Hingga kini belum ada bukti klinis secara langsung mengaitkan paparan Bisphenol A (BPA) dari galon PC dengan gangguan hormon, reproduksi, dan kanker pada manusia. Terlebih lagi BPOM belum pernah melakukan kajian terkait hal tersebut.
Hal itu disampaikan Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Johnner Sitompul. Ia menilai, masyarakat perlu kritis membedakan BPA sebagai senyawa yang berdiri sendiri dengan BPA sebagai unsur pembentuk kemasan. BPA sebagai bahan pencampur plastic polikarbonat sangat sulit terlepas dari ikatan plastiknya, jadi kecil kemungkinan migrasi, apalagi dalam suhu normal. PC adalah bahan kemasan yang tahan panas, karenanya digunakan sebagai kemasan guna ulang yang lebih ramah lingkungan.
"Riset itu (bahaya galon PC) belum terlihat, yang banyak itu risiko BPA terhadap bayi, terhadap kelenjar-kelenjar atau hormon terhadap obesitas BPA-nya ya, bukan polikarbonatnya," kata Johnner dalam keterangan resmi, Minggu (12/7/2026).
Johnner menjelaskan, BPA merupakan zat pembentuk yang berubah bentuk saat menjadi polikarbonat. Belum ada penelitian yang membuktikan polikarbonat dalam bentuk galon yang dapat terurai kembali menjadi BPA saat bersentuhan dengan air.
Dia mengatakan, penelitian yang selama ini banyak berkembang justru masih berfokus pada BPA sebagai senyawa tersendiri, bukan pada galon polikarbonat yang digunakan sebagai wadah air minum. Padahal, sambung dia, senyawa pembentuk (monomer) yang tergabung dalam polikarbonat berubah dan memiliki karakteristik yang jauh lebih stabil.
Johnner menjelaskan, hal ini lantaran materi polikarbonat dibentuk melalui reaksi polimerisasi sehingga memiliki ikatan kuat dan tidak mudah luruh atau rusak apabila digunakan sebagai kemasan pangan. Berbeda apabila materi tertentu yang hanya terbentuk melalui reaksi fisik sehingga memiliki ikatan yang lemah.
"Kalau sudah reaksi dia kan membentuk seperti senyawa baru yang kuat, kayak polimer (hasil bentukan monomer) itu kuat. Perdebatan selama ini kerap mencampuradukkan antara BPA sebagai bahan penyusun (monomer) dengan polikarbonat sebagai produk akhir yang telah mengalami reaksi kimia," kata Guru Besar Jebolan University of Wales ini.
Johnner berpendapat, diperlukan penelitian yang secara khusus yang menguji apakah BPA dalam polikarbonat dapat bermigrasi ke dalam air dalam kondisi penggunaan nyata. Menurutnya, hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi rujukan ilmiah yang objektif.
