Gempa NTT Jadi Pengingat, Warga Pesisir Lampung Diminta Siaga Tsunami

- Gempa NTT mengingatkan warga pesisir Lampung untuk siaga terhadap gempa, tsunami, dan aktivitas Gunung Anak Krakatau di wilayah yang memiliki potensi kegempaan.
- BPBD Lampung meminta warga memahami jalur evakuasi dan lokasi aman, serta tidak hanya mengandalkan pemerintah saat gempa kuat atau peringatan tsunami terjadi.
- Sistem peringatan dini dan informasi BMKG perlu diikuti tindakan evakuasi; BPBD Lampung juga siap membantu penanganan gempa NTT sesuai arahan pemerintah pusat.
Bandar Lampung, IDN Times - Gempa bumi melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat bagi masyarakat Lampung, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa dan tsunami.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Rudy Sjawal mengatakan, Lampung memiliki wilayah pesisir cukup luas serta berada di kawasan berpotensi aktivitas kegempaan. Selain gempa bumi dan tsunami, Lampung juga menghadapi potensi bencana lain, termasuk aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
“Gempa yang terjadi di NTT merupakan bagian dari dinamika atau siklus aktivitas di laut. Lampung juga memiliki wilayah pesisir. Kita juga memiliki potensi bencana, termasuk aktivitas Gunung Anak Krakatau dan ancaman tsunami,” ujarnya dimintai keterangan, Selasa (18/8/2026).
1. Warga diminta kenali jalur evakuasi

ilustrasi tanda jalur evakuasi di kantor (pexels.com/monicore) Terkait kondisi tersebut, Rudy meminta masyarakat tinggal di kawasan pesisir tidak lengah. Serta perlu memahami langkah penyelamatan apabila terjadi gempa kuat maupun ketika peringatan dini tsunami dikeluarkan.
Menurutnya, pengetahuan mengenai jalur evakuasi dan lokasi aman menjadi hal penting agar masyarakat dapat bergerak cepat saat bencana terjadi. Mitigasi bencana disebut tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pemerintah dan petugas.
“Alhamdulillah, kita sudah memberikan pelatihan kepada masyarakat. Harapannya, masyarakat tetap tangguh dan mampu menghadapi musibah kapan pun datang,” ucapnya.
2. EWS dan informasi BMKG harus diikuti tindakan

ilustrasi informasi (pexels.com/Olha Ruskykh) Selain pelatihan, keberadaan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) serta informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Namun, Rudy mengingatkan informasi peringatan dini tidak akan maksimal jika masyarakat tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan. Warga di kawasan rawan perlu memahami langkah evakuasi dan segera menuju lokasi aman ketika peringatan tsunami dikeluarkan.
“EWS dan informasi dari BMKG sangat membantu. Tetapi yang paling penting adalah masyarakat memahami apa yang harus dilakukan ketika peringatan dini dikeluarkan,” jelasnya.
3. Lampung siap bantu penanganan gempa di NTT

Palang Merah Indonesia (PMI) memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. PMI) Terkait penanganan gempa di NTT, Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan siap memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak. BPBD Lampung saat ini disebut masih menunggu arahan pemerintah pusat mengenai bentuk bantuan dibutuhkan di lokasi bencana.
Rudy menyebutkan, Lampung menjadi salah satu dari 10 provinsi memiliki kapasitas dan jejaring penanggulangan bencana. Kondisi tersebut memungkinkan BPBD Lampung berkoordinasi dengan daerah lain apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
“Pada intinya BPBD Lampung siap jika nanti dibutuhkan untuk mengirimkan relawan ke NTT. Tentu semuanya akan kami laporkan terlebih dahulu kepada Pak Gubernur,” imbuhnya.





















