Dag Dig Dug Persiapan Venue PON XXI Aceh-Sumut

- Sejumlah venue PON XXI 2024 di Aceh dan Sumatra Utara belum selesai, menyisakan beberapa kendala dan catatan terkait kesiapan venue. Termasuk Stadion Utama Sumut yang baru 83 persen selesai.
- Peralatan dari luar negeri juga jadi persoalan, dengan waktu yang mepet akan riskan jika tidak ada koordinasi dengan pengurus pusat, sehingga menimbulkan kendala dalam hal pengadaan peralatan pertandingan.
- Banyak cabor olahraga di berbagai provinsi menghadapi hambatan seperti izin penggunaan venue, keterbatasan peralatan latihan, kekurangan uang saku, dan kurangnya dukungan operasional untuk atlet.
Bandar Lampung, IDN Times – Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI digelar 8 hingga 20 September 2024. Provinsi Aceh dan Sumatra Utara menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar nasional digelar setiap 4 tahun sekali ini. Ajang ini pun bakal diikuti belasan ribu atlet dari seluruh provinsi di Indonesia.
Kurang dari sebulan penyelenggaraan PON, berdasarkan pantauan IDN Times, masih ada lokasi pertandingan (venue) belum selesai dikerjakan. Bahkan, perkembangan pembangunan venue pun belum maksimal.
Terkait hal tersebut, Panitia Pengawas dan Pengarah PON XXI 2024 Aceh-Sumut sudah memantau beberapa venue-venue. Ternyata, ada beberapa hal yang jadi catatan Panwasrah terkait kesiapan venue dan kelengkapan pertandingan.
"Kita ingin venue yang ada sesuai dengan spek teknya. Yang kedua, peralatan yang sekarang masih dalam proses. Apabila ada kendala yang ada kaitannya dengan proses pengadaan mungkin faktor keterlambatan, mungkin bisa dikoordinasikan dengan bidang venue sehingga pas pelaksanaan pertandingan alat-alat itu ada," kata Ketua Panwasrah PON XXI 2024 Suwarno, Kamis (8/8/2024) malam.
Suwarno sudah meninjau langsung sejumlah venue di Medan maupun Deli Serdang. Diakuinya banyak yang masih harus dikebut karena waktu pertandingan sudah mendekat.
"Venue untuk Sumut ini ada beberapa yang masih dalam proses penyelesaian. Voli indoor pengerjaannya sampai tadi sore baru 93 persen. Sedangkan di situ masih perlu lampu, lingkungan, pemasangan alat dan sebagainya. Ini dikerjakan banyak pihak. Kita berharap bisa diselesaikan segera," katanya.
Selain itu juga yang masih jadi PR adalah venue squash di dekat Unimed. Tidak hanya soal bangunan, tapi masih menanti peralatan dari luar. "Tergantung kedatangan alat yang dibeli dari luar. Lantai, fiber, dinding. Informasinya datang tanggal 18 (Agustus), tapi pengerjaannya lebih kurang 2 minggu. Kalau ini ditepati waktunya masih memungkinkan untuk memulainya karena mereka akan bertanding setelah itu selesai pada 10 September mendatang. Jadi harapannya tanggal 2 (September) selesai," kata Suwarno.
Venue lain yang disorot adalah trek BMX. Menurutnya harusnya tidak sulit. "Tapi mulainya agak terlambat. Harapannya mereka pengerjaan waktunya agak panjang. Mereka berjanji akhir bulan ini," tambahnya.
Ada juga venue yang masih jadi perdebatan yakni venue tinju direncanakan di Gedung Merdeka Pematangsiantar. "Venue yang ada di Siantar, masih ada pembahasan kaitannya dengan keinginan PB PON, tuan rumah Siantar, dan keinginan induk cabor (PP Pertina). Kalau melihat venue di lantai 4 jika terjadi evakuasi akan terjadi kendala," jelasnya.
Begitu juga ada venue voli pantai di Samosir. Masih harus diperhatikan soal pasirnya. "Bukan sekadar bicara pasir, tapi pasir yang digunakan jangan sampai ada kerikil-kerikil karena atletnya tidak pakai sepatu. Waktu saya menyiapkan Asian Games di Sumsel benar-benar pasirnya disiapkan secara lembut," katanya.
