Ekosistem AI for Education Inklusif, Matematika Lebih Menyenangkan

- Telkomsel, Pemprov Bali, Gasing Academy, Kuncie, dan pemangku kepentingan pendidikan berkolaborasi memperkuat numerasi guru serta siswa melalui ekosistem AI for Education.
- Program mencakup pelatihan guru dengan metode GASING, latihan matematika interaktif berbasis AI lewat Sacred Octagon, serta SkulPintar untuk pembelajaran, asesmen, dan pemantauan data.
- Guru tetap menjadi pusat pembelajaran, sementara teknologi membantu menyesuaikan pengalaman belajar siswa; paket Telkomsel x Sacred Octagon sebelumnya diluncurkan melalui MyTelkomsel dan by.U.
Setiap anak berhak belajar matematika dengan cara yang mudah dipahami dan membangun kepercayaan diri. Merujuk hal itu, Telkomsel bersama Pemerintah Provinsi Bali, Gasing Academy, Kuncie, dan para pemangku kepentingan pendidikan berkolaborasi mendukung penguatan kapabilitas numerasi guru dan siswa.
Caranya melalui ekosistem pembelajaran digital dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan (AI for Education). Lebih dari sekadar kemampuan berhitung, numerasi telah menjadi fondasi untuk bernalar, memahami informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan sehari-hari.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, mengatakan, ekosistem kolaborasi dimulai dari peningkatan kompetensi guru melalui Gasing Academy, dengan pendekatan GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan). Pembelajaran siswa kemudian diperkuat melalui Sacred Octagon, platform berbasis permainan yang didukung dengan teknologi AI untuk membantu anak berlatih matematika secara interaktif dan bertahap.
"SkulPintar selanjutnya disiapkan untuk mendukung pembelajaran dan asesmen, sementara hasil pelaksanaan program dirancang agar dapat dipantau berbasis data sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan berkelanjutan," jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (18/8/2026).
Saat kegiatan digelar, guru dan siswa menyaksikan serta mencoba pembelajaran Sacred Octagon dan pendekatan GASING. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan di lapangan dan mengukur manfaat program secara bertahap, sehingga pelaksanaannya tetap relevan bagi sekolah, guru, siswa, dan keluarga.
Dalam konsep AI for Education, guru tetap menjadi pusat proses pembelajaran. Teknologi sebagai alat bantu agar pendidik dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih sesuai perkembangan kemampuan siswa, bukan untuk menggantikan tuntunan, empati, dan pemahaman guru terhadap setiap anak.
Pencetus Metode GASING, Yohanes Surya mengatakan, tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru dan metode yang baik. "Melalui GASING, matematika kami hadirkan secara sederhana, bertahap, dan menyenangkan. Ketika guru semakin percaya diri mengajar dan anak tidak lagi takut mencoba, di situlah proses belajar mulai membawa perubahan,” ujarnya
Sebelumnya, Telkomsel dan INA AI telah menghadirkan Paket Bundling Telkomsel x Sacred Octagon melalui aplikasi MyTelkomsel dan by.U untuk memperluas akses keluarga Indonesia terhadap pembelajaran numerasi digital.


















