Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Meroket! DBD di Lampung 4.151 Kasus, 14 Penderita Meninggal
Fogging gratis dilakukan personel Satbrimob Polda Lampung. (Dok. Polda Lampung).
  • Lonjakan kasus DBD di Provinsi Lampung kian mengkhawatirkan, dengan 14 dari 4.151 orang terjangkit meninggal dunia dalam empat bulan terakhir.
  • Kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Lampung Utara dan Lampung Tengah, dipengaruhi oleh perubahan iklim El Nino dan La Nina serta minimnya budaya PSN.
  • Dinas Kesehatan menghimbau masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang DBD, aktifkan Jumantik, dan galakkan PSN 3M Plus sebagai upaya pencegahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Lampung kian mengkhawatirkan. Sebanyak 14 dari 4.151 orang terjangkit dinyatakan meninggal dunia dalam empat bulan terakhir.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung menyebutkan, sepanjang pencatatan Januari - April 2024 dari total 4.151 kasus, tertinggi terjadi di Kabupaten Lampung Utara dan Lampung Tengah masing-masing temuan 822 kasus dan 763 kasus.

Kasus DBD ini tergolong melonjak signifikan dibandingkan tahun lalu. Tercatat, total kasus dari Januari sampai dengan April 2023 sejumlah 1.051 kasus.

"Terjadinya lonjakan kasus DBD dipengaruhi oleh beberapa faktor perubahan iklim seperti curah hujan di 2023, kita mengalami perubahan iklim El Nino yakni kemarau panjang, sedangkan 2024 perubahan iklim La Nina atau curah hujan yang cukup tinggi," ujar Kadinkes Provinsi Lampung, Edwin Rusli kepada IDN Times, Jumat (17/5/2024).

1. Budaya pemberantasan sarang nyamuk oleh masyarakat belum optimal

ilustrasi larva nyamuk dalam wadah (pexels.com/Helena Jankovičová Kováčová)

Edwin melanjutkan, curah hujan secara tidak langsung memengaruhi perkembangbiakan nyamuk. Selain itu, berpengaruh terhadap curah hujan ideal yaitu air hujan tidak menimbulkan banjir tapi justru mengakibatkan genangan di suatu wadah atau tempat kembangbiak nyamuk, hingga berisiko pada peningkatan kasus DBD.

Seiring dengan itu, suhu dan kelembaban faktor lingkungan turut memengaruhi kehidupan nyamuk Aedes Aegypti menjadi vektor DBD. Kemudian kepadatan pemukiman turut memiliki risiko tinggi tertular DBD karena jarak terbang nyamuk relatif pendek.

"Faktor minimnya budaya PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3M Plus yang belum dilaksanakan secara optimal di masyarakat, serta mobilisasi penduduk yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan peningkatan kasus terjadi di seluruh provinsi, tidak hanya di Lampung, bahkan meningkatnya kasus juga terjadi di beberapa negara di dunia," ucapnya.

2. Perilaku hidup bersih masih rendah, masyarakat pilih fogging dibanding PSN

Fogging gratis dilakukan personel Satbrimob Polda Lampung. (Dok. Polda Lampung).

Edwin menyebut, kesadaran masyarakat di Lampung ihwal berperilaku hidup bersih masih rendah turut menyumbang lonjakan kasus DBD. Itu dapat dilihat masyarakat lebih memilih fogging daripada melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).

Selain itu sanitasi kurang baik, kurangnya pengetahuan dalam mencegah dan sadar akan potensi terjadinya penyebaran DBD seperti tidak menutup penampungan air, menguras tempat-tempat penampungan air sampai mendaur ulang barang bekas, menggunakan anti nyamuk, dan menggantung pakaian bekas juga berpotensi pada kembangbiak nyamuk.

"Kami terus mengimbau kepada masyarakat mengenali tanda-tanda dan gejala awal DBD mulai dari gejala mendadak panas tinggi, merasa lemah dan lesu nyeri ulu hati dan belakang bola mata, serta tampak bintik-bintik merah pada kulit seperti gigitan nyamuk," terangnya.