1. Progres pembangunan stadion utama baru 83 persen

Soal Stadion Utama Sumut yang akan jadi venue penutupan, saat ini progresnya masih 83 persen. Menurut Suwarno, 17 persen itu harus benar-benar dikebut agar bisa selesai sebelum penutupan 21 September. "Stadion yang untuk penutupan PON itu perlu percepatan, karena kemaren baru 83 persen," ucapnya.
Perkembangan diakuinya masih lambat. Paling tidak, enam pekan ke depan baru bisa tuntas. "Perkembangan tiap minggu itu hanya 3 persen, jadi kan sekarang masih ada 17 persen lagi, kalau dibagi 3 artinya ada 5-6 pekan ke depan itu akan kira-kira akan selesai, jadi perlu adanya percepatan-percepatan yang harus didorong PB PON untuk itu. Kira-kira rencana ke depannya seperti apa untuk ini agar lebih cepat," kata Suwarno.
Mendatangkan peralatan, terutama dari luar negeri juga jadi persoalan. Menyoroti soal peralatan, dengan waktu yang mepet menurutnya akan riskan jika tidak ada koordinasi dengan pengurus pusat. Apalagi jika alat yang dipesan harus didatangkan dari luar negeri.
"Saya berharap masing-masing sudah masuk finalisasi termasuk kaitannya dengan peralatan. Peralatan ini waktunya mepet dan diadakan dengan cara lelang untuk Sumut. Mesti akan ada koordinasi. Kalau lelangnya jalan, tapi kedatangannya dari luar negeri, maka harus bicara dengan induk cabor, apakah mau pinjam atau sewa dulu atau seperti apa," ungkapnya.
Jika waktu mepet dengan venue yang belum tuntas, panpel juga terancam tak bisa menggelar tes event. Namun menurutnya hal itu bisa disiasati. Terpenting bagaimana kesiapan panitia.
"Tes even memersiapkan panitia, bukan pertandingannya. Agar saat nanti sebagai penyelenggara pertandingan mereka siap. Bisa ditempuh dan banyak hal. Seperti saat kami buat venue exercise di Papua. Substansinya memadukan semuanya termasuk panpel di lapangan. Di mana tempat kesehatan, doping, ruang ganti, dan sebagainya. Di sini bisa saja dilakukan dengan penataran bagi pelaku. Kita serahkan semua ke TD dan bidang pertandingan yang ada di PB PON. Baik itu tes even, penataran, venue exercise, yang terpenting tidak boleh tidak disiapkan," katanya.
Suwarno mengingatkan PB PON Sumut untuk memenuhi tanggung jawabnya. Dia yakin bisa dituntaskan dengan kerja sama berbagai pihak.
"Saya tahu PB PON sudah bergerak sedemikian komperenhesif, bukan hanya venue. Harapannya percepatan yang dilakukan sesuai bidang di sini difinalisasi. Kalau ada kendala segera diatasi. Saya ingatkan, PON ini Sumut dan Aceh mengajukan diri. Semua ini menjadi tanggung jawab Sumut, Aceh dan kita bersama," jelasnya.
2. Publik pesimistis soal Sumut Sport Centre, Pj gubernur bilang ini

Terkait venue penyelesaian pembangunan venue belum maksimal, Pj Gubernur Sumatra Utara Agus Fatoni mengklaim pihaknya sudah mempersiapkan PON XXI di wilayahnya dengan baik. Salah satunya adalah persiapan sarana prasarana.
Namun, publik pesimistis soal pembangunan sarana dan prasarana di Sumut Sport Centre sebagai venue utama berlokasi di Desa Sena, Kabupaten Deliserdang. Pembangunan saat ini masih dilakukan. Beberapa venue seperti atletik dan lainnya diklaim sudah rampung. Hanya melengkapi detail minor pembangunan saja.
Stadion utama akan digunakan untuk penutupan diklaim sudah 83 persen. Pemantauan di lapangan, pengerjaan stadion utama PON XXI masih berlangsung. Beberapa alat berat seperti crane masih berdiri di area sport centre di sisa 30 hari pembukaan PON XXI. Begitu juga bangku-bangku untuk penonton sudah rampung dikerjakan. Secara kasat mata, bentuk stadion utama sudah tampak. Namun publik masih pesimis, stadion utama akan rampung tepat waktu.
