Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Makanan Pedas Bisa Bikin Ketagihan?

Bandar Lampung
4 min read
Kenapa Makanan Pedas Bisa Bikin Ketagihan?
ilustrasi spicy food, makanan pedas (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Capsaicin dalam cabai mengaktifkan reseptor TRPV1, sehingga otak membaca sensasi panas meski makanan tidak bersuhu tinggi.

  • Tubuh dapat melepas endorfin saat menghadapi rasa tidak nyaman, sementara tantangan dan kepuasan psikologis membuat pengalaman makan pedas ingin diulang.

  • Kebiasaan meningkatkan toleransi pedas, tetapi konsumsi berlebihan dapat memicu sakit perut, mual, diare, atau memperburuk refluks asam pada sebagian orang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi sebagian orang, makan tanpa sambal terasa seperti ada sesuatu yang kurang. Bahkan, tidak sedikit yang sengaja mencari makanan dengan tingkat kepedasan tinggi hanya untuk merasakan sensasi terbakar di lidah. Menariknya, meskipun membuat mulut terasa panas dan berkeringat, makanan pedas justru sering membuat seseorang ingin terus memakannya.

Fenomena ini cukup unik karena rasa pedas sebenarnya bukan termasuk rasa dasar seperti manis, asin, asam, pahit, dan umami. Sensasi pedas muncul akibat respons sistem saraf terhadap senyawa capsaicin yang banyak ditemukan dalam cabai.

Mengapa makanan pedas bisa membuat seseorang ketagihan? Ternyata, ada beberapa penjelasan menarik dari sisi tubuh dan psikologi. Berikut ulasannya!

  1. 1. Capsaicin memicu respons panas pada tubuh

    Sekumpulan cabai merah segar yang ditumpuk di atas meja kayu.
    Cabai merah, sumber senyawa capsaicin yang memicu sensasi panas di mulut (Pexels.com/ Jana Ohajdova)

    Salah satu alasan utama makanan pedas terasa begitu menarik adalah kandungan capsaicin di dalam cabai. Senyawa ini berinteraksi dengan reseptor TRPV1 berfungsi mendeteksi panas dan rangsangan tertentu pada tubuh.

    Ketika capsaicin mengenai reseptor tersebut, otak menerima sinyal seolah-olah mulut sedang mengalami paparan panas. Itulah sebabnya lidah terasa terbakar meskipun makanan yang dikonsumsi sebenarnya tidak bersuhu tinggi.

    Respons ini membuat pengalaman makan terasa berbeda dibandingkan makanan biasa. Bagi orang yang menyukai sensasi pedas, rangsangan tersebut justru menjadi bagian yang dicari setiap kali menikmati makanan.

  2. 2. Tubuh melepaskan endorfin untuk merespons rasa tidak nyaman

    hormon endorfin itu baik (pexels.com/Julia Avamotive)
    hormon endorfin itu baik (pexels.com/Julia Avamotive)

    Saat mengonsumsi makanan yang sangat pedas, tubuh dapat merespons sensasi panas dan tidak nyaman dengan melepaskan endorfin.

    Endorfin merupakan zat kimia alami yang diproduksi tubuh dan berperan dalam membantu mengurangi persepsi rasa sakit. Pelepasannya juga dapat berkaitan dengan munculnya perasaan nyaman atau suasana hati yang lebih baik.

    Inilah salah satu alasan sebagian orang merasa puas setelah berhasil menghabiskan makanan superpedas. Sensasi yang awalnya menyiksa bisa berubah menjadi pengalaman menyenangkan setelah tubuh merespons rangsangan tersebut.

    Namun, bukan berarti makanan pedas secara otomatis membuat tubuh menghasilkan endorfin dalam jumlah besar atau menimbulkan kecanduan seperti zat adiktif.

  3. 3. Sensasi pedas memberikan tantangan tersendiri

    Ilustrasi Makanan Pedas
    Ilustrasi Makanan Pedas (pixabay.com/XD3ARTExtra)

    Bagi sebagian pencinta cabai, makan pedas bukan sekadar urusan rasa, melainkan juga tantangan. Mereka sering penasaran untuk mencoba tingkat kepedasan yang lebih tinggi, terutama ketika melihat orang lain mampu menghabiskan makanan dengan banyak cabai.

    Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil melewati sensasi panas yang muncul selama makan. Pengalaman tersebut bisa membuat seseorang ingin mengulanginya di kesempatan berikutnya.

    Hal ini juga berkaitan dengan faktor psikologis. Rasa penasaran, keinginan menguji kemampuan diri, dan kepuasan setelah menyelesaikan tantangan dapat membuat pengalaman makan pedas terasa lebih menarik.

    Tidak heran jika berbagai menu dengan level kepedasan tertentu sering menjadi daya tarik di kalangan pencinta kuliner.

  4. 4. Kebiasaan mengonsumsi cabai membuat toleransi meningkat

    makanan pedas
    Pexels/Laker (makanan pedas)

    Pernah merasa sambal yang dulu sangat pedas sekarang justru terasa biasa saja? Kondisi ini bisa terjadi karena tubuh mulai terbiasa dengan paparan capsaicin.

    Orang yang sering mengonsumsi makanan pedas dapat mengalami perubahan respons terhadap sensasi tersebut. Paparan berulang bisa membuat sensitivitas terhadap rangsangan capsaicin berkurang sehingga tingkat kepedasan yang sama tidak lagi terasa sekuat sebelumnya.

    Akibatnya, sebagian orang mulai menambahkan lebih banyak sambal atau mencari cabai dengan tingkat kepedasan lebih tinggi untuk mendapatkan sensasi yang sama. Meski begitu, toleransi terhadap rasa pedas setiap orang berbeda-beda. Faktor genetik, kebiasaan makan, dan sensitivitas individu turut memengaruhi pengalaman tersebut.

  5. 5. Rasa pedas membuat makanan terasa lebih menggugah selera

    ilustrasi makan makanan pedas
    ilustrasi makan makanan pedas (pexels.com/Israyosoy S)

    Makanan pedas sering dikombinasikan dengan berbagai bumbu seperti bawang putih, bawang merah, tomat, jeruk nipis, dan rempah-rempah lainnya. Perpaduan tersebut menciptakan cita rasa yang kompleks sehingga makanan terasa lebih nikmat.

    Selain itu, capsaicin dapat memengaruhi persepsi terhadap makanan. Sensasi hangat dan rangsangan pada mulut memberikan pengalaman makan yang berbeda.

    Bagi sebagian orang, sambal bahkan menjadi pelengkap wajib karena membuat makanan sederhana seperti nasi, telur, ayam goreng, atau mi terasa lebih menggugah selera.

    Dengan demikian, keinginan mengonsumsi makanan pedas tidak selalu disebabkan oleh capsaicin saja. Kombinasi rasa, aroma, kebiasaan, dan pengalaman makan juga memiliki peran penting.

  6. 6. Apakah sering makan pedas berbahaya bagi kesehatan?

    Potret makanan pedas
    Potret makanan pedas (pexels.com/@1433506698)

    Makanan pedas pada dasarnya boleh dikonsumsi selama jumlahnya sesuai dengan toleransi tubuh masing-masing. Namun, terlalu banyak mengonsumsi cabai dapat menimbulkan sejumlah keluhan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap capsaicin.

    Beberapa efek yang mungkin muncul antara lain sensasi terbakar pada mulut, sakit perut, mual, hingga diare. Makanan pedas juga dapat memperburuk gejala refluks asam atau heartburn pada sebagian orang.

    Karena itu, penting untuk mengenali batas toleransi tubuh. Jangan memaksakan diri mengikuti tantangan makanan superpedas hanya demi mendapatkan sensasi tertentu.

    Jika setelah makan pedas kamu mengalami keluhan berulang, sebaiknya kurangi konsumsinya dan perhatikan jenis makanan yang menjadi pemicunya.

    Makanan pedas bisa membuat seseorang ingin terus mengonsumsinya karena melibatkan kombinasi respons tubuh, faktor psikologis, kebiasaan, dan pengalaman rasa. Capsaicin memberikan sensasi panas yang unik, sementara respons alami tubuh dan kepuasan setelah mengonsumsi makanan pedas dapat membuat pengalaman tersebut terasa menyenangkan.

    Jadi, meskipun sering disebut bikin ketagihan, menyukai makanan pedas tidak sama dengan mengalami kecanduan secara medis. Selama dikonsumsi secara wajar dan tidak menimbulkan keluhan, kamu tetap bisa menikmati sensasi pedas sebagai bagian dari pengalaman kuliner.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More