Serka (Purn) Ali Anwar (82) Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Tahun 1975 menjadi salah satu bagian paling membekas dalam kehidupan Ali. Ratusan prajurit dari Batalyon 143/Garuda Hitam, termasuk dirinya saat itu diberangkatkan untuk menjalankan operasi di Timor Timur. Saat itu, konflik bersenjata masih berlangsung dan Fretilin menjadi salah satu kelompok utama berhadapan dengan pasukan bersenjata Indonesia.
Ali mengaku menjadi bagian dari sekitar 991 personel Batalyon 143 yang menjalankan tugas selama 13 bulan. "Operasinya selama 13 bulan. Batalyon 143 itu 13 bulan," kenangnya.
Bagi Ali, masa tersebut bukan sekadar bagian dari perjalanan karier. Ada suka dan duka, termasuk kehilangan rekan-rekan seperjuangan. Ia mengaku sampai sekarang masih memiliki perasaan emosional ketika membicarakan lepasnya Timor Timur dari Indonesia setelah proses politik dan referendum pada 1999.
"Saya secara pribadi tidak rela Timor Timur menjadi negara sendiri," ucapnya tertunduk.
Namun, sebagai prajurit sekaligus warga negara, ia mengatakan harus menerima keputusan negara. "Banyak sekali darah, banyak perjuangan kita yang sudah ditanamkan di Timor Timur. Prajurit-prajurit kita yang mati dalam melaksanakan operasi itu. Tetapi kita sadar karena warga negara, itu sudah keputusan negara," lanjut dia.
Ali menyebut, pengalaman tersebut sebagai bagian dari sejarah yang akan terus melekat dalam kehidupannya. "Namanya perjuangan, sejarah militer, sejarah hidup selama hidup ini," lanjut dia.