Agus Fatoni yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Besar (PB) PON mengatakan, pembangunan sudah masuk progres 83 persen. “Pertengahan Agustus ditarget akan rampung,” kata Agus dalam Dialog Forum Merdeka Barat 9, Senin (29/7/2024).
Ia menambahkan, stadion utama tidak digunakan untuk pertandingan. Nantinya, stadion utama akan digunakan untuk penutupan PON. Sejatinya, venue ditarget rampung Juli karena akan digunakan untuk tes pre event. Venue ini akan digunakan untuk penutupan.
Di sisi lain, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Dito Ariotedjo dalam rapat Rapat Koordinasi (Rakor) Panitia Besar (PB) PON XXI Tahun 2024, Senin (15/7/2024) lalu padahal meminta agar venue rampung paling lambat awal Agustus 2024.
Menpora meminta hal itu segera ditindaklanjuti setelah rapat tersebut. Dalam hal ini pula, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), akan selalu standby (siap sedia) untuk seluruh urusan persiapan PON. "Kembali lagi kami ingatkan, mari kita menjaga bersama PON ini agar sukses secara prestasi, sukses juga penyelenggaraan, dan yang terakhir dan paling penting adalah sukses secara administrasi," tegasnya.
Tak cuma venue, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Surono menyebut soal kebutuhan anggaran untuk PON 2024 Sumut dan Aceh masih membutuhkan tambahan anggaran Rp357 Miliar. Dana ini meliputi berbagai kebutuhan. Salah satunya untuk sarana dan prasarana. “Ini masih diajukan ke Kementerian Keuangan,” kata Surono.
3. Perlengkapan pertandingan hingga lokasi tempat latihan atlet terkendala

PON XXI 2024 tinggal hitungan sekitar satu bulan lagi. Saat ini masih banyak kebutuhan dan fasilitas belum terpenuhi untuk para atlet cabang olahraga di Sumut.
Diketahui, mayoritas pengprov olahraga merasa khawatir bahkan resah, karena perlengkapan pertandingan hingga kini belum didistribusikan. Padahal pihaknya sudah beberapa kali memberi pengajuan.
"Perlengkapan yang kami ajukan adalah fasilitas yang memang dibutuhkan digunakan atlet untuk bertanding. Idealnya perlengkapan tersebut sudah turun dan dapat digunakan atlet agar pada hari H chemistry antara atlet dengan perlengkapan dimaksud sudah menyatu," ujar salah seorang pengurus olahraga.
Menjawab hal itu, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara menjanjikan agar segera memenuhi dan mencari solusinya. "Kami memahami kekhawatiran para Pengprov Olahraga. Namun yakinlah, Pemprov Sumut melalui PB PON tetap akan berupaya maksimal mencari solusi terbaik. Karenanya kami mengharapkan dukungan dan kerjasama dari kita semua," ujar Kabid Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Sumut Budi Syahputra saat menggelar rapat bersama perwakilan Pengprov Olahraga di Kantor KONI Sumut, Sabtu (3/8/2024).
Kondisi di lapangan, pelatda penuh belum dimulai secara menyeluruh. Diketahui, banyak pengprov yang menggelarnya secara mandiri. Pria yang menjabat Bidang Pertandingan PB PON Wilayah Sumut ini mengatakan, soal pelatda penuh yang akan dimulai bulan ini. Sebanyak 1.600 atlet, pelatih dan psikolog dari 58 cabor akan menjalani pelatda penuh. Mereka akan disiapkan di beberapa tempat seperti Asrama Haji Pangkalan Mashur, Wisma Atlet dan lainnya.
Selain itu salah satu hal saat ini masih jadi kekhawatiran adalah perlengkapan pertandingan. Budi menjelaskan, anggaran pengadaan item tersebut tidak ditampung pada APBD 2024 sehingga pengadaan perlengkapan pertandingan menggunakan anggaran PB PON. Proses ini dalam pelaksanaannya harus sesuai ketentuan yaitu melalui proses tender minimal 18 hari. Sedangkan pertandingan sudah ada yang digelar 26 agustus 2024.
