Comscore Tracker

BI Lampung: Inflasi 2021 Balam dan Metro 3 Plus Minus Satu Persen

Perlu langkah pengendalian inflasi konkrit

Bandar Lampung, IDN Times - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, menyatakan, Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung 2020 tercatat rendah pada batas bawah kisaran sasaran 3 plus minus 1 persen

Capaian inflasi IHK tahun 2020 tercatat sebesar 2,00 persen (yoy) atau melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3,44 persen (yoy).

1. Komoditas penyumbang inflasi terbesar

BI Lampung: Inflasi 2021 Balam dan Metro 3 Plus Minus Satu PersenIlustrasi cabai merah dan cabai hijau (IDN Times/Saifullah)

Inflasi yang rendah tersebut dipengaruhi permintaan masyarakat yang belum kuat sebagai dampak pandemik COVID-19, pasokan yang memadai, dan sinergi kebijakan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga kestabilan harga.

Komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam ras, dan berasdengan andil masing-masing sebesar 0,31 persen, 0,13 persen, 0,09 persen, 0,05 persen dan 0,03 persen.

"Peningkatan tekanan inflasi, khususnya cabai merah dan cabai rawit disebabkan terganggunya produksi seiring dengan meningkatnya curah hujan," jelas Budi sapaan akrabnya, Sabtu (9/1/2021).

Ia menambahkan, harga telur ayam ras dan daging ayam ras juga naik dipengaruhi naiknya permintaan menjelang libur akhir tahun. Itu juga dipicu kenaikan harga pakan ternak, diantaranya jagung dan kedelai. 

Selain itu, kenaikan harga telur ayam disebabkan terbatasnya pasokan day old chicken (DOC). Harga beras juga mengalami kenaikan seiring dengan berkurangnya pasokan memasuki masa tanam di beberapa daerah.

2. Lebih tinggi dibanding inflasi nasional

BI Lampung: Inflasi 2021 Balam dan Metro 3 Plus Minus Satu Persen(Ilustrasi Fajar Indonesia Network)

Rendahnya realisasi inflasi tahun 2020 didukung oleh capaian kelompok inflasi yang terkendali. Inflasi kelompok inti terpantau menurun pada tingkat yang rendah, sebesar 1,52% (yoy) dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 3,38% (yoy).

Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi penurunan permintaan masyarakat akibat pandemik COVID-19 sejak Maret 2020.

“Meski demikian, capaian tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional dan Sumatera yaitu sebesar 1,69 persen (yoy) dan 1,90 persen (yoy),” ujar Budi.

Baca Juga: Kabar Baik, Pertumbuhan Ekonomi Lampung Kuartal IV Diprediksi Positif

3. Inflasi pangan menurun dibanding tahun 2019

BI Lampung: Inflasi 2021 Balam dan Metro 3 Plus Minus Satu Persenpexels.com/@DariaShevtosa

Dari sisi inflasi kelompok volatile foods tercatat, melambat sebesar 4,19 persrn (yoy), atau lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yakni 5,59 persen (yoy).

Budi menjelaskan, melambatnya inflasi pangan disebabkan penurunan permintaan dari sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) sebagai dampak merebaknya pandemik COVID-19. Efektivitas TPID dalam menjaga kecukupan pasokan bahan pangan strategis, semakin mendorong tercapainya inflasi volatile foods yang terkendali di tahun 2020.

Di sisi lain, tekanan inflasi administered pricestahun 2020 relatif meningkat dari 0,76 persen (yoy) pada tahun 2019 menjadi 1,35 persen (yoy) seiring dengan kenaikan cukai rokok, tarif penyeberangan Merak-Bakauheni, dan bahan bakar rumah tangga.

4. Inflasi Kota Bandar Lampung dan Kota Metro Desember 2020 tergolong moderat

BI Lampung: Inflasi 2021 Balam dan Metro 3 Plus Minus Satu Persenwisatasumatera.com

Pada Desember 2020, inflasi IHK mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Inflasi IHK pada Desember 2020 tercatat sebesar 0,66 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,12 persen (mtm).

Pencapaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional tercatat sebesar 0,45 persen (mtm), namun lebih rendah dari inflasi Sumatera yang tercatat sebesar 0,72 perden (mtm).

Secara spasial, dibandingkan 90 kota perhitungan inflasi nasional, inflasi Kota Bandar Lampung dan Kota Metro pada bulan Desember 2020 tergolong moderat dan masing-masing menempati urutan ke-29 dan ke-41.

5. Risiko perlu dimitigasi BI Provinsi Lampung

BI Lampung: Inflasi 2021 Balam dan Metro 3 Plus Minus Satu Persenpexels.com/Polina Tankilevitch

Ke depan, KPw BI Provinsi Lampung memandang bahwa inflasi akan tetap terkendali pada rentang sasaran 3 plus minus satu persen. Namun demikian, terdapat beberapa risiko perlu dimitigasi, antara lain, ketidakseimbangan jumlah pasokan komoditas bahan pangan menghadapi normalisasi konsumsi masyarakat seiring dengan optimisme pulihnya aktivitas ekonomi.

Pandemik COVID-19 telah berdampak pada menurunnya harga jual komoditas bahan pangan. Kondisi tersebut mengakibatkan turunnya pendapatan produsen, tergerusnya margin hingga kerugian yang menyebabkan berkurangnya modal dan terjadi disinsentif untuk berproduksi kembali.

"Menurunnya kemauan dan kemampuan untuk berproduksi akan menyebabkan penurunan pasokan dan berpotensi meningkatkan inflasi di masa yang akan datang," urai Budi.

Ia menambahkan, berlanjutnya kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit seiring kurang optimalnya produksi pada musim penghujan.

Selain itu, kenaikan harga kedelai yang berisiko mendorong naiknya harga bahan makanan, termasuk harga produk peternakan. Terakhir, berlanjutnya kenaikan harga beras seiring masuknya periode tanam di beberapa sentra produksi.

6. Langkah-langkah pengendalian inflasi

BI Lampung: Inflasi 2021 Balam dan Metro 3 Plus Minus Satu PersenIlustrasi inflasi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

BI Lampung menilai, langkah-langkah pengendalian inflasi yang konkrit terutama untuk menjaga inflasi yang tetap rendah dan stabil. Caranya, memastikan keterjangkauan harga, dengan cara melakukan pemantauan harga harian dan perbandingan harga dengan daerah lain.

Kemudian, memastikan ketersediaan pasokan sebagai antisipasi lonjakan permintaan akibat optimisme masyarakat akan adanya vaksin COVID-19.

Untuk itu, Budi mengatakan, TPID provinsi/kabupaten/kota perlu meningkatkan intensitas koordinasi. Satu caranya, melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD) dalam hal pemenuhan komoditas pangan strategis menghadapi risiko kenaikan harga.

Kota Bandar Lampung sebagai wilayah yang memiliki kontribusi besar pada inflasi Provinsi Lampung perlu mengupayakan KAD, khususnya untuk komoditas-komoditas utama penyumbang inflasi.

Baca Juga: BI Lampung Donasi Laptop dan Perangkat PJJ ke 24 Lembaga Pendidikan

Topic:

  • Silviana
  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya