Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tolak Jokowi di Lampung, Massa FSML Tuntut Isu HAM hingga Ijazah
Massa menggelar aksi penolakan safari politik Presiden ke-7 RI, Jokowi di Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
  • FSML menggelar aksi menolak kedatangan Jokowi di Lampung dengan membawa isu dugaan pelanggaran HAM, ketidakadilan hukum, dan polemik ijazah presiden.
  • Massa menyoroti peristiwa KM 50 serta aksi 21-22 Mei 2019 sebagai bentuk pelanggaran HAM dan menilai penegakan hukum era Jokowi tidak konsisten.
  • FSML juga mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi serta menduga safari politiknya berkaitan dengan upaya mendorong Gibran maju di Pemilu 2029.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Forum Suara Masyarakat Lampung (FSML) menyampaikan penolakan terhadap kedatangan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo dalam kunjungan di Provinsi Lampung. Aksi disertai tuntutan mulai dari menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), ketidakadilan penegakan hukum, hingga isu ijazah.

Koordinator Lapangan FSML, Hj Meri mengatakan, penolakan kehadiran mantan kepala negara tersebut didasarkan pada sejumlah catatan selama masa pemerintahan Jokowi.

“Karena pertama, ketika Pak Jokowi memimpin negeri ini, pernah terjadi dugaan pelanggaran HAM. Yaitu, peristiwa KM 50 yang menewaskan pengawal Habib Rizieq. Kami menilai tidak ada empati dari pemerintah saat itu,” ujarnya dimintai keterangan, Sabtu (27/6/2026).

1. Soroti ketidakadilan proses hukum

Massa menggelar aksi penolakan safari politik Presiden ke-7 RI, Jokowi di Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

FSML turut menyinggung peristiwa 21-22 Mei 2019 diklaim sebagai bentuk pelanggaran HAM. Meri melanjutkan, massa menilai adanya korban jiwa hingga penangkapan terhadap ratusan orang dalam rangkaian aksi pasca Pemilu saat itu.

Selain itu, FSML menyoroti dugaan ketidakadilan penegakan hukum di era pemerintahan Jokowi. Mereka menyinggung sejumlah kasus hukum yang disebut belum diproses secara konsisten, termasuk perkara telah inkracht namun belum dieksekusi.

“Ini kami nilai sebagai bentuk ketidakadilan hukum. Ada yang sudah inkracht tapi tidak dijalankan seperti halnya kasus Silfester dalam laporan pak Jusuf Kalla,” katanya dengan nada lantang.

2. Pertanyakan polemik ijazah

Massa menggelar aksi penolakan safari politik Presiden ke-7 RI, Jokowi di Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Lebih lanjut Meri menegaskan, FSML juga mempertanyakan polemik ijazah Presiden Jokowi kembali mencuat di ruang publik. Massa menilai, seharusnya presiden dapat menunjukkan dokumen tersebut, untuk meredam polemik di masyarakat.

“Hal ini sungguh sangat sederhana saja, tinggal tunjukkan ijazah agar tidak terjadi kegaduhan di tengah publik,” imbuh dia.

3. Dugaan upaya dorong Gibran di Pemilu 2029

Massa menggelar aksi penolakan safari politik Presiden ke-7 RI, Jokowi di Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

FSML juga menyinggung agenda politik ke depan dan mengingatkan agar kepemimpinan nasional di masa mendatang diisi oleh figur yang dinilai memiliki kapasitas intelektual, spiritual, serta kematangan usia untuk memimpin Indonesia.

Pasalnya, massa menduga kegiatan safari politik berkeliling ke sejumlah wilayah Indonesia yang dilakukan oleh Jokowi ditujukan untuk melanggengkan jalan Gibran Rakabumiraka di kontestasi Pemilu 2029.

"Silakan saja! Tetapi, kami ingin negeri ini dipimpin oleh seseorang anak bangsa yang cerdas intelektualnya, yang cerdas spiritualnya, yang sudah matang, dan yang cukup umurnya!," imbuh Meri.

Editorial Team

Related Article