Namun Pemprov Sumut mengatakan tetap pada komitmen pengadaan perlengkapan ini harus diselesaikan. Upaya percepatan pun akan diupayakan. Ia juga meminta pengurus cabor kembali memberikan data soal perlengkapan yang diminta untuk diajukan.
Kondisi serupa juga dialami atlet Sumatra Selatan (Sumsel). Sejumlah cabang olahraga (cabor) di Pemusatan Daerah (Pelatda) Jakabaring Sport City (JSC) Palembang menghadapi berbagai hambatan, termasuk izin penggunaan venue dan keterbatasan peralatan latihan.
Persoalan izin memakai venue di JSC Palembang hingga peralatan latihan belum optimal jadi hambatan yang dialami atlet Sumsel. Atlet senior triathlon Sumsel, Jauhari Johan, mengatakan, cabor mereka mengalami kesulitan saat berlatih di Venue Aquatic JSC Palembang. Hambatan ini, menurutnya, mungkin disebabkan karena triathlon belum dianggap sebagai cabor andalan.
Namun terlepas dari alasan apapun, para atlet memiliki hak untuk berlatih di venue-venue yang berada di JSC Palembang. Apalagi kawasan tersebut pernah menjadi lokasi pelaksanaan Asian Games pada 2018 lalu.
"Triathlon Sumsel belum jadi andalan, sehingga hambatannya kami belum punya venue berlatih khusus dan untuk bisa latihan di (Aquatic) venue renang, kami mengurus izin pemakaiannya sendiri dan tidak banyak didukung dari pengurus cabor terkait," ujar Jauhari kepada IDN Times, Kamis (8/8/2024).
Tak hanya cabor triathlon, cabor lain seperti senam dan dayung juga menghadapi kendala serupa. Tim Satgas Monitoring Evaluasi KONI Sumsel, Guntunara, menyatakan peralatan latihan untuk senam masih belum tersedia secara menyeluruh.
"Kondisi ini juga terjadi terhadap persiapan Pelatda cabor senam Sumsel. Harapan kita peralatan untuk pertandingan PON bisa didatangkan, sehingga atlet punya kesempatan berlatih," imbuhnya.
Sekretaris Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Sumsel, Eva Rulianingtias, menambahkan atlet dayung juga mengalami masalah dalam hal kekurangan uang saku dan kurangnya dukungan operasional. "Atlet belum dibekali dengan vitamin, dan uang saku yang cukup untuk ke PON. Cabor dayung butuh support operasional," ujarnya.
4. Venue Stadion Harapan Bangsa sudah mencapai 96 persen

Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh menjadi arena pertandingan, stadion itu juga menjadi tempat upacara pembukaan PON nantinya dihadiri langsung Presiden Joko Widodo.
Stadion direnovasi melalui pendanaan APBN itu mampu menampung 17 ribu penonton. Dan pada upacara pembukaan nantinya sudah tercatat 10 ribu tamu bakal hadir di Stadion Harapan Bangsa tersebut.
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agung Laksono, mengatakan, menurut laporan ia terima pengerjaan fisik venue Stadion Harapan Bangsa sudah mencapai 96 persen. Ia berharap pada pekan ketiga bulan Agustus ini sudah selesai 100 persen.
“Saya sangat optimis karena direncanakan dengan baik, tadi saya sudah mendengar pemaparan persiapan yang bertumpu pada sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses ekonomi dan sukses administrasi. Saya gembira, apa yang dikerjakan ini bukan sekedar teori, disini saja ada 800 pekerja bekerja untuk suksesnya penyelenggaraan,” kata Agung.
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mengerahkan satu unit kapal motor (KM) Kelud milik PT Pelni untuk mendukung akomodasi terapung pada pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang akan berlangsung di Aceh. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T Faisal juga selaku Kepala Bidang Transportasi PB PON Aceh mengatakan, kapal ini akan digunakan sebagai fasilitas penginapan diprioritaskan untuk panitia pelaksana (Panpel) dan official, namun juga terbuka bagi suporter dan pihak lain yang memerlukan tempat tinggal selama ajang tersebut.
