Pengamatan Hilal Ramadan di Lampung, OAIL Itera Siapkan 3 Teleskop

- Observatorium Astronomi ITSL akan menggelar pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1446 Hijriah
- Pengamatan dilakukan dengan Teleskop Robotik OZT-ALTS dan kamera CCD monokrom serta kamera CMOS
- Jika hilal tidak terlihat, bulan Hijriah digenapkan menjadi 30 hari dan penentuan awal Ramadan tetap menunggu sidang isbat Kementerian Agama RI
Lampung Selatan, IDN Times - Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera Lampung (OAIL) akan menggelar pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1446 Hijriah di Kompleks Stasiun Pengamat Bulan (OZT-ALTS) Taman Alat MKG Kampus Itera, Jumat (28/2/2025).
Ketua Tim Pengamatan Hilal Ramadan 1446 H OAIL, Annisa Novia Indra Putri mengatakan, pengamatan hilal ini kampus digelar bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Lampung.
"OAIL membuka pengamatan ini untuk umum dan menyediakan siaran langsung melalui kanal YouTube OAIL di https://tinyurl.com/youtube-oail serta laporan singkat di akun Instagram @oail.itera. Masyarakat yang tidak dapat hadir langsung tetap bisa memantau pengamatan melalui kedua platform tersebut," ujar Annisa.
1. Awal bulan Hijriah ditandai terlihatnya bulan sabit muda saat matahari terbenam

Dalam pelaksanaannya nanti, Annisa menjelaskan, tim OAIL akan menggunakan Teleskop Robotik OZT-ALTS, sebuah refraktor triplet apokromat berdiameter 152 mm dengan panjang fokus 1.200 mm. Pengamatan juga akan didukung oleh kamera CCD monokrom berkecepatan tinggi dengan filter inframerah serta kamera CMOS berwarna.
Selain itu, OAIL menyediakan dua teleskop portable Barride Optics A-102 (diameter 102 mm, panjang fokus 900 mm), binokuler, dan teleskop Utopia III (diameter 70 mm, panjang fokus 500 mm) bagi peserta yang hadir.
"Secara astronomis, awal bulan Hijriah ditandai dengan terlihatnya bulan sabit muda (hilal) saat Matahari terbenam pada tanggal 29 bulan Hijriah," ucapnya.
2. Perhitungan tim OAIL awal bulan Hijriah jatuh pada 28 Februari

Bila hilal tidak terlihat atau tidak memungkinkan untuk diamati, Annisa menyebut bulan Hijriah digenapkan menjadi 30 hari. Sedangkan di tahun ini, 29 Sya’ban 1446 H bertepatan dengan 28 Februari 2025. Sehingga berdasarkan perhitungan tim OAIL, konjungsi toposentrik terjadi pada 28 Februari 2025 pukul 06.03 WIB.
Lanjutnya, meskipun ketinggian hilal sudah melebihi kriteria visibilitas hilal Neo MABIMS (minimal 3 derajat), elongasi hilal masih belum memenuhi kriteria minimal 6,4 derajat. Oleh karena itu, hasil akhir penentuan 1 Ramadan 1446 H tetap menunggu sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI.
"Saat matahari terbenam di Itera pada pukul 18.19 WIB, Bulan akan berada di horizon barat dengan umur sabit Bulan 12 jam 4 menit," imbuhnya.
3. Hasil akhir penentuan 1 Ramadan 1446 H tetap menunggu sidang isbat

Berdasarkan perhitungan toposentrik, Annisa melanjutkan, ketinggian bulan saat matahari tenggelam adalah +03°:38′:55″, dengan azimut +263°:58′:02″ dan beda azimut +04°:48′:07″ dari lokasi matahari terbenam. Sementara itu, elongasi bulan tercatat sebesar +05°:09′:32″. Bulan diperkirakan terbenam pada pukul 18.39 WIB di lokasi pengamatan.
Meskipun ketinggian hilal sudah melebihi kriteria visibilitas hilal Neo MABIMS (minimal 3 derajat), elongasi hilal masih belum memenuhi kriteria minimal 6,4 derajat.
"Oleh karena itu, hasil akhir penentuan 1 Ramadan 1446 H tetap menunggu sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Namun tetap, diharapkan pengamatan kali ini berlangsung lancar dengan langit cerah yang mendukung keberhasilan observasi," ucapnya.



















