Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BMKG Lampung: Fenomena El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027
Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
  • BMKG Lampung memprediksi fenomena El Nino 'Godzilla' akan bertahan hingga awal 2027 dengan potensi kekeringan, penurunan air bersih, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan.
  • Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi Juli–September 2026 dengan curah hujan rendah dan durasi lebih panjang, sehingga masyarakat diminta waspada terhadap dampaknya.
  • Pemerintah menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah karhutla serta mengimbau masyarakat berhemat air dan tidak membakar lahan selama kondisi kering ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mewaspadai dampak fenomena El Nino "Godzilla" diprediksi memengaruhi musim kemarau 2026. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto mengatakan, sebagian besar zona musim di Indonesia diperkirakan mengalami penurunan curah hujan akibat pengaruh El Nino.

"El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak terhadap perubahan pola iklim global. Di Indonesia, fenomena ini umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering," ujarnya dikonfirmasi, Rabu (17/6/2026).

1. El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027

ilustrasi panas siang hari (freepik.com/press

Berdasarkan perhitungan BMKG pada awal Juni 2026, Rudi menjelaskan, fenomena El Nino diprediksi masih akan bertahan hingga awal 2027. Menurutnya, peluang El Nino mencapai kategori moderat mencapai 98 persen, sedangkan peluang meningkat ke kategori kuat sekitar 62 persen.

"Karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang mungkin muncul, terutama kekeringan, penurunan ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

2. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi Juli-September

ilustrasi kemarau basah (pexels.com/Pixabay)

BMKG turut memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih cepat di sebagian besar wilayah Indonesia. Sementara puncak musim kemarau, diperkirakan berlangsung secara bertahap pada periode Juli hingga September 2026.

Oleh karena itu, Rudi menyampaikan, durasi kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dengan curah hujan lebih rendah dibandingkan kondisi normal.

"Kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini, terutama di daerah-daerah yang selama ini memiliki kerentanan terhadap kekeringan," katanya.

3. Pemerintah siapkan operasi modifikasi cuaca cegah karhutla

Pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM bersiap untuk lepas landas dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/10/2025). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Sebagai langkah mitigasi, Rudi menyampaikan, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Kementerian Lingkungan Hidup telah menyiapkan sejumlah upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Salah satu langkah mitigasi yang dilakukan dan digencarkan ialah, pembasahan kembali atau rewetting lahan gambut melalui upaya teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Teknologi ini dilakukan dengan penyemaian awan menggunakan bahan tertentu untuk meningkatkan peluang hujan. Tujuannya menjaga kelembapan lahan gambut sehingga risiko kebakaran dapat ditekan," jelas Rudi.

4. BMKG minta masyarakat mulai hemat air

ilustrasi hemat air (pexels.com/Miriam Alonso)

Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih ekstrem, Rudi menambahkan, BMKG mengimbau masyarakat mulai melakukan sejumlah langkah antisipasi.

Mulai dari menggunakan air secara bijak dan efisien untuk kebutuhan sehari-hari, hingga menampung air hujan selama masih terjadi hujan sebagai cadangan saat puncak kemarau. Termasuk meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena berpotensi memicu kebakaran besar saat kondisi cuaca kering.

"Masyarakat juga perlu menjaga kesehatan dengan memastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi, serta menggunakan masker apabila kualitas udara menurun akibat debu atau asap kebakaran," imbuhnya.

Editorial Team

Related Article