KM Kelud memiliki kapasitas untuk menampung hingga 2.607 orang, akan beroperasi di Pelabuhan Malahayati selama PON, yakni dari 4 hingga 22 September 2024. Faisal menyatakan, pengerahan KM Kelud ini merupakan bagian dari solusi akomodasi terapung bagi ribuan peserta yang akan menghadiri PON XXI Aceh-Sumut. "KM Kelud akan diprioritaskan untuk Panpel dan official, namun juga terbuka bagi suporter dan pihak lain yang membutuhkan penginapan," ungkap Faisal, Kamis (8/8/2024).
Dia menambahkan, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan anggaran untuk operasional KM Kelud selama beroperasi di Aceh. Kapal ini akan standby di Pelabuhan Malahayati, yang strategis dan mudah diakses oleh seluruh peserta. Selain itu, dengan fasilitas lengkap seperti kamar tidur, ruang makan, dan fasilitas kesehatan, KM Kelud diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akomodasi yang memadai dan nyaman selama ajang nasional tersebut berlangsung.
5. Tiap provinsi kerahkan ratusan atlet terbaik

PON Aceh-Sumut tahun ini, kontingen Lampung akan memberangkatkan sebanyak 365 atlet untuk berlaga di 55 dari 65 cabor dipertandingkan. Tak mau kalah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menyiapkan sekitar 400 atlet untuk berlaga dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI di Aceh dan Sumatra Utara pada September 2024 mendatang.
Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalsel, Heru Susmianto, menjelaskan pihaknya baru-baru ini menambah 19 orang ke dalam kontingen, sehingga total peserta yang akan diberangkatkan mencapai sekitar 400 orang. Penambahan ini termasuk tenaga teknis atau mekanik yang akan mendampingi atlet, terutama untuk cabor yang memerlukan mekanik, seperti berkuda dan paralayang.
KONI Jateng akan memberangkatkan 758 atlet dari 60 cabor ke PON Aceh-Sumut digelar pada 8-20 September 2024. Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana berharap ada perbaikan prestasi dan peringkat pada PON Aceh-Sumut dibandingkan PON Papua 2021. ‘’Kalau PON Papua kita berada di peringkat ke-6, pada PON Aceh-Sumut ini kita cobakan peringkat ke-3 atau ke-4,’’ imbuhnya.
Sedangkan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan memberangkatkan 250 atlet untuk 44 cabang olahraga (cabor) di PON Aceh-Sumut 2024. Sementara kontingen DIY berhasil meloloskan 446 atlet dari 49 cabang olahraga.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY, Djoko Pekik Irianto, mengatakan, kontingen di DIY pada PON XXI, jadi kontingen terbesar sepanjang sejarah DIY mengikuti PON. Target awal jumlah atlet sebanyak 250, namun pada akhirnya melebih target, mencapai 446 atlet yang lolos.
Sumsel pada PON 2024 bakal mengirim 350 kontingen dari seluruh cabor termasuk atlet, masing-masing pelatih dan ofisial. Cabor yang ikut perhelatan olahraga empat tahunan ini sudah menggelar pelatda di JSC sejak Juli dan atlet telah dibekali uang saku untuk berangkat ke Aceh. Cabang olahraga (Cabor) yang ikut serta dalam Pelatda di JSC mencakup berbagai cabor, termasuk catur, sambo, squash, sepatu roda, dan lainnya.
"Termasuk cabor senam, loncat indah, pencak silat, anggar, dayung serta menembak. Sedangkan untuk pelatda di luar venue JSC, atletik, muaythai, bermotor, renang, balap sepeda, ski air, angkat besi, berkuda, terbang layang dan bina raga," ujar Waketum I KONI Sumsel DR Arianto.
Jawa Timur (Jatim) mengirim 861 atlet dan 272 official pelatih untuk 63 Cabang Olahraga (Cabor). Tim ini bertekad mempertahankan sekaligus menambah prestasi. Diketahui pada PON XX Papua 2021 lalu, Jatim berada di peringkat ketiga, di bawah Jawa Barat (Jabar) dan DKI Jakarta. Total raihan medali Jatim sebanyak 287 keping. Rinciannya, 110 medali emas, 89 medali perak dan 88 medali perunggu.
"Fokus utama KONI Jawa Timur adalah mempertahankan prestasi yang telah diraih pada PON sebelumnya dan bahkan meningkatkannya," ujar Direktur Badan Pelaksana Puslatda Jatim, Irmantara Soebagio, Minggu (11/8/2024).
