota ķelompok yang tergabung dan sudah memiliki lima rumah produksi pupuk.

Setiap satu rumah produksi bisa menghasilkan 100 ton pupuk per bulan. Di rumah produksi itu mempekerjakan 10-15 orang setiap hari.

Kala kelompok tani berdiri, hanya bermodal tekad dan sedikit patungan dana modal dari anggota. Seperti untuk membeli kotoran sapi dari warga, sebanyak 25 anggota iuran Rp10 ribu setiap minggu.

“Pendirian kelompok tani ini bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat secara luas. Misi utamanya, menguatkan kelembagaan petani desa dan membuka lapangan kerja bagi pemuda desa yang kesulitan mendapatkan pekerjaan,” papar Liwaul, Selasa (1/9/2020).

Baca Juga: PTPN VII Pasarkan Gula Merek Walini Masuk Ritel se-Sumbagsel

2. Jadi penyambung hajat masyarakat

Kisah Petani Desa Jayasakti Bikin Pupuk Organik, Buka Lapangan KerjaKelompok Tani Pemuda Mandiri Maju Jaya Bersama di Desa Jayasakti, Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah memproduksi pupuk organik dari kotoran ternak. (IDN Times/Istimewa).

Kelompok Tani PMMJB kini menjadi semacam penyambung hajat warga sekitar. Jika selama ini warga kehabisan uang lalu menjual ayam piaraan, kelompok tani memberi solusi.

“Biasanya kan orang misalnya kehabisan uang lalu pegang ayam untuk dijual, sekarang tidak. Mereka cukup kumpulkan kotoran sapi dari ternaknya, bawa ke kelompok tani, kami beli Rp15 ribu perkarung. Ini menjadi solusi keuangan yang selama ini tidak terpikir,” kata Ketua Kelompok Tani PMMJB, Liwaul Hamdi.

Terkait peruntukan pupuk yang diproduksi, ia menerangka menyesuaikan dengan kebutuhan pembeli. Jika pembeli menanam padi, pupuk komposnya diolah sesuai dengan kebutuhan nutrisi padi. Demikian juga dengan tanaman lain seperti kelapa sawit, karet, palawija, atau yang lain.

Menurutnya, pupuk ini sangat cocok untuk tanaman kelapa sawit, karet, teh kakao, tanaman sayuran, tebu, padi, jagung, dan tanaman hias. Terkait harga jual, berdasarkan variasi kemasan 5 kg, 10 kg, dan 20 kg. Harganya Rp5 ribu per kg.

Liwaul optimistis, ke depan penjualan pupuk ini bisa keluar daerah. “Saat ini saja kita sudah menjual keluar kabupaten Lampung Tengah, bahkan sudah sampai ke Lubuk Linggau. Apalagi kebutuhan pupuk ini tidak akan hilang karena zaman. Setiap saat para petani pasti membutuhkan pupuk,” ujarnya.

3. Peroleh dana kemitraan dari PTPN VII

Kisah Petani Desa Jayasakti Bikin Pupuk Organik, Buka Lapangan KerjaLogo PTPN VII (Istimewa/IDN Times)

Seiring perjalanan usaha kelompok tani ini, prospek itu menjadi pertimbangan PTPN VII untuk membantu. Dikenalkan oleh lurah setempat kepada PTPN VII Unit Padangratu, kelompok tani ini mendapatkan modal tambahan untuk membeli bahan baku.

Bahkan sejak menjadi mitra binaan PTPN VII, kelompok ini juga mendapat pelatihan memasarkan produk. “Kami bersyukur PTPN VII membantu dalam pemasaran pupuk dan berpatner sebagai pembeli. Dari awal memproduksi pupuk ini, kami sangat berkeyakinan usaha ini dapat berjalan. Apalagi kebutuhan kompos ini diperlukan selamanya dibidang pertanian dan perkebunan,” ujar Ketua Kelompok Tani PMMJB, Liwaul Hamdi.

Ia berharap, kemitraan dengan PTPN VII terus berjalan. Terutama dalam kerjasama pembelian pupuk produksi kelompok tani.  Alasannya, membeli Pupuk Organik Subur ini berarti membantu kehidupan masyarakat Desa Jayasakti.

4. Dinilai sangat baik untuk meningkatkan produktivitas tanaman

Kisah Petani Desa Jayasakti Bikin Pupuk Organik, Buka Lapangan KerjaIlustrasi pertanian (IDN Times/Rochmanudin)

Pupuk Organik Subur dibuat dari kotoran hewan dan pelapukan sisa-sisa tanaman dan mekanan hewan. Pupuk organik subur mengandung banyak bahan organik dibanding kadar haranya.

Alhasil, sangat baik untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Komposisi pupuk tersebut yakni, kotoran sapi, ayam broiler, kotoran kambing, abu tankos, kapur dolomit, molase, dan mikroba.

Ketua Kelompok Tani PMMJB, Liwaul Hamdi, menerangkan, proses pembuatan pupuk dari bahan dasar kotoran sapi ditaburi mikroba. Selanjutnya, ditaburi kotoran ayam dilapisi mikroba, kotoran kambing dilapisi mikroba, baru ditambah ditaburi abu tankos, dan pupuk dolomit. Minimal setengah bulan ditutup rapat pakai terpal.

Setiap tiga hari atau maksimal satu minggu dibuka untuk diaduk dan ditutup kembali. Setelah setengah jadi baru ditambah nutrisi tergantung untuk jenis pemupukannya. Untuk digunakan tanaman jenis apa.

Langkah selanjutnya dimasukkan ke dalam gudang dan dilakukan proses penggilingan. Pupuk yang dihasilkan juga dilakukan uji laboratorium yang dilaksanakan satu tahun sekali oleh tim dari Yogyakarta.

Baca Juga: PTPN VII Sumbang Hewan Kurban 30 Ekor Sapi dan 60 Ekor Kambing

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya