Itera Ajari Warga Olah Biji Pinang Jadi Pewarna Alami Ramah Lingkungan

- Dosen Itera melatih warga Desa Way Kalam mengolah biji pinang melalui EcoDye Pinang, dari ekstraksi, formulasi, hingga penerapan pewarna alami pada kain.
- Program melibatkan KUPS Tani Mulya 2 dan mahasiswa KKN Itera 2026, menerapkan riset kampus dengan bahan baku lokal yang melimpah secara berkelanjutan.
- EcoDye Pinang dinilai lebih ramah lingkungan daripada pewarna sintetis serta berpeluang dikembangkan menjadi usaha kerajinan dan tekstil bernilai ekonomi bagi desa.
Lampung Selatan, IDN Times - Biji pinang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, kini punya nilai tambah. Melalui inovasi EcoDye Pinang, dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengajarkan masyarakat mengolah biji pinang menjadi pewarna alami ramah lingkungan berpotensi menjadi produk unggulan desa.
Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) itu tak hanya sebatas sosialisasi. Warga mendapat pelatihan langsung mulai dari proses ekstraksi, formulasi, hingga teknik pengaplikasian pewarna alami pada kain. Inovasi tersebut juga dinilai memiliki peluang dikembangkan untuk produk kerajinan dan tekstil bernilai ekonomi.
1. Warga belajar langsung mengolah biji pinang menjadi pewarna alami

Kegiatan ini melibatkan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Tani Mulya 2 dan mahasiswa KKN Skema Rekognisi Itera 2026. Program tersebut menjadi implementasi hasil riset dosen yang langsung diterapkan kepada masyarakat agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dosen Teknik Kimia Itera, Feerzet Achmad mengatakan, EcoDye Pinang dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang melimpah. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya mengenalkan konsep, tetapi juga memberikan keterampilan praktis sehingga biji pinang dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
2. Lebih ramah lingkungan dan berpeluang jadi produk unggulan desa

Dalam sesi praktik, dosen lainnya Deviany memandu peserta mulai dari persiapan bahan, proses ekstraksi warna, hingga teknik aplikasi pada media kain. Selain mempelajari proses pembuatannya, peserta juga dikenalkan pada keunggulan EcoDye Pinang yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis.
"Pemanfaatan pewarna alami ini memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai produk unggulan desa berbasis sumber daya hutan sekaligus mendukung pengembangan usaha kerajinan dan tekstil," jelasnya.
3. Kepala desa sebut pelatihan membuka peluang usaha baru

Kepala Desa Way Kalam, Abdul Rasyid, menyambut baik inovasi tersebut karena memberikan alternatif pemanfaatan biji pinang yang selama ini belum dimaksimalkan oleh masyarakat. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh warga dari pelatihan ini dapat dikembangkan menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Ia berharap, melalui pendampingan mahasiswa KKN, masyarakat juga mampu menerapkan teknologi tersebut secara mandiri sehingga lahir produk berbasis sumber daya lokal yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.





















