Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi sunami (pexels.com/GEORGE DESIPRIS)
  • Peneliti Itera menemukan jalur evakuasi tsunami di Way Muli perlu rambu lebih jelas, pelebaran akses, dan penerangan menuju titik kumpul; lereng area pengambilan batu juga perlu dipantau.

  • Itera merekomendasikan perluasan EWS, rambu, dan penerangan dalam 0–6 bulan; lalu SOP inklusif serta simulasi rutin, disusul evaluasi infrastruktur pesisir dan penanaman vegetasi.

  • Relawan Destana meminta pelatihan penanganan korban, APD, EWS cadangan, dan fasilitas titik kumpul. Kunjir belum memiliki EWS, sementara BPBD menyatakan pemantauan nasional berjalan 24 jam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Kesiapan menghadapi tsunami di wilayah pesisir tak cukup hanya dengan menyediakan jalur evakuasi. Petunjuk arah yang mudah terlihat, akses jalan memadai, hingga sistem peringatan dini juga menjadi bagian penting agar warga bisa menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim peneliti Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami Institut Teknologi Sumatera (Itera) saat mengamati wilayah pesisir Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Melalui kegiatan edukasi kesiapsiagaan bencana, tim bersama mahasiswa Generasi Tangguh Bencana (Gatera) mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mitigasi di Desa Way Muli, Way Muli Timur, dan Kunjir.

1. Rambu dan akses jalur evakuasi perlu diperbaiki

ilustrasi jalur evakuasi (pexels.com/Max J)

Akademisi Itera, Adnin Musadri Asbi menyampaikan, di Desa Way Muli, tim menemukan jalur evakuasi tsunami sudah tersedia di sejumlah titik. Namun, keberadaan jalur tersebut masih perlu didukung rambu penunjuk arah yang lebih jelas, terutama di persimpangan agar warga tidak kebingungan saat melakukan evakuasi.

Selain itu, pelebaran akses jalan dan penambahan penerangan menuju titik kumpul juga menjadi rekomendasi. Hal ini penting untuk memudahkan mobilitas warga, terutama ketika evakuasi berlangsung dalam kondisi darurat.

"Tim juga turut mengamati tanggul pemecah ombak yang tersusun dari batu dan dinilai berfungsi melindungi kawasan pantai. Tapi lereng di lokasi pengambilan batu perlu dipantau untuk mengantisipasi potensi longsor," jelasnya, Senin (2/11/2026).

2. Itera susun rekomendasi mitigasi secara bertahap

ilustrasi gelombang tsunami menghantam infrastruktur (pixabay.com/lazarosv)

Dari hasil observasi dan diskusi tersebut, Pusat Mitigasi Bencana Itera menyusun sejumlah rekomendasi untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pesisir. Menurut Adnin, dalam jangka pendek atau 0–6 bulan, prioritas diarahkan pada perluasan jangkauan EWS, pelengkapan rambu evakuasi, serta penambahan penerangan di jalur menuju titik kumpul.

Selanjutnya, dalam rentang 6–12 bulan, tim mendorong penyusunan prosedur operasional standar (SOP) evakuasi yang inklusif bagi lansia dan penyandang disabilitas. Simulasi evakuasi secara rutin juga dinilai penting untuk meningkatkan kesiapan warga.

Rekomendasi jangka panjang mencakup evaluasi infrastruktur pesisir dan penanaman vegetasi. "Pemahaman terhadap ancaman, kerentanan wilayah, dan kapasitas masyarakat menjadi dasar penting dalam upaya mitigasi bencana, termasuk penguatan sistem peringatan dini," ujar Adnin.

Menurutnya, meski memiliki keterbatasan dalam penyediaan logistik kebencanaan, Itera siap mendampingi masyarakat dan BPBD melalui kajian akademis, edukasi, serta simulasi kebencanaan.

3. Relawan Destana membutuhkan pelatihan dan perlengkapan

ilustrasi menjadi relawan (pexels.com/ronlach)

Kesiapan masyarakat menghadapi tsunami juga menjadi perhatian dalam diskusi bersama kepala desa, BPBD Lampung Selatan, dan pengurus Desa Tangguh Bencana (Destana). Ketua Destana Way Muli, Samsudin, menyampaikan kebutuhan pelatihan penanganan korban serta pemenuhan alat pelindung diri (APD) bagi relawan.

Sementara itu, Ketua Destana Kunjir, Irwansyah, menyebut kondisi permukiman yang relatif jauh dari pantai menjadi salah satu faktor yang mendukung proses evakuasi. Namun, wilayah tersebut belum memiliki sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS).

Perwakilan Destana Way Muli Timur juga mengusulkan adanya sistem peringatan cadangan, pemeliharaan EWS secara berkala, simulasi evakuasi tahunan, serta penambahan fasilitas di titik kumpul.

BPBD Lampung Selatan menambahkan, pemantauan EWS telah terintegrasi secara nasional selama 24 jam. BPBD juga siap berkoordinasi untuk mengupayakan kebutuhan APD bagi relawan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article