[WANSUS] Kisah Mahasiswi Lampung Dievakuasi dari Konflik Perang Sudan
![[WANSUS] Kisah Mahasiswi Lampung Dievakuasi dari Konflik Perang Sudan](https://image.idntimes.com/post/20230502/img-20230501-wa0117-260584c8445740bee4cd83b67e07b6b3.jpg)
Bandar Lampung, IDN Times - Dentuman ledakan, desingan peluru baku tembak, hingga lalu lalang pesawat tempur masih belum lekang dari ingatan Mufida Istiqomah, warga Dusun Muhajirun, Kelurahan Negararatu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Mufi, sapaan akrabnya, merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) sekaligus mahasiswi sedang menempuh pendidikan di International University of Africa (IUA). Ia salah satu warga Provinsi Lampung berhasil dievakuasi dari tengah peperangan konflik bersenjata di Negara Sudan.
"Suara ledakan dan baku tembak sering terjadi, lalu lalang pesawat tempur, drone pengintai, dan mobil-mobil perang terus berseliweran di sekitar kawasan kampus kami maupun pemukiman WNI," ujarnya kepada IDN Times, Selasa (2/5/2023).
1. Insiden peperangan bermula dan pecah tepat di belakang asrama mahasiswi IUA

Dikisahkan Mufi, selama hampir 5 tahun menetap dan menuntut ilmu di salah satu negara terletak di belahan Benua Afrika tersebut. Menurutnya, konflik peperangan di Sudan kali ini merupakan peristiwa bersenjata paling mencekam.
Insiden peperangan ini bermula dan pecah tepat di belakang asrama mahasiswi IUA mulai, Sabtu (15/4/2023) sekitar pukul 09.15 WIB waktu setempat dan kabar itu diterima dan dikonfirmasi pertama kali sekitar memasuki pukul 09.23.
"Kami pelajar Indonesia di Sudan telah menerima kabar, bahwa adanya peperangan antara Militer Sudan dengan Paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Hal ini kemudian dikonfirmasi dengan menghubungi KBRI Khartoum sebagai Perwakilan RI di Sudan," terangnya.
2. Dentuman ledakan senjata terdengar jelas

Sejak saat itu, digambarkan Mufi, dentuman demi dentuman akibat ledakan senjata terdengar sangat jelas dan kian memanas. Alhasil, pihak kampus langsung mengevakuasi seluruh mahasiswi IUA berada di asrama menuju Aula Muktamarot, kawasan Rektorat IUA.
Waktu berlalu pagi hingga malam, peperangan pun terus berkecamuk dan meluas. Peristiwa ini tidak hanya di dekat asrama mahasiswi, melainkan juga berlangsung menyeluruh ke penjuru hingga sudut Negara Sudan.
"Kondisi ini sangat dirasakan oleh para pelajar, karena markas militer dan markas RSF berada tidak jauh dari kawasan kampus IUA dan pemukiman WNI sendiri," kata Mufi.
Akibatnya, terhitung sejak 5 hari awal perang pecah, keadaan Negara Sudan juga belum terlihat membaik. Bahkan asrama mahasiswa IUA berada dalam kepungan RSF dan ditetapkan sebagai zona merah.
"Iya, keadaan semakin hari makin mencekam. Apalagi mayoritas WNI tinggal di Khartoum (Ibu Kota Sudan) dan disini titik konflik terbesar," sambung Mufi.
3. Kebutuhan logistik naik dan langka

Akibat konflik bersenjata kian berkecamuk, dikatakan Mufi kebutuhan logistik atau sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari kian sulit diperoleh. Harga kebutuhan logistik maupun pokok berangsur naik dan relatif langka.
Beruntung, sejak hari pertama konflik pecah, telah dibentuk tim relawan di bawah pengawasan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Khartoum diinisiasi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Sudan, Ikatan Mahasiswa Indonesia International University of Africa (IMI IUA), dan elemen masyarakat lainnya.
"Tim relawan ini membuka donasi untuk membantu melengkapi kebutuhan logistik seluruh pelajar Indonesia di Sudan, dan juga menyalurkannya secara berkala hingga hari ini," ucap dara tersebut.
4. Mahasiswa asal Lampung menuntut ilmu di Sudan tercatat sebanyak 21 orang

Selama berada di Sudan dan menunggu proses evakuasi, Mufi menyampaikan, selama itu juga KBRI Khartoum sebagai perpanjangan tangan pemerintah Indonesia terus mengimbau dan memantau keadaan para WNI di Sudan.
Di samping itu, KBRI Khartoum juga telah menyediakan Safe House dan mengevakuasi ibu hamil juga balita ke aula Kantor KBRI Khartoum. Tercatat, sebanyak 21 mahasiswa mahasiswi asal Lampung sedang menempuh pendidikan di Sudan.
"Alhamdulillah, para WNI saat ini beransur telah dilakukan upaya evakuasi, termasuk mahasiswa khususnya yang tinggal di asrama IUA ke tempat yang lebih aman dan dipulangkan menuju Tanah Air," kata Mufi.
5. Medan proses evakuasi tidak mudah dan WNI di Sudan cukup banyak

Memasuki hari kesembilan konflik tepatnya Minggu, 23 April 2023, dikatakan Mufi, sebagian besar WNI khususnya perempuan sudah mulai dievakuasi ke Port Sudan, selanjutnya dibawa ke Jeddah via jalur laut dan hingga hari ini sudah ada 4 kloter terbang ke Indonesia.
Ia pun amat berharap, pemerintah RI dapat cepat mengupayakan proses evakuasi, guna keselamatan para WNI masih berada di Negara Sudan.
"Proses evakuasi ini memang tidak mudah. Apalagi jumlah WNI di sana (Sudan) yang cukup banyak, tapi menurut saya pemerintah sukses dalam menjalankan misi ini. Alhamdulillah," tandas Mufi.



















