Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemkot Balam Dorong Urban Farming, Bantu Tambah Penghasilan Keluarga
ilustrasi urban farming (pexels.com/Matheus Bertelli)
  • Dinas Pertanian Bandar Lampung melibatkan 80 Kelompok Wanita Tani di 18 kecamatan untuk mengembangkan urban farming sayuran di pekarangan dan demplot.
  • KWT memanfaatkan metode konvensional, hidroponik, serta vertikultur; panen digunakan untuk kebutuhan pangan rumah tangga dan kelebihan hasil dapat dijual sebagai tambahan penghasilan.
  • Pemkot menyediakan bibit, pupuk, pendampingan teknologi, dan monitoring berkala, sementara pembentukan KWT masih bertahap di sejumlah wilayah seperti Telukbetung Timur dan Enggal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times – Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Dinas Pertanian kini melibatkan 80 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tersebar di 18 kecamatan. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah dan demplot untuk menanam berbagai komoditas pertanian, terutama sayuran.

Kepala Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung, Dedeh Ernawati Fauzie, mengatakan hasil tanaman yang dikelola anggota KWT tidak seluruhnya harus dikonsumsi sendiri. Sebagian hasil panen dapat dipasarkan sehingga memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.

“Manfaat utamanya tentu untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri skala rumah tangga. Selain itu, komoditas sayuran yang ditanam di lahan terbatas juga dapat dijual sehingga memberi nilai tambah bagi penghasilan para anggota KWT,” katanya, Rabu (2/9/2026).

1. Lahan pekarangan dimanfaatkan untuk bercocok tanam

ilustrasi urban farming (pexels.com/johnnoibn)

Dedeh menjelaskan, keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat perkotaan untuk melakukan kegiatan pertanian.

Para KWT menggunakan sejumlah metode, mulai dari penanaman konvensional, hidroponik, hingga vertikultur dengan memanfaatkan pot dan polybag.

“Kami terus mendorong optimalisasi pekarangan rumah tangga melalui urban farming. Dari 80 KWT yang tersebar di kelurahan se-Kota Bandar Lampung, sebagian besar memanfaatkan teknik penanaman konvensional, hidroponik, hingga vertikultur menggunakan media pot maupun polybag,” ujarnya.

Menurut Dedeh, konsep tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ganda. Selain mengurangi pengeluaran untuk membeli sebagian kebutuhan sayuran, hasil panen yang berlebih dapat menjadi sumber pemasukan tambahan.

2. Pemkot beri bibit hingga pendampingan

ilustrasi bibit cabai merah (unsplash.com/Ajai Arif)

Untuk menjaga keberlanjutan program, Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung memberikan dukungan kepada KWT yang menjalankan urban farming.

Bantuan tersebut berupa bibit tanaman sayuran dan pupuk. Para anggota KWT juga mendapatkan pendampingan mengenai inovasi serta teknologi pertanian.

Dinas Pertanian turut melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan kelompok tetap aktif melakukan produksi.

“Monitoring berkala juga dilakukan untuk memastikan setiap KWT tetap aktif memproduksi hasil pertanian perkotaan,” tegas Dedeh.

3. Belum semua wilayah memiliki KWT

ilustrasi urban farming (pexels.com/Kampus Production)

Meski telah menjangkau 18 kecamatan, pengembangan KWT di Bandar Lampung masih dilakukan secara bertahap.

"Di Kecamatan Telukbetung Timur, misalnya, KWT baru dibentuk oleh penyuluh pertanian setempat dan masih dalam proses registrasi," jelasnya.

Sementara di Kecamatan Enggal, Dinas Pertanian masih melakukan pemetaan untuk membentuk wadah KWT karena hingga kini belum memiliki kelompok tersebut.

Dedeh berharap, keberadaan KWT dapat terus berkembang sehingga pemanfaatan pekarangan tidak hanya mendukung kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article