Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Konflik Timur Tengah Memanas, Mahasiswi IIB Darmajaya Tertahan

Konflik Timur Tengah Memanas, Mahasiswi IIB Darmajaya Tertahan
ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat Qatar menutup ruang udara, menyebabkan ribuan WNI termasuk mahasiswa Indonesia tertahan dan tidak bisa kembali ke tanah air.
  • Warga di Doha menerima peringatan darurat hampir setiap hari akibat potensi ancaman rudal, sehingga mereka membatasi aktivitas luar rumah dan memperbanyak persediaan kebutuhan pokok.
  • Mahasiswi IIB Darmajaya, Hani Shafa Fadillah, terpaksa menunda kepulangan ke Indonesia dan berharap dapat melanjutkan kuliah secara daring hingga situasi keamanan di Timur Tengah membaik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandar Lampung, IDN Times - Situasi keamanan di Timur Tengah yang memanas akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut berdampak pada kehidupan ribuan warga negara Indonesia (WNI) di Qatar. Penutupan ruang udara dan penghentian penerbangan membuat sebagian WNI tidak dapat bepergian, termasuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Indonesia.

Satu di antaranya Hani Shafa Fadillah, mahasiswi Program Studi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Ia mengaku belum dapat kembali ke Indonesia untuk mengikuti perkuliahan karena kondisi keamanan di kawasan tersebut.

Melalui pesan yang dikirimkan kepada dosen, Hani menyampaikan permohonan izin untuk mengikuti perkuliahan secara daring atau mendapatkan tugas pengganti hingga situasi kembali normal.

Assalamualaikum Pak, mohon maaf belum bisa mengikuti perkuliahan. Saya belum bisa pulang ke Indonesia karena situasi perang di Timur Tengah,” tulis Hani.

1. Penutupan ruang udara membuat ribuan WNI tertahan

WhatsApp Image 2025-07-17 at 13.47.31 (1).jpeg
ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)

Ketegangan regional membuat pemerintah Qatar menutup sementara ruang udara serta menghentikan operasional penerbangan di bandara utama negara tersebut. Akibatnya, mobilitas warga menjadi terbatas.

Bandara Internasional Hamad di Doha dilaporkan sempat ditutup demi alasan keamanan. Situasi ini menyebabkan sekitar 8.000 WNI tertahan karena hendak melakukan perjalanan transit dari Doha.

Secara keseluruhan, jumlah warga Indonesia yang berada di Qatar diperkirakan mencapai sekitar 38.000 orang. Mereka kini harus menghadapi ketidakpastian situasi keamanan di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

2. Warga terima peringatan darurat dan membatasi aktivitas

WhatsApp Image 2025-07-17 at 13.47.30.jpeg
ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)

Hani menceritakan suasana di Doha saat ini jauh berbeda dari biasanya. Setiap hari warga menerima notifikasi peringatan darurat di telepon genggam mereka apabila terdeteksi potensi ancaman. Peringatan tersebut biasanya muncul ketika terdapat kemungkinan rudal melintas dari arah Iran. Warga diminta tetap waspada serta membatasi aktivitas di luar rumah.

“Mencekam, Pak. Setiap hari ada warning di HP (handphone) ketika ada bahaya atau missiles datang,” cerita Hani.

Ia juga menjelaskan jarak pusat Kota Doha dengan pangkalan militer Amerika Serikat, Al Udeid Air Base, hanya sekitar 28 kilometer. Kedekatan itu membuat rasa cemas warga semakin meningkat.

Menurutnya, di tengah situasi tersebut, warga memilih memperbanyak persediaan kebutuhan pokok, membatasi aktivitas di luar rumah, serta terus memantau informasi resmi dari pemerintah Qatar.

3. Ketidakpastian kuliah jadi kekhawatiran utama

WhatsApp Image 2025-06-23 at 16.12.32.jpeg
Ilustrasi perang Iran Israel (IDN Times/Aditya Pratama)

Hani tinggal bersama kedua orangtua serta dua saudaranya di Qatar. Ayahnya bekerja di perusahaan minyak yang menjadi sektor penting bagi perekonomian negara tersebut. Sejak 2022, keluarganya menetap di Qatar. Sementara itu, Hani biasanya bolak-balik antara Qatar dan Indonesia untuk menyelesaikan perkuliahan di IIB Darmajaya.

Namun sejak konflik memanas dan penerbangan dihentikan, mobilitas tersebut terpaksa terhenti. Tidak ada kepastian kapan bandara akan kembali dibuka dan penerbangan kembali beroperasi normal. Di tengah kondisi tidak menentu, Hani berharap tetap dapat melanjutkan proses belajar meski harus dilakukan secara daring.

"Setiap malam, keluarga saya memilih berkumpul di satu ruangan, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu situasi memburuk. Mohon doanya buat kami semua WNI yang ada di Timur Tengah. Doakan kami selamat,” kata dia.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Lampung

See More