Dalam perhelatan PON ini juga, kata Irman, KONI Jatim juga berupaya untuk menemukan bibit-bibit atlet baru yang berpotensi menjadi tulang punggung prestasi olahraga Jatim di masa depan. Berbagai upaya intensif dalam persiapan pun dilakukan. "KONI Jawa Timur telah membentuk Puslatda untuk memusatkan latihan para atlet potensial dari berbagai cabang olahraga," kata dia.
Melalui Puslatda ini, sambung Irman, atlet-atlet dapat menjalani program latihan yang terstruktur dan intensif dengan didampingi oleh pelatih-pelatih yang berkualitas. Selain itu, KONI Jatim memastikan atlet yang dikirim ke PON Aceh-Sumut telah melewati proses seleksi yang ketat. "Proses seleksi atlet dilakukan secara ketat untuk mendapatkan atlet-atlet terbaik yang memiliki potensi meraih prestasi di PON," katanya.
6. Segini anggaran digelontorkan daerah demi ikut PON Aceh-Sumut

Pemprov Jawa Barat menargetkan hattrick dalam PON XXI Aceh-Sumut akan digelar 8 hingga 20 September 2024. Target ini diberikan karena anggaran dana hibah digelontorkan sebesar Rp375 miliar ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jabar, Asep Sukmana mengatakan, anggaran digelontorkan ini tergolong lebih besar dibandingkan dengan PON sebelumnya di Papua. PON XXI Aceh-Sumut, Jawa Barat hanya mengikuti 1.042 nomor dari 65 cabang olahraga.
"Anggaran keseluruhan 375 miliar dibandingkan PON Papua hanya 220 miliar itu karena memang nomornya 550. Sekarang 1.042 jadi memang ada pembengkakan nomor di Aceh dan Sumatra Utara," kata Asep saat dikonfirmasi, Rabu (7/8/2024).
Penambahan anggaran tidak semata-mata karena bertambahnya nomor cabang olahraga yang diikuti. Asep menjelaskan, soal lokasi pertandingan tergolong jauh menjadi alasan adanya penambahan anggaran. "Ini secara tempat jauh-jauh, malahan arung jeram perjalanan darat menempuh hampir 16 jam dari Banda Aceh. Ini tentunya akan berimplikasi ke sumber daya," katanya.
"Karena (anggaran) itu sudah dipisahkan tidak terganggu Pilkada, alokasi sudah diberikan bertahap, sudah ada dari dana cadangan. Jadi ini sekalian sudah diputuskan oleh DPRD per tahun kemarin sudah disiapkan (dana untuk PON)," katanya.
Ketua Umum KONI NTB Mori Hanafi mengatakan, untuk mewujudkan ambisi membawa pulang 20 medali emas, KONI NTB mendapatkan dukungan anggaran sebesar Rp40 miliar. Pemprov NTB memberikan dukungan anggaran sebesar Rp35 miliar, sedangkan Rp5 miliar dari PT Bank NTB Syariah, yang merupakan bank plat merah milik Pemprov NTB dan 10 Pemda kabupaten/kota.
Pendapat berbeda disampaikan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY, Djoko Pekik Irianto. Menurutnya, jumlah atlet yang besar meski menjadi peluang tersendiri bagi DIY, namun di sisi lain persoalan anggaran menjadi tantangan. “Berdampak pada pembengkakan anggaran. Sedangkan proses penganggaran sudah lewat periodesasi, sehingga menjadi kendala,” jelasnya.
Meski begitu, Djoko menyebut Pemda DIY memiliki berkomitmen untuk mendukung kesuksesan DIY dalam ajang tersebut. Selain dari APBD, DIY juga disupport dengan Dana Keistimewaan (Danais). “Cari luar APBD, dengan mitra kita, seperti BPD DIY, untuk perlengkapan pemusatan pelatihan daerah,” kata Djoko.
Kesiapan hingga keberangkatan tim PON disokong anggaran dana hibah dari Pemprov Lampung sebesar Rp55 miliar. Jumlah anggaran tersebut sama besarnya saat mengikuti PON XX Papua memberangkatkan sebanyak 127 atlet, tapi lebih sedikit dari anggaran pada PON XIX Jawa Barat 2016 mencapai Rp60 miliar untuk 120 atlet.
