Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Drone AI Kumbang Unila Penyelamat Buah Kopi Tanggamus dari Hama
ilustrasi drone (unsplash.com/Jason Mavrommatis)
  • Lima mahasiswa Unila menciptakan drone biomimetik berbentuk kumbang berbasis AI untuk mendeteksi hama dan penyakit kopi secara real-time, membantu petani Tanggamus mengatasi kerugian panen akibat PBKo dan karat daun.
  • Drone ini menggunakan teknologi YOLOv8, ResNet, dan sistem IoT yang memungkinkan pemantauan cepat hanya dalam 15 menit, menggantikan inspeksi manual berhari-hari dengan biaya produksi sekitar Rp6–8 juta per unit.
  • Hasil uji lapangan di Ulubelu menunjukkan peningkatan efisiensi, pengurangan pestisida berlebih, serta produktivitas kebun yang lebih tinggi; petani menyebut inovasi ini sebagai solusi nyata penyelamat hasil panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tanggamus, IDN Times - Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan penyakit karat daun selama ini menjadi momok menakutkan mampu melenyapkan hingga 50 persen hasil panen kopi di Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Menjawab persoalan krusial tersebut, lima mahasiswa lintas disiplin Universitas Lampung (Unila) menciptakan terobosan pesawat nirawak (drone) biomimetik berdesain kumbang berbasis kecerdasan buatan (AI). Drone itu diklaimmampu mendeteksi ancaman tanaman secara real-time dan presisi.

Inovasi yang lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) Unila 2026 ini diinisiasi Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi selaku ketua, bersama Ariq Hazel, Gita Rahmania, Bayu Dwi Setiawan, dan Elfi Nuraini Maridah.

1. Mengadopsi bentuk fisik kumbang

ilustrasi kumbang tanah (pixabay.com/Kathy Büscher)

Dibimbing dosen Aryanto, proposal inovatif mereka yang bertajuk “Inovasi Pesawat Nirawak Agen Cerdas Berdesain Kumbang sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas Kopi bagi Petani Rakyat dan Industri Berkelanjutan di Indonesia” sukses mengamankan pendanaan dari Kemendiktisaintek.

Berbeda dengan drone komersial berukuran besar, inovasi mahasiswa Unila ini mengadopsi bentuk fisik kumbang. Desain biomimetik ini dirancang khusus agar drone mampu bermanuver lincah menyelinap di bawah kanopi tanaman kopi yang rapat, area sempit dan rendah yang mustahil dijangkau oleh drone biasa pada umumnya.

Didukung sistem AI berbasis teknologi YOLOv8 dan ResNet serta kamera ESP32-CAM, drone ini bertindak sebagai pemindai otomatis yang mendeteksi dini penyakit dan langsung mengirimkan peta lokasi serangan hama secara presisi ke dashboard monitoring melalui sistem IoT.

2. Dampak paling signifikan langsung dirasakan petani efisiensi waktu

ilustrasi jam weker (pexels.com/Acharaporn Kamornboonyarush)

Keunggulan radikal dari teknologi ini diakui langsung oleh sang ketua tim pengembang saat menjelaskan efisiensi nyata yang dibawa oleh drone kumbang ini di lapangan.

Rafidto mengatakan, dampak paling signifikan langsung dirasakan oleh petani adalah efisiensi waktu yang sangat drastis. Jika sebelumnya mereka harus berjalan kaki berhari-hari menerobos perbukitan terjal hanya untuk memeriksa kesehatan tanaman satu per satu secara manual, kini proses inspeksi tersebut tuntas hanya dalam sekitar 15 menit penerbangan drone kumbang.

Rafidto menambahkan, alat dengan komponen mutakhir seperti mikrokotroler Raspberry Pi Pico dan GPS Ublox M8N ini sengaja dirancang ekonomis, dengan biaya produksi hanya sekitar Rp6–8 juta per unit.

3. Ingin membuktikan perbedaan kondisi sebelum dan sesudah penggunaan drone

ilustrasi memanen buah kopi dengan cara dipetik (pexels.com/Michael Burrows)

Rafidto menjelaskan, melalui data uji lapangan ini, tim ingin membuktikan perbedaan kondisi sebelum dan sesudah penggunaan drone. Mulai dari percepatan deteksi, pengurangan penggunaan pestisida kimia yang berlebih, hingga peningkatan produktivitas kebun kopi secara nyata,” jelasnya.

Uji lapangan utama yang dilakukan di perkebunan kopi mitra di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, membuktikan inovasi Unila ini bukan sekadar prototipe laboratorium, melainkan solusi nyata yang menyentuh langsung hajat hidup para petani rakyat.

Meskipun dalam prosesnya tim menghadapi tantangan berat mulai dari mengintegrasikan berbagai sistem IoT dan multiagent dalam bodi drone yang relatif kecil hingga menjaga kestabilan komunikasi data secara real-time tim mahasiswa Unila optimis inovasi ini mampu berbicara banyak di level nasional.

Inovasi drone kumbang ini diharapkan dapat bersaing secara nasional dan lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2026. Selain itu, Unila menargetkan luaran riset ini dapat divalidasi penuh untuk kemudian dikembangkan menjadi produk massal yang siap diterapkan pada skala industri.

4. Petani bersyukur

Ilustrasi bersyukur (freepik.com/Wavebreak Media)

Sumardi (51), salah satu petani kopi mitra di Ulubelu yang terlibat langsung dalam evaluasi pengguna bersyukur hadirnya teknologi ini. “Bagi kami petani kecil, terlambat tahu ada hama berarti gagal panen, dan itu bisa membuat kami gagal bayar utang pupuk atau menyekolahkan anak.," ujarnya.

Ia menambahkan, selama ini petani pasrah apabil karat daun sudah menyebar luas di buah kopi. Kedatangan mahasiswa Unila membawa drone kumbang ini benar-benar seperti muzizat teknologi di ladang petani.

"Hanya dalam hitungan menit, kami bisa tahu persis pohon mana yang sakit untuk langsung diobati. Penggunaan pestisida jadi jauh lebih hemat dan hasil panen kami terselamatkan. Unila benar-benar hadir membawa solusi nyata bagi kami di bawah,” tutur Sumardi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article