Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Papua Selatan ke Lampung, Cerita Raymondo Pilih Kuliah ITERA
Mahasiswa baru terjauh ITERA dari Papua Selatan, Raymondo Cicilio Komoyap. (IDN Times/Muhaimin)
  • Raymondo Cicilio Komoyap dari Boven Digoel, Papua Selatan, menjadi mahasiswa baru ITERA 2026 di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota melalui jalur Afirmasi Pendidikan Tinggi.
  • Ia mengetahui ITERA dari kakaknya dan memilih jalur ADik karena melihat peluang beasiswa bagi mahasiswa Papua, sehingga memutuskan melanjutkan kuliah di Lampung.
  • Berlatar jurusan bangunan, Raymondo memilih PWK karena suka menggambar dan merancang; setelah perjalanan sekitar sembilan jam, ia mulai nyaman dengan fasilitas serta suasana Lampung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times – Menjadi mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menjadi langkah baru bagi Raymondo Cicilio Komoyap yang menjadi mahasiswa baru 2026 kategori domisili terjauh.

Pemuda kelahiran 2008 asal Boven Digoel, Papua Selatan, itu rela menempuh perjalanan panjang demi melanjutkan pendidikan tinggi di Sumatera.

Raymondo tercatat sebagai mahasiswa baru Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITERA melalui jalur Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Ia menjadi salah satu mahasiswa dengan daerah asal terjauh pada penerimaan mahasiswa baru ITERA 2026.

Raymondo berasal dari Sokanggo, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Sebelum berkuliah di ITERA, ia merupakan siswa SMKN 1 Boven Digoel dari jurusan bangunan.

1. Tahu ITERA dari sang kakak

Institut Teknologi Sumatera (ITERA). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Raymondo mengaku pertama kali mengetahui ITERA dari kakaknya. Ia kemudian tertarik mendaftar karena melihat peluang mendapatkan beasiswa melalui program ADik.

"Pertama saya tahu dari kakak, di sini ada kampus yang namanya ITERA. Saya pilih ADik karena peluang tembus beasiswanya besar karena banyak mahasiswa dari Papua di sini," ujar Raymondo, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi salah satu alasan kuat untuk meninggalkan Papua dan melanjutkan pendidikan di Lampung.

2. Tertarik PWK karena suka menggambar dan merancang

Ilustrasi menggambar. (Pexels.com/Sedanur Kunuk)

Raymondo memilih Program Studi PWK karena memiliki ketertarikan pada aktivitas menggambar, merencanakan, serta pekerjaan yang berkaitan dengan dunia konsultasi.

Latar belakang pendidikannya di jurusan bangunan juga membuat bidang tersebut terasa cukup dekat dengan minatnya.

"Saya ambil PWK karena saya suka menggambar, merencanakan dan suka ke arah konsultan," katanya.

Setelah menyelesaikan kuliah, Raymondo menargetkan dapat bekerja di bidang konsultan sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya di ITERA.

3. Perjalanan panjang

Ilustrasi perjalanan dengan pesawat. (Pexels.com/Jeffry Surianto)

Perjalanan menuju kampus barunya di Lampung juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Raymondo. Ia menempuh perjalanan sekitar sembilan jam dengan pesawat.

"Dari Papua transit ke Makassar terus menuju Jakarta, kemudian melanjutkan penerbangan menuju Lampung," ujarnya.

Meski harus menempuh perjalanan jauh dan beradaptasi dengan lingkungan baru, Raymondo mengaku mulai merasa nyaman tinggal di Lampung.

Ia bahkan sudah berada di Lampung sekitar satu bulan. Menurutnya, Lampung memiliki fasilitas yang baik dan suasana yang cukup ramai dibandingkan daerah asalnya. "Lampung bagus, fasilitas bagus, tempatnya ramai," ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article