Buruh demo Tapera di Bundaran Patung Kuda, Jakarta Pusat. (IDN Times/Amir Faisol)
Meski program tersebut dianggap memiliki tujuan bagus, Nairobi tak menampik jika cara pemerintah mewajibkan pembayaran Tapera akan menyakiti pekerja buruh berpenghasilan kecil. Namun, pihaknya menekankan, potongan penghasilan tersebut akan memberikan kenyamanan di masa depan karena tujuannya sudah jelas untuk mendapat rumah. Menurutnya, peluang mendapatkan rumah akan lebih besar dibanding tidak memiliki Tapera.
“Bagi pekerja buruh, sakit memang penghasilnnya dipotong segitu. Tapi peluang dia punya rumah pasti ada. Karena cuma setahun mengikuti program ini dia boleh ikut KPR, dibanding orang yang gak ikut, siapa yang akan ACC dia dapat KPR karena perlu uang muka dan lain-lain. Jangan marah dulu karena dipotong sekarang pendapatnya, karena yang dihitung itu future valuenya. Nilai masa depan itu lebih berharga dari pada nilai sekarang,” terangnya
Menurut Nairobi, ketika dihadapkan dengan sebuah pilihan, masyarakat seharusnya bisa mengambil pilihan terbaik dan berpikir secara ekonomi. Bahwa setiap pilihan memang harus ada yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga di masa depan.
“Kalau diadakan pilihan, apakah kemudian boroskan penghasilan untuk sesuatu tidak penting atau untuk masa depan lebih baik? Kalau memang penghasilan kita dipotong sekian, ya kurangi rokoknya, kurangi pengeluaran tidak produktifnya untuk mendapatkan rumah di masa depan, itu pengorbanan namanya. Tapi kalau Gen Z mungkin berpikirnya beda, mereka lebih kraetif dan inovatif, pasti levelnya beda. Rumah mereka pasti bukan tipe yang seperti ini, karena ini kan tipe rumah yang sangat-sangat sederhana,” kata Nairobi.
Pihaknya juga berpesan agar pengelola Tapera benar-benar hati-hati, transparan, akuntabel dan harus bisa memberikan kredit rumah paling ringan. Kemudian, memberikan kepastian pada peserta bahwa mereka yang memenuhi syarat pasti akan mendapat rumah.