Dengan gejala-gejala tersebut, pihaknya meminta masyarakat tak panik dan segera memberikan pertolongan pertama seperti memberi air minum sebanyak-banyaknya. "Dapat juga beri obat penurun demam golongan parasetamol, dapat dibantu dengan kompres air hangat, dan membawa pasien segera ke puskesmas atau rumah sakit," sambung dia.

3. Harapkan antisipasi gerakan massal dan berkelanjutan

ilustrasi demam (Irfan Fitrat/rejogja.co.id)

Sebagai upaya tindak lanjut, Edwin menyampaikan, pihaknya tak bosan selalu melakukan PSN 3M Plus secara rutin. Bukan hanya saat-saat musim penghujan akan tetapi dilakukan pemantauan berkala setiap minggu dari level rumah tangga hingga fasilitas publik.

Disebutkan, upaya promotif ini diharapkan bisa ditingkatkan kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang DBD, mengaktifkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik), dan menggalakkan PSN 3M Plus.

"Dinas Kesehatan juga berharap kepada masyarakat untuk bergerak secara massal dan berkelanjutan terkait langkah-langkah antisipasi, dengan melaksanakan gerakan serentak pencegahan dan pengendalian DBD dengan kegiatan PSN 3 M Plus dengan cara Menguras, Menutup, Mendaur ulang secara kontinu di lingkungan masing-masing," harapnya.

4. Yakini metode PSN 3M Plus ampuh berantas DBD

IDN Times/Istimewa

Edwin menambahkan, pengendalian vektor nyamuk Aedes Aegypti dengan menerapkan perilaku PSN 3M Plus masih sangat relevan, karena dapat memutus rantai penularan. Pasalnya, persoalan DBD tidak selesai dengan fogging, karena itu membunuh nyamuk dewasa, namun tidak dengan jentik-jentik nyamuk.

"Jadi perlu kita ketahui, banyak sekali jentik-jentik nyamuk ditemukan di tampungan-tampungan dalam maupun luar rumah atau bangunan yang merupakan sumber penularan," imbuhnya.

Skema penanganan lainnya, bila ditemukan kasus, maka harus dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Apabila hasilnya positif akan dilakukan penanggulangan fokus dengan fogging fokus, penyuluhan, PSN 3M Plus, dan larvasidasi selektif.

"Tetapi jika hasil PE negatif, maka dilakukan penyuluhan, PSN 3M Plus, dan larvasidasi seletif, tanpa dilakukan fogging. Sejauh ini, sudah ada juga inovasi pencegahan DBD dengan vaksin dengue," sambung dia.

5. Lonjakan kasus diakibatkan rendahnya angka bebas jentik

Ilustrasi seseorang yang sedang sakit(unsplash.com/Olga Kononenko)

Terkait kasus DBD tersebut Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Lampung, Ismen Mukhtar menyebutkan, kenaikan angka kasus DBD ini ditengarai akibat rendahnya Angka Bebas jentik (ABJ) di lingkungan masyarakat.

Indikator ABJ ini, sejatinya rutin digalakkan pihak pamong hingga petugas puskesmas di tingkat desa maupun kelurahan sebagai upaya pencegahan dini perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti.

"Dengan demikian, ini sendirinya akan mendorong masyarakat untuk menciptakan dan menjaga pola hidup sehat, serta kebersihan di lingkungan tempat tinggal masing-masing," ucapnya.

Alhasil, DBD dapat dicegah bersama-sama dengan mudah, namun harus diiringi dengan komitmen bersama oleh semua pihak. Misalnya, pengukuran angka bebas jentik dilakukan secara berkala setiap bulan atau paling lama 3 bulan sekali. "Catatan kemunculan kasus ini mengukur keberhasilan gerakan PSN di Lampung," tandas dia.

Editorial Team

Related Article