Mahasiswa UBL Implementasikan Biopori Berbasis Partisipasi Warga

- Lubang resapan biopori sebagai solusi ramah lingkunganMelalui pendekatan edukatif dan partisipatif, mahasiswa UBL memperkenalkan teknologi sederhana berupa lubang resapan biopori sebagai solusi ramah lingkungan yang mudah diterapkan masyarakat.
- Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan menjadi kunci keberhasilan programDita menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan menjadi kunci keberhasilan program. Melalui pendekatan partisipatif, warga tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan masing-masing.
- Menghadirkan manfaat berdampak langsung bagi m
Bandar Lampung, IDN Times — Universitas Bandar Lampung (UBL) sosialisasi dan membuat biopori dilaksanakan di tujuh titik pada lima kelurahan. Rinciannya, Labuhan Ratu, Kupang Teba, Tanjung Gading, Labuhan Dalam dan Pesawahan, Kecamatan Telukbetung Selatan Bandar Lampung beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UBL dalam menghadirkan solusi lingkungan berbasis ilmu pengetahuan yang aplikatif dan berkelanjutan. Program ini dilatarbelakangi permasalahan yang umum terjadi di kawasan perkotaan, khususnya pada wilayah permukiman dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.
Kondisi tersebut menyebabkan rendahnya daya resap tanah yang berdampak pada munculnya genangan air, serta belum optimalnya pengelolaan sampah organik rumah tangga.
1. Lubang resapan biopori sebagai solusi ramah lingkungan

Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, mahasiswa UBL memperkenalkan teknologi sederhana berupa lubang resapan biopori sebagai solusi ramah lingkungan yang mudah diterapkan masyarakat. Selain membantu meningkatkan daya serap air, inovasi ini juga mendorong pemanfaatan sampah organik menjadi lebih produktif sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan di kawasan perkotaan.
Dita Rizkia, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menjelaskan, pelaksanaan program diawali dengan observasi lapangan serta koordinasi bersama aparat kelurahan dan tokoh masyarakat setempat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai manfaat biopori dalam meningkatkan daya resap tanah, mengurangi genangan air, serta mengolah sampah organik menjadi kompos alami.
“Kegiatan tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan biopori yang melibatkan warga secara aktif, mulai dari proses pengeboran tanah hingga pengisian lubang dengan sampah organik rumah tangga. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menerapkan biopori secara mandiri di lingkungan masing-masing,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
2. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan menjadi kunci keberhasilan program

Dita menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan menjadi kunci keberhasilan program. Melalui pendekatan partisipatif, warga tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan masing-masing.
“Dampak awal yang mulai terlihat adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan, sekaligus tumbuhnya kebiasaan memilah sampah organik sebagai bagian dari pemanfaatan biopori. Program ini diharapkan menjadi solusi sederhana namun efektif dalam mengurangi risiko banjir di kawasan permukiman padat,” jelasnya.
3. Menghadirkan manfaat berdampak langsung bagi masyarakat

Melalui kegiatan ini, UBL menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan manfaat yang berdampak langsung bagi masyarakat. Program biopori menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara kampus, pemerintah lokal, dan masyarakat mampu menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan dimana program ini sejalan dengan agenda global tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dan SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan).
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain, sehingga dapat mendukung pembangunan lingkungan yang sehat, adaptif, dan berwawasan lingkungan dapat semakin luas dirasakan masyarakat.


















