ilustrasi menembak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Kemampuan menembak Subardi terus diasah. Pada 1980, ia dikirim mengikuti lomba tembak tingkat nasional di Bandung. Dalam kejuaraan tersebut, ia belum berhasil meraih prestasi. Namun, pelatihnya tetap mengirim Subardi agar memiliki pengalaman dan mental bertanding.
"Komandan saya tahu kalau di Bandung itu banyak penembak-penembak mahir. Saya sudah dikasih tahu, 'Kamu kalah, cuma kamu tetap saya kirim supaya kamu punya mental bertanding'," katanya mengenang ucapan atasannya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Pada perlombaan berikutnya, Subardi berhasil menempati peringkat ketiga secara perorangan dalam kejuaraan tembak yang diikuti kontingen dari berbagai Kodam di Indonesia.
Prestasinya semakin terlihat di tingkat Sumatra Selatan. Dari 1980 hingga 1984, ia mengaku tidak terkalahkan dalam berbagai lomba tembak digelar di Palembang dan diikuti peserta dari Jambi, Bengkulu, Palembang hingga Lampung. "Jadi saya termasuk punya prestasi menembak," sambung dia.
Prestasi tersebut turut mengantarnya naik pangkat dari Serda menjadi Sertu. Pada 1984, Subardi resmi mengikuti seleksi Sekolah Perwira. Ia sempat kembali ditugaskan ke Timor Timur sebelum mengikuti tahap akhir seleksi atau Pantukhir di Bandung. Dari Dili, ia terbang ke Jakarta dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandung. "Alhamdulillah saya lulus," ujarnya.
Pada 1985, Subardi masuk pendidikan perwira dan lulus pada 1986. Ia kemudian ditugaskan ke Batalyon 144 di Bengkulu. Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjadi komandan peleton hingga komandan kompi. Pada 1988, ia kembali mendapat penugasan ke Timor Timur.