Ketua Harian KONI Lampung, Brigjend TNI (Purn) Amalsyah Tarmizi mengatakan pihaknya mengaku tidak memiliki kendala terkait alokasi kebutuhan anggaran mulai dari persiapan sarana pertandingan telah terdistribusi, perlengkapan-perlengkapan kontingen tinggal menunggu kedatangan, termasuk pengaturan jadwal keberangkatan atlet sudah dikondisikan sesuai jadwal pertandingan masing-masing cabor.
7. Timang-timang bidikan medali dan prestasi

Penjabat Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin berharap, diberikannya anggaran yang maksimal para atlet harus membawa banyak medali emas dibandingkan gelaran PON sebelumnya. Bey menginginkan para atlet dan jajaran KONI Jabar memberikan usaha yang maksimal membawa hattrick mengalahkan pesaing utama yakni Jakarta dan Jawa Timur.
Diketahui Jabar menjadi juara umum pada PON 2016 dan 2020. "Target ada di 230 medali emas, hattrick. Kami hanya absen di dua cabor," katanya.
Merespons hal ini, Ketua Umum KONI Jawa Barat, M Budiana optimistis bisa meraih target telah diberikan oleh Pemprov Jawa Barat. Sebab beberapa atlet kini sudah berlatih dengan maksimal dan ada yang sudah menunjukkan kekuatannya. Seperti lima atlet Jabar masuk dalam Olimpiade Paris yaitu Fathur Gustafian (menembak), Syifa Nurafifah (panahan), Anthoni Ginting (bulu tangkis), Fajar Alfian (bulu tangkis), Gregoria Mariska (bulu tangkis).
Dengan kondisi itu, Budiana meyakini atlet Jawa Barat akan mendapatkan hasil yang maksimal di PON 2024 ini. Belum lagi, Gregoria yang berhasil mendapatkan perunggu dari bulu tangkis."Georgia kan dapat perunggu di Olimpiade, Insya Allah emas di PON dan tidak hanya mereka di olimpiade atlet kami juga ada try out di luar negeri. Ada tim polo air putri yang berangkat ke Hongkong selama satu pekan untuk mengikuti kejuaraan di sana," ujarnya.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung optimistis tim Lampung bakal merangsek sekaligus mempertahankan posisi peringkat 10 besar di ajang PON XXI Aceh-Sumatera Utara (Sumut) 2024. Ketua Harian KONI Lampung, Brigjend TNI (Purn) Amalsyah Tarmizi mengatakan, target tersebut telah dicanangkan bersama pemerintah daerah, guna kembali mengulang kesuksesan pada PON XX Papua 2021.
"Kita targetkan tetap di 10 besar, mudah-mudahan kita tetap optimis bisa mendapat 35 medali emas. InsyaAllah bisa tetap masuk peringkat 10 besar," ujarnya dikonfirmasi, Jumat (9/8/2024).
Amalsyah menambahkan, target peringkat 10 besar di PON 2024 tersebut diakui tidak mudah dan memiliki tantangan berbeda dibandingkan gelaran PON Papua pada 2021 kemarin. Pasalnya, Aceh dan Sumut selama ini berada di bawah peringkat Lampung kini menjadi tuan rumah.
Alhasil, Aceh dan Sumut memiliki tambahan motivasi diprediksi bakal berupaya menembus posisi 5 hingga 10 besar pada hasil akhir klasemen perolehan medali PON mendatang. "Jadi tantangan kita ditambah dua provinsi ini, sehingga persaingan peringkat PON nanti pasti akan berat. Tapi saya sudah cek, cabor-cabor sudah siap sekitar 90 persen sisanya tinggal menunggu keberangkatan saja," imbuhnya.
Guna merealisasikan target peringkat 10 besar tersebut, Amalsyah mengatakan, tim Lampung sudah mempersiapkan strategi khusus untuk memperoleh medali emas pada cabor-cabor unggulan seperti senam, menembak, angkat besi, kurash, tinju, karate, sambo, dan silat. Termasuk berupaya memaksimalkan mencuri medali dari cabor lainnya yakni, sepatu roda, Muay Thai, dan sejumlah cabor berpeluang besar bersaing dengan provinsi lain.
