Minim Taktik, PSSI Lampung Minta Bhayangkara FC Evaluasi Paul Munster

- Gol banyak bergantung bola mati, menunjukkan keterbatasan skema serangan Bhayangkara Presisi Lampung FC.
- Pergantian pemain dinilai kurang tepat, berdampak pada hasil pertandingan yang diraih tim.
- Evaluasi menyeluruh di paruh kompetisi penting untuk mencapai target tim di sisa musim.
Bandar Lampung, IDN Times – Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Lampung menyoroti performa Bhayangkara Presisi Lampung FC selama paruh pertama kompetisi.
Sorotan utama diarahkan pada pola permainan dan strategi yang diterapkan pelatih kepala Paul Munster, yang dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Wakil Ketua Asprov PSSI Lampung Yoga Swara menilai gaya bermain Bhayangkara Presisi Lampung FC cenderung monoton dan membosankan, sehingga mudah dibaca lawan. Pola serangan menurutnya minim variasi dan kurang mampu memaksimalkan potensi pemain di lini depan.
“Permainan Bhayangkara sejauh ini terlihat monoton. Pola serangannya itu-itu saja, sehingga tidak memberikan kejutan bagi lawan,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (24/1/2026).
1. Gol banyak bergantung bola mati

Selain pola permainan, Yoga menyoroti produktivitas gol tim berjuluk The Guardians of Saburai yang dinilai minim dan terlalu bergantung pada situasi bola mati. Menurutnya, ketergantungan ini menjadi indikator kurang optimalnya skema permainan yang dibangun dari lini belakang hingga depan.
“Kalau kita perhatikan, banyak gol Bhayangkara justru lahir dari set piece sepakan pojok, bukan dari skema open play yang matang. Ini menunjukkan kreativitas serangan masih sangat terbatas,” ujarnya.
2. Pergantian pemain dinilai kerap tak tepat

Sorotan lain ditujukan pada keputusan Paul Munster dalam melakukan pergantian pemain. Yoga menilai beberapa pergantian justru dilakukan di momen yang kurang tepat dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap perubahan permainan tim.
Kondisi tersebut dinilai turut berpengaruh terhadap hasil pertandingan yang diraih Bhayangkara Presisi Lampung FC di sejumlah laga krusial.
Terbaru, Yoga juga menyoroti pergantian pemain saat Bhayangkara Presisi Lampung FC bermain dengan Persita Tangerang 1-1 di pekan ke-18 Super League Indonesia 2025/2026.
“Pergantian pemain sering terlambat atau tidak sesuai kebutuhan pertandingan. Dalam beberapa laga, momentum yang seharusnya bisa dimanfaatkan justru hilang,” ungkapnya.
3. Evaluasi menyeluruh di paruh kompetisi

Yoga berharap manajemen dan tim pelatih Bhayangkara Presisi Lampung FC untuk melakukan evaluasi menyeluruh pada paruh kompetisi. Evaluasi dianggap penting agar target tim di sisa musim bisa tercapai.
Menurutnya evaluasi tersebut dapat menghasilkan perbaikan nyata sehingga Bhayangkara Presisi Lampung FC mampu tampil lebih atraktif, efektif, dan kompetitif di paruh kedua kompetisi.
“Paruh kompetisi adalah momentum yang tepat untuk evaluasi total, baik dari sisi strategi, pemilihan pemain, maupun pendekatan taktik. Jika tidak ada perubahan, kami khawatir performa tim akan stagnan,” tegasnya.
Ia juga mengulas kekalahan telak The Guardians of Saburai saat melawan PSBS Biak pada laga penutup putaran pertama dengan skor 4-1. "Waktu lawan Biak itu coba, semuanya kesulitan bermain tidak ada solusi dari pelatih. Di babak pertama kita sudah kecolongan empat gol dengan mudah," tuturnya.

















