Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Eks NII Minta Aparat Waspadai Ancaman Aksi Terorisme Jelang Ramadan

Eks NII Minta Aparat Waspadai Ancaman Aksi Terorisme Jelang Ramadan
Ilustrasi - Penangkapan Teroris oleh Densus 88 (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan meminta aparat penegak hukum meningkatkan kewaspadaan akan ancaman aksi terorisme. Itltu menyusul kegiatan penangkapan tim Densus 88 Antiteror Polri terhadap sejumlah terduga teroris berlangsung di Provinsi Lampung.

Ken mengatakan, peningkatan kewaspadaan penting dilaksanakan menjelang Ramadan. Pasalnya, bulan suci bagi umat Islam tersebut dianggap sangat ideal guna melancarkan aksi-aksi teror.

"Bulan Ramadan dianggap jihad yang lebih utama, anggapannya amaliah teror mereka akan diganjar pahala berlipat ganda," ujar pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center tersebut, Rabu (8/2/2023).

1. Sederet kasus terorisme tercatat di Bulan Ramadan

Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan saat dimintai keterangan. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan saat dimintai keterangan. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Sebagai pengingat, Ken menyebutkan beberapa aksi teror dan ledakan bom sempat mengusik keamanan terjadi di bulan Ramadan. Misalnya, ledakan bom panci di Kampung Melayu tiga hari sebelum Ramadan 2017. Peristiwa itu menewaskan lima orang terdiri dari dua pelaku dan tiga anggota kepolisian.

Lalu bom bunuh diri di Gereja Surabaya beberapa hari sebelum Ramadan 2018. Kala itu, tercatat sebanyak 13 orang meninggal dan puluhan luka-luka setelah serangan bom bunuh diri di tiga gereja. Masih di tahun tersebut, kelompok terduga teroris juga menabrak anggota Provost Polda Riau pada 16 Mei 2018 atau sehari sebelum Ramadan.

"Pelaku penabrakan petugas itu menggunakan Toyota Avanza dan menerobos gerbang. Kejadian ini membuat satu orang anggota Provost terkapar dan dua orang wartawan terluka," terang Ken.

Selain itu, aksi terorisme di penghujung Ramadan 2019 diwarnai peristiwa ledakan sebuah bom di Pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. "Bukan cuma aparat, masyarakat juga harus waspada akan serangan teroris yang tidak jarang mengeboman di tempat umum," sambung dia.

2. Para pelaku teror ingin memperlihatkan eksistensi

Ilustrasi kasus terorisme, IDN Times/ istimewa
Ilustrasi kasus terorisme, IDN Times/ istimewa

Disampaikan Ken, para teroris umumnya sengaja mengambil momen jelang Ramadhan, karena para pelaku turut berupaya mencari perhatian dan berkeingian menimbulkan rasa kekuatan di tengah-tengah masyarakat.

"Aksi terorisme ini harus dilawan bersama, karena mereka ingin tetap eksis dan menunjukkan tajinya di hadapan warga dan pemerintah," imbuh pria berambut gondrong tersebut.

3. Penangkapan terduga teroris merupakan tindakan pencegahan

Ilustrasi. Tim Densus 88 Polri menggerebek rumah kontrakan terduga teroris di Jalan Delima, Kunciran Indah, Tangerang, Banten, Rabu, 16 Mei 2018. Foto oleh Christian Simbolon.
Ilustrasi. Tim Densus 88 Polri menggerebek rumah kontrakan terduga teroris di Jalan Delima, Kunciran Indah, Tangerang, Banten, Rabu, 16 Mei 2018. Foto oleh Christian Simbolon.

Lebih lanjut Ken Setiawan turut mengapresiasi Tim Densus 88 Antiteror telah menangkap terduga teroris di Provinsi Lampung sebelum melakukan aksi-aksi terorisme. Menurutnya, langkah ini sebagai tindakan pencegahan keras.

"Lebih baik dicegah, jangan sampai mereka melakukan amaliyah terornya masing-masing," tandas Ken.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Tama Wiguna
Martin Tobing
Tama Wiguna
EditorTama Wiguna

Latest News Lampung

See More

Kala Jokowi Nostalgia Naik Gunung hingga Ketemu Adik Kelas di Lampung

28 Jun 2026, 20:01 WIBNews