Tak mau kalah, KONI Provinsi NTB menargetkan perolehan 20 medali emas. Begitu juga Provinsi DIY. “Kami punya ekspektasi, punya prestasi terbaik, medali lebih banyak dibanding PON lalu. Kalau target medali emas, kita minimal menyamai DIY pada PON Jabar 2016 lalu, dengan 16 medali emas, target minimal,” ujar Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY, Djoko Pekik Irianto.

8. NTB siapkan tim bayangan persiapan tuan rumah PON 2028, Lampung dan Banten bidik 2032

Sekretaris Daerah Provinsi NTB Lalu Gita Ariadi mengatakan, ada persiapan khusus dilakukan NTB di PON Aceh-Sumut 2024. Itu karena, akan ada penyerahan bendera sebagai tuan rumah PON 2028. Para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov NTB juga akan ikut memantau persiapan yang dilakukan Aceh dan Sumut.
"Kepala OPD sambil belajar juga untuk tahu apa yang akan dikerjakan empat tahun yang akan datang. Semua yang terlibat empat tahun yang akan datang, dari awal kita ikut sertakan untuk pemanasan," kata Eks Pj Gubernur NTB ini.
Tujuannya, supaya OPD terkait benar-benar mempersiapkan sejak awal apa saja yang dilakukan untuk menyongsong PON NTB-NTT 2028. Sehingga, pelaksanaan PON 2028 mendapatkan tri sukses. Yaitu, sukses prestasi, sukses penyelenggaraan dan sukses menggeliatkanekonomi."Tim empat tahun yang akan datang tim bayangan kita persiapkan sebaik-baiknya," tandas Gita.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dan Banten menyatakan keseriusan bakal menjadi tuan rumah bersama pelaksanaan ajang Pekan Olah Raga (PON) XXIII 2032 mendatang. Pemerintah provinsi bersama jajaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di dua daerah tersebut telah menggelar rapat bersama melalui virtual, Selasa (6/8/2024).
"Ini adalah kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali dan kami ingin mengajak Provinsi Banten untuk bersama-sama dalam rangka mempersiapkan PON 2032," ujar Pj Gubernur Lampung, Samsudin, Rabu (7/8/2024).
Menurut Samsudin, PON ini tidak hanya mempertandingkan cabang-cabang olahraga prestasi, namun lebih dari itu memiliki efek sangat luar biasa bagi masyarakat dan perekonomian daerah. "Infrastruktur tinggal berjalan menuju persiapan, nanti kita tinggal sedikit-sedikit dibenahi tapi kalau dari jumlah lapangannya sudah cukup," katanya.
Sebagai langkah awal, dirinya juga akan menyampaikan kesiapan Lampung-Banten sebagai tuan rumah PON 2032 ini kepada Menpora Dito Ariotedjo pada PON Aceh-Sumut 2024. "Nanti saya sampaikan ke Menpora, bahwa kami berdua sudah kompak untuk menjadi tuan rumah PON 2032," kata pria merupakan Staf Ahli Bidang Hukum Olahraga Kemenpora tersebut.
Meski dirinya nanti tidak lagi menjabat sebagai Pj Gubernur, Samsudin akan terus membantu dari pusat untuk persiapan hingga tiba pelaksanaan PON 2032, serta menitipkan komitmen ini kepada gubernur terpilih nantinya.
Dalam keterangan resminya, Pj Gubernur Banten Al Muktabar menyampaikan terima kasih atas inisiasi Pj Gubernur Lampung Samsudin menjadikan Banten bersama Lampung sebagai tuan rumah PON 2032. "Kita berterimakasih sekali atas inisiasi pak Pj Gubernur Lampung, untuk kita bisa bersama menjadi tuan rumah PON 2032. Tentu ini akan sangat baik bagi Lampung dan Banten," tandasnya.
Tim penulis: Tama Yudha Wiguna, Hamdani, Anggun Puspitoningrum, Azzis Zulkhairil, Muhammad Nasir, Herlambang Jati Kusumo, Khaerul Anwar, Feny Maulia Agustin, Doni Hermawan, Prayugo Utomo, Arifin Al Alimudi dan Ardiansyah Fajar.



















