Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inflasi Oktober Naik 0,20 Persen, Bawang Merah dan Tomat jadi Pemicu
ilustrasi harga bahan pangan meningkat (Freepik.com/Freepik)
  • Inflasi di Provinsi Lampung naik 0,20 persen bulan Oktober 2024, lebih tinggi dari bulan September.
  • Kenaikan harga bawang merah, tomat, daging ayam ras, cumi-cumi, dan ikan nila menjadi faktor utama inflasi.
  • Harga cabai merah turun berkat pasokan yang meningkat dari musim panen di Jawa Timur, serta harga bensin non-subsidi juga turun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN TimesBank Indonesia (BI) Lampung mencatat inflasi di Provinsi Lampung Oktober 2024 naik sebesar 0,20 persen (month-to-month/mtm). Inflasi itu lebih tinggi dibandingkan inflasi September hanya 0,05 persen.

Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Alex Kurniawan, menyebutkan angka ini juga melampaui inflasi nasional berada di level 0,08 persen (mtm).

“Secara tahunan, inflasi Lampung mencapai 1,94 persen (year-on-year/yoy), sedikit turun dibandingkan September yang tercatat 2,16 persen. Namun, angka ini masih lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 1,71 persen,” katanya.

Menurutnya, kenaikan harga yang signifikan pada beberapa bahan pangan menjadi faktor utama inflasi Oktober. “Komoditas yang menjamin kenaikan harga terbesar adalah bawang merah, tomat, daging ayam ras, cumi-cumi, dan ikan nila,” jelasnya.

1. Pasokan bawang merah berkurang, picu harga melonjak

ilustrasi mencincang bawang putih (pexels.com/Los Muertos Crew)

Alex menyebut, bawang merah menjadi komoditas dengan inflasi tertinggi, yakni 0,11 persen. “Kenaikan ini disebabkan pasokan semakin mendekati panen di sentra produksi seperti Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Pesawaran,” terangnya.

Selain itu, harga bawang merah di Jawa Tengah, sebagai pemasok utama, juga naik menjadi Rp31.450 per kilogram di bulan Oktober, lebih tinggi dari Rp26.250 pada bulan sebelumnya.

“Harga tomat naik dengan andil 0,07 persen karena kondisi cuaca yang kurang kondusif membuat produksi menurun,” ujarya.

Sementara itu, harga daging ayam ras ikut melonjak, dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan dan kenaikan harga pakan ternak. Harga jagung untuk pakan naik dari Rp4.661 menjadi Rp4.783 per kilogram pada Oktober, tambahnya.

Cuaca yang kurang bersahabat juga menyebabkan kenaikan harga pada hasil laut seperti cumi-cumi dan ikan nila, dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen. “Intensitas hujan yang meningkat menjelang akhir tahun membuat aktivitas penangkapan ikan di Lampung terbatas,” terangnya.

2. Penurunan harga cabai dan bensin tahan inflasi

ilustrasi cabai dengan tangkai (pexels.com/Lum3n)

Alex mengatakan, kenaikan inflasi Oktober tertahan oleh beberapa komoditas turun harga, seperti cabai merah, bensin dan ayam hidup.

“Harga cabai merah turun berkat pasokan yang meningkat dari musim panen di Jawa Timur, sementara harga bensin non-subsidi juga turun pada periode ini. Dimana BBM jenis Pertamax yang sebelumnya, 12.650 turun menjadi 12.400," katanya. 

3. Strategi menjaga stabilitas harga

ilustrasi tren narik uang lewat teman (pexels.com/Cottonbro Studio)

Melihat kondisi inflasi saat ini, BI Lampung bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah menyiapkan langkah-langkah strategi yang disebut strategi 4K guna menjaga stabilitas harga, yakni:

  1. Keterjangkauan Harga: Menggelar operasi pasar beras dan memantau harga komoditas yang berisiko mengalami kenaikan, seperti beras dan cabai.
  2. Ketersediaan Pasokan : Mendirikan Toko MAPAN di Metro dan TAPIS di Bandar Lampung, serta memperkuat kerja sama antar daerah untuk menjaga ketersediaan komoditas.
  3. Kelancaran Distribusi : Penambahan volume dan rute transportasi untuk menjaga kelancaran pasokan, termasuk pengoperasian Mobil TOP untuk operasi pasar.
  4. Komunikasi Efektif: Rapat koordinasi mingguan dan komunikasi dengan media untuk mencegah pembelian panik di masyarakat.

"Kami optimis dengan strategi ini dapat membuat inflasi Lampung tetap terjaga dalam target 2,5±1 persen (yoy) hingga akhir 2024," jelas Alex.

Editorial Team

Related Article