Ilustrasi keluarga sehat, bahagia dan panjang umur (pexels.com/RDNE Stock project)
Pada awal hubungan, keinginan menghabiskan banyak waktu bersama pasangan merupakan hal yang lumrah. Keduanya mungkin sedang menikmati kedekatan dan ingin mengenal satu sama lain lebih dalam.
Namun, kamu perlu waspada jika pasangan mulai membuatmu merasa bersalah setiap kali bertemu teman atau keluarga. Ia mungkin mengatakan orang-orang terdekatmu memberikan pengaruh buruk, tidak memahami hubungan kalian, atau sengaja ingin memisahkan kalian.
Dalam situasi tertentu, ia bahkan bisa meminta kamu mengurangi komunikasi dengan orang-orang tersebut. Jika perilaku ini membuat lingkaran sosialmu semakin sempit, kamu berisiko kehilangan dukungan dari orang-orang yang sebenarnya bisa membantumu melihat hubungan secara lebih jernih.
Pasangan boleh menyampaikan ketidaknyamanan terhadap seseorang, tetapi seharusnya tidak memaksamu memutus hubungan dengan semua orang yang penting dalam hidupmu. Memiliki pasangan tidak berarti harus kehilangan kehidupan pribadi. Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menjaga pertemanan, keluarga, dan identitas masing-masing.
Mencintai seseorang memang membutuhkan kesabaran, kompromi, dan kesediaan untuk menerima kekurangan. Namun, bukan berarti semua perilaku pasangan harus dimaklumi atas nama cinta.
Kontrol berlebihan, manipulasi rasa bersalah, kecemburuan yang tidak sehat, janji perubahan tanpa tindakan, pengabaian kebutuhan, hingga upaya menjauhkanmu dari orang terdekat merupakan perilaku yang perlu diperhatikan, terutama jika terjadi berulang kali.
Ingat, cinta yang sehat tidak menuntutmu mengorbankan harga diri demi mempertahankan seseorang. Kamu berhak berada dalam hubungan yang memberimu ruang untuk bertumbuh, menyampaikan perasaan, dan tetap menjadi